Seru juga mungkin ya, mengabadikan lagu yang sedang didengar.


Setiap orang pasti punya lagu kesayangan di tiap masanya. "Apa lagu terapimu, Cak?" begitu seringkali tanyaku pada seorang sahabat, saat kami tengah dinas berdua di kabupaten sebelah. Dari pada planga-plongo dan ghibah di kamar hotel.


Lagu sering seperti sahabat. Ada kalanya di suatu masa, aku selalu bersama sebuah lagu. Heavy rotation! Diputar terus, tanpa henti sejak bangun pagi di speaker bluetooth, nyantol di True Wireless Earphone sembari berangkat kerja, hingga dinikmati di ujung malam sembari memejam mata.


Tapi ya gitu. Tak ada yang abadi. Segemar-gemarnya akan sebuah tembang, ia akan sirna juga. Perlahan memudar. Akan datang kali terakhir kita memutarnya, dan tak memutarnya lagi.


Lama, sampai waktu mempertemukannya kembali dengan tidak sengaja. Seperti lagu ini.



Judulnya High, dari Lighthouse Family. Terbit di tahun 1997 silam. Whoa....


Iramanya mengingatkan pada Dancing in The Moonlight by Toploader. Disko-disko ringan, sembari mengangguk-angguk minum tequila atau Coca-Cola, di sebuah pesta senja musim panas.


Aku sendiri lupa, di masa hidup tahun berapa akrab dengan lagu ini. Yang pasti di tahun 1997 aku baru mulai mengenyam bangku SD.


Yang pasti, beat-nya yang membuat semangat, liriknya yang hangat, serta nuansa lagunya yang ceria membuatku tak tahan untuk berdiam. Ingin bergerak, berdansa, mengikuti reff-nya.

* * *


Beberapa lagu datang dan pergi.

Beberapa lagu pergi, namun saat kembali, membuat senyum tak henti-henti.

Entah mengapa lebih suka versi ini.

Mungkin karena di depan para mahasiswa ini, Adhitya tak hanya pemain gitar kopong. Ada ragam instrumen lain. Lebih hidup, lebih ramai.

Di video ini, sang pencipta lagu menyapa ramah pendengarnya. Kemudian ia memulai dengan petikan sendu, lalu drum dan hentakan bass ikut masuk meramaikan. 

Mengalir dan menyenangkan.

Sang penyanyi memejam. Sepanjang lagu bersenang-senang. 

Silakan nikmati!


Sudah ditonton?

Jangan lanjut kalau belum...



Sesuatu di Jogja
Versi Live, by Adhitya Sofyan

Hey cantik, coba kau catat
Keretaku tiba pukul empat sore
Tak usah kau tanya aku ceritakan nanti
Hey cantik, kemana saja?
Tak ada berita, sedikit cerita
Tak kubaca lagi pesan di ujung malam

Dan Jakarta muram kehilanganmu
Terang lampu kota tak lagi sama
Sudah saatnya kau tengok puing yang tertinggal
Sampai kapan akan selalu berlari?
Hingga kini masih selalu ku nanti-nanti

Reff:
Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja
Dengar lagu lama ini katanya
Izinkan aku pulang ke kotamu
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Hey cantik, bawa aku jalan
Jalan kaki saja menyusuri kota
Ceritakan semua ceritamu padaku

Ya, Jakarta diam kehilanganmu
Bau wangi hujan tak lagi sama
Sudah saatnya kau jemput musik yang tertinggal
Sampai kapan aku 'kan bernyanyi sendiri?
Hingga kini masih selalu menanti-nanti

back to reff

Ingat waktu itu ku bertanya
Aku mau dengar jawabnya

back to reff

Mendengar lagu ini, membuatku menghayal liar.

Maksud si lagu sebenarnya apa?

Bagaimana kalau, ternyata yang dimaksud "Jakarta" adalah sang penulis, sementara "Jogja" adalah seorang kekasih yang dirindukan.

Coba saja.
Dan Jakarta muram kehilanganmu
Terang lampu kota tak lagi sama 
Begitulah perasaanku jika misal rindu pada suatu sosok. Muram. Apalagi kalau kehilangan, ya. Jelas aku akan terdiam, karena terang lampu kota, bau wangi hujan takkan sama lagi rasanya.

Lalu anganku akan ingat kenangan nyamannya sang dia. Betapa menyenangkan saat jalan-jalan di tempat asing bersama, menikmati sekadar wangi hujan atau lampu kota.

Dengan orang terkasih, tentunya. Sayang itu dulu.

Kini, yang terbawa ke sana hanyalah angannya. Sang penulis lagu pun bingung, entah apa yang istimewa pada gadis itu. Rasa apa yg begitu nyaman dulu, sampai kini ia rindu.

"...sampai kapan aku kan bernanyi sendirian..."

Mungkin hatinya yang rindu, berbisik:

Ku percaya, selalu ada sesuatu di Jogja dirinya...
... ijinkan aku pulang ke kotamu pelukmu

Yah,
Tiap orang bebas mengintepretasikan sebuah karya seni, seenak udel --dan hatinya.



 Januari 2021
dan pagi ini rintik-rintik