22 Desember, Hari Byang

, , 3 comments
Ah... yang membuatku heran adalah ternyata ini sudah tanggal tua di bulan yang paling tua pula: 22 Desember, penghujung tahun 2013. Tahun ini tensinya tinggi, perputarannya cepat. "Tahu-tahu 2013 sudah mau berakhir aja," kutukku dalam hati.

Hari Ibu?
Kulirik media sosial yang terinstal ramai di handphone. Entah Twitter, Facebook, Path, sampai recent update di BBM kompak bersekongkol: mengingatkanku akan hari apa ini! Kulihat paras rupa ibu-ibu sahabatku, yang ramai mengucapkan selamat sembari mengganti foto profil mereka. Senyum aku dibuatnya, wajah mereka banyak yang mirip!

Ahh... ibuku! Byang apa kabarnya, ya?

Ia pasti sedang berjibaku di Pasar Negara, tempat ia menjajakan barang sejak sebelum dekade 90-an sampai..., entah sampai kapan nanti. Ia orang yang sederhana, terlampau sederhana. Ia takkan mengerti kenapa hari ini disebut Hari Ibu.

Kenapa pula tanggal 22 di bulan Desember disebut Hari Ibu?
Jawaban paling sah: ya karena tahun 1959 silam, Bung Karno mendekritkan begitu.



Tapi ibuku yang sederhana takkan peduli. Ia hanya peduli pada keluarganya. Kawanannya. 

Mungkin ia hanya membatin, "Berapa dagangan ini harus laku agar anak-anakku bisa membayar SPP di TK Kristen paling mahal di Kabupaten Jembrana." Ia percaya pada Aji yang memegang teguh prinsip: bahwa pendidikan adalah pembebasan! Bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan terbaik.
"... dan untuk anak sekolah, pasti ada rejeki!" Kata Aji, itu mantra  dari Zainuddin MZ yang senantiasa menguatkan dirinya.

Byang ku takkan peduli pada seremoni Hari Ibu ini.

Ia hanya peduli pada: berapa dagangannya harus laku agar biaya semesteran anak sulungnya di Fakultas Kedokteran dan biaya hidup putra kesayangannya di STAN Bintaro bisa terpenuhi. Itulah yang kadang membuat hatiku ngilu saat menyantap dada ayam lalapan skala besar, sendirian dekat kampus. Sementara di rumah sana mereka takkan pernah egois makan dada ayam sendiri, seperti yang tengah kulakukan.

Hari Ibu hanya satu hari biasa buat Byang.

Anak-anak parasit penggerogot tubuh inang ini sudah bisa mandiri, menghasilkan uang sendiri. Sepertinya ia masih saja tak peduli. Kini yang ia pedulikan hanyalah kapan anak perempuannya yang baru nikah itu berkunjung pulang. Sekadar diukur tensi saja Byang akan cukup senang. Atau kapan anak lelaki jagoannya pulang berlibur dari Kupang. Bukan untuk apa-apa, sekedar ia buatkan rujak ataupun belikan sate Men Yasa yang anak itu gemari sejak masih 7 tahunan. 

Anaknya lahap makan adalah pemandangan yang lebih berharga buat Byang dibandingkan Israel akur berdamai dengan Hamas. Byang tak peduli pada geopolitik dan perdamaian dunia. Ia peduli pada perut anaknya yang bandel-bandel.

Hari Ibu...

Akan ku telepon Byang. Meski ia akan selalu mengulang pertanyaan yang sama, "Bo ngajeng De?" Sudahkah kau makan, De? Mungkin ia tak tahu harus bertanya apa di telepon. Mungkin banyak yang ingin ia katakan, tapi hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Mungkin juga hanya itu lah yang mengganjal di hatinya. Sebuah pertanyaan, "Sudah makankah anakku di sana? Aku tak bisa memastikannya karena kami begitu jauh. Aku tak kuasa mengisi nasi di piringnya. Seperti biasa."

Ah Byang... 
Aku juga bingung.

Mengapa aku menulis semua ini di blog. 

Lagi pula engkau takkan pernah membuka browser dan membaca tulisan ini. Pertama, kau tak peduli benda apa pula itu browser. Kedua, yang kau pedulikan adalah berapa lakunya barang dagangan ini, agar bisa jadi roket pendorong anak-anakmu agar bisa sampai di tujuan hidupnya.

Selalu sehat kau disana... Byang! :)

3 komentar:

Tinggalkan komentar sebagai name/url, dan tulis namamu di sana...