Hari ini masih pagi. 

Tapi esok hari Nyepi.


Istri dan iparku tengah bercakap. Berdiskusi. Tepatnya berusaha memahami sebuah surat. Seru banget! Tiap menjelang Nyepi, selalu muncul panduan ritual tahunan. Bentuknya edaran file .pdf, berisi instruksi perihal tata cara ritual, jenis banten, hingga mantranya. Lengkap! Ber-kop resmi desa atau otoritas adat lain, tentu dengan predikat di chat Whatsapp yang membuatnya makin kredibel: forwarded many times!


"Banten byekawon dulu, Mbok... baru mecaru..." ujar iparku, sembari komat-kamit membaca file ,pdf di layar iPhone-nya.


Istriku manggut-manggut, "oh iya, memang diawali bersih-bersih dulu gitu nggak sih? Kan byekawon itu pembersihan."


"Iya sih kayaknya... ikutin panduan di surat tadi aja deh Mbok..."


Begitu kira-kira cuplikan percakapan mereka. 


Berhubung ritual bukalah my field of experties, aku memilih melipir, menonton Gustu (adik istriku) yang kewalahan mencetak stiker pesanan. Sembari melihat asap dupa yang membumbung harum, untaian janur yang semarak, ahh... sehari sebelum Nyepi memang selalu berbeda. Magis. 


Tak hanya di dunia nyata, medsos juga sejak beberapa tahun terakhir diwarnai dengan "apa kisah kali ini di ogoh-ogoh Banjar Tainsiat?" Seru. Nyepi banget!


Nyepi ya... 

Hari raya unik di Bali. Saat seluruh dunia merayakan tahun baru dengan ingar-bingar, Bali malah sebaliknya: melarang ada api, kesenangan party, bepergian, dan bekerja. Ngapain donk? Yha ndak ada. Merenung aja.


Sisi lainnya, Nyepi bak kado kecil untuk bumi. Di dunia kapitalistik yang menuhankan pertumbuhan, kado ini amat langka: istirahatkan segala mesin peradaban. Sehari penuh, demi bumi. 


Indah memang. Tapi buatku, Nyepi selalu mengingatkanku pada Niang. Itu adalah panggilan untuk nenek kesayanganku, berhubung aku memang tak punya kesempatan mengenal kakek-nenek kandung lain, selain Beliau. Darinya, aku mendapat sepenggal kecil kisah perihal Nyepi. Kisah saat Niang masih remaja. Tujuh puluh tahunan lalu...

*  *  *


Ada satu fragmen ingatan Niang yang selalu membuatku tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Di medio 1950-an, ketika republik ini masih bau kencur dan identitas keagamaan sedang giat-giatnya dipermak oleh birokrasi, umat Hindu di Bali dikenalkan hal baru: ritual tidak melakukan apa-apa! Ritual dengan tidak melakukan ritual.


Bagaimana tidak?

Berhubung Republik Indonesia baru saja mengikrarkan diri sebagai negara dengan "Ketuhanan Yang Maha Esa", Bali perlu merumuskan (atau memutuskan) dirinya tergolong penghayat kepercayaan, atau agama, atau apa. Kan beda banget dengan Hindu India. Dengan mengategorikan diri sebagai Agama Hindu, muncul konsekuensi untuk memenuhi check-list ciri-ciri agama agar diakui di Indonesia yakni: punya kitab suci, pembawa pesan, doa harian (halooo Tri Sandya), dan tentu hari besar keagamaan.


Kata Niang, awal-awal kemerdekaan silam, Nyepi di Bali ternyata punya wajah yang jauh dari kata "hening".


"Dulu apa pengarahan, katanya ndak boleh nyakan (menanak nasi) di rumah. Ya jadinya warga desa masaknya di gang depan rumah," kisah Niang sambil terkekeh. 


Niang dengan Jungwah: cicitnya


Logika Niang dan handai taulan desa kala itu amat sederhana: Amati Geni, kan pantang menyalakan api di rumah. Tapi manusia Bali punya sejuta akal untuk bernegosiasi dengan semesta. Apalagi sekadar dengan ritus. Kalau di dapur dilarang, ya sudah, tungkunya kita gotong ke gang depan rumah! Maka terjadilah paradoks itu: rumah-rumah mencoba sunyi, namun di jalanan desa, asap mengepul. Terselip gelak tawa warga di depan arang kayu bakar yang masih berpendar.


Nakal? Mungkin. 

Lugu? Pastinya!


Tapi di sana aku melihat satu hal yang kian samar (kalau ndak mau dibilang memudar) dari pergaulan adat di Bali hari ini: fleksibilitas, sejak dalam pikiran.


Kita perlu jujur pada sejarah. 


Nyepi yang seragam dan dikondisikan sunyi total ini sebenarnya barang baru. Secara formal, ia digalakkan secara masif baru di awal republik berdiri. Para intelektual Hindu saat itu harus berjibaku meyakinkan Jakarta, bahwa Hindu Bali itu agama sah, bukan "kepercayaan" yang tak punya hari raya dan ciri-ciri agama resmi agar diakui di Indonesia. Sebuah perjuangan yang berat, mengingat Hindu di India begitu berbeda dengan Bali. Standardisasi pun dilakukan, protokol disusun, dan tiba-tiba ritual yang tadinya sangat local genius di tiap desa, harus dipampang dalam satu aturan main yang pakem.


Semua itu buah karya cipta, rasa, dan karsa manusia, berdasar sari pengetahuan agama, dipadu kearifan lokal yang telah mengakar.


Tak jauh beda dengan ogoh-ogoh, sebenarnya. 


Ogoh-ogoh jauh lebih muda dari Nyepi. Dia baru muncul nan populer di era 80-an sebagai bentuk ekspresi kreatif. Namun serunya, tradisi yang "lahir muda" itu kini terkesan jadi pilarnya hari Nyepi. Pokoknya Nyepi harus ada ogoh-ogoh, baru kerasa! Lihat saja, hiruk-pikuk saling sindir perkara kehadiran pemuda di balai banjar untuk gotong royong membuat ogoh-ogoh, tak pernah sepi mewarnai lini masa tiap menjelang Nyepi.


Kerennya mekanika robotik, tarian fragmen pementasan ogoh-ogoh, paparan media sosial hingga hadiah bergelimang, sering membuat kita seolah lupa bahwa tujuan asli ogoh-ogoh adalah simbol dimusnahkannya Bhuta Kala, perlambang sifat negatif yang bersemayam di hati kita. Sebaliknya, tak jarang adu gengsi, sindir-menyindir intra dan inter banjar dalam ritus Nyepi menjadi bahan bakar yang justru memantik sifat-sifat negatif. Sifat-sifat Bhuta Kala itu sendiri.


Paradox. Hmm...

*  *  *


Buatku, Hindu Bali itu, tak ubahnya organisme yang hidup. Ia tumbuh dan bernapas. Jika ia kaku seperti beton, sudah pasti ia patah, diterjang gelombang pariwisata sejak era 70-an. Tapi Bali bertahan justru karena sifatnya yang seperti bambu: melengkung mengikuti angin, dengan begitu ia tak mudah tumbang.


Bukankah tradisi adalah buah karya pikiran manusia melalui masyarakat? Seperti halnya selebaran ritual hingga ogoh-ogoh. 

Karya manusia, dengan cipta, rasa, dan karsa. 


Tradisi itu bukan barang museum yang dipajang di balik kaca dan tidak boleh disentuh. Saklek nan kaku. Tradisi itu seperti masakan Niang: bumbunya bisa berubah mengikuti musim, tapi rasa persaudaraannya tetap harus jadi bahan utama. Demi cinta kita pada tradisi Hindu Bali yang kaya, demi tetap hidupnya ia di generasi-generasi berikutnya.


Kenalkan esensinya, di balik ritusnya.

Wariskan apinya, bukan sekadar abunya.

*  *  *


Neil deGrasse Tyson, ilmuwan masyur nyentrik di dunia itu pernah berujar, 

"The day we stop exploring is the day we commit ourselves to live in a stagnant world, devoid of curiosity, empty of dreams. And that is the day a civilization begins to die."


Ia juga sering mengisahkan, bahwa ribuan peradaban telah hilang tergerus zaman. Megahnya masyarakat piramida Mesir, indahnya Yunani, bahkan gagahnya Majapahit dan Sriwijaya pun kalah oleh mantra sakti peradaban: perubahan.


"Peradaban Bali apa kabar?" gumamku dalam hati.


Masih banyak pertanyaan yang berputar, namun, ah... sudah pukul dua subuh.

Saatnya mematikan lampu-lampu rumah. Esok kan Nyepi.


Anyway... Nyepi tahun ini membuatku ingin memajang foto Niang. Agar abadi di blog ini, lah. Bila alam afterlife beneran layaknya film Coco, maka Niang takkan pernah sedih karena potret wajahnya abadi di dunia maya.


Selain itu, Nyepi tahun ini kok  mengingatkanku jua: agar merayakan Nyepi dengan kesadaran bahwa "diam" itu penting, tapi "luwes" itu jauh lebih menyelamatkan. 


Jangan sampai demi menjaga kesucian hari raya, kita malah kehilangan kemanusiaan kita yang paling mendasar: ruang untuk berdialog, mempertanyakan, berdialektik dengan zaman. Tentu dengan tanpa harus saling memicingkan mata curiga, apalagi meninggikan nada bicara. 



Buku ini judulnya serius amat: Pajak dan Pendanaan Peradaban Indonesia! 😐


Tapi segala yang berkisah tentang peradaban, macem Kartun Riwayat Peradaban-nya Larry Gonick sampai Sapiens-nya Harari, biasanya menggelitik. Menarik karena berkisah tentang perjalanan kita, umat manusia, yang awalnya cuma bisa melukisi gua purba hingga kini sukses membuat stasiun luar angkasa! Semua itu kisah tentang peradaban. Nah, buku ini mencoba melihat peradaban Indonesia dari sudut pandang pajak.


Tapi isinya --jujur, aku perlu mengumpulkan niat kuat untuk membaca buku tebal ini-- sebenarnya jauh dari sekadar hitung-hitungan tarif pajak. Ia juga bukan sekadar kumpulan pasal monoton nan njlimet, yang memberi beban di kelopak mata kala dibaca. 😴


Ini buku tentang mimpi. Juga refleksi. Tentang bagaimana pajak sujatinya adalah darah peradaban, meski sering dianggap musuh kebebasan. 


Oh iya! 

Dalam buku ini, penulis yakni Pak Gatot Subroto kekeuh memakai istilah "Pebayar Pajak", bukan "Pembayar Pajak", apalagi "Wajib Pajak". Menurutnya, istilah "Wajib Pajak" membuat makna jadi sempit, dan rakyat terkesan menjadi bawahannya penguasa. Ada sih haknya, namun tergerus istilah "Wajib Pajak" yang sudah kadung menjadi kop. Ndak heroik! Kalau "Pembayar Pajak", kesannya malah jadi pesuruh, orang suruhan yang diminta membayar pajak. Hanya bertugas membayar, bisa jadi tanpa tahu esensinya apa. 


Nah kalau "Pebayar Pajak" menurut penulis adalah padanan yang lebih klop. Sejalan dengan istilah Taxpayer di Amerika, atau Contribuyente di Spanyol. Sebuah predikat membanggakan, tanda ikut berkontribusi, penuh kesadaran membangun negeri. Harapannya? Agar pajak tak dipandang sebagai kewajiban tok, melainkan juga semangat gotong-royong demi majunya roda peradaban.


Dari definisi pokok saja, penulis sudah punya misi filosofis. Berniat menggugat, mengubah dan menggugah persepsi tentang orang yang membayar pajak.


Bagaimana dengan isi lainnya?


Tiap halaman buku ini membuat kita merasa, sang penulis punya harapan besar. Agar pajak dipersepsikan sebagai pendukung peradaban, bukan malah beban kuasa penjajah. Harapan itu mengingatkanku pada ujaran Oliver Wendell Holmes Jr, Hakim Asosiasi Pengadilan Tinggi Amerika Serikat dari 1902 sampai 1932. Kata-kata beliau konon tertulis di atas pintu masuk gedung Internal Revenue Service, Direktorat Jenderal Pajak-nya Amerika Serikat:

“Taxes are the price we pay for civilized society”

(foto ukiran di atas kukutip untuk tulisan enam tahun silam di sini.)


Pajak adalah harga yang kita tunaikan demi masyarakat nan beradab. Pembangunan yang merata bukan sekadar cita-cita kemerdekaan. Semua orang mendamba jalanan mulus hingga pelosok Papua, sekolah berfasilitas lengkap di desa terpencil NTT, atau vaksinasi gratis saat pandemi melanda. Pokoknya fasilitas itu biar ala-ala Nordik, lah.


Namun, mengadakan semua itu bukan sulap. Uangnya dari mana? Itu semua, kata penulis, bisa terjadi karena satu hal yang justru sering kita hindari: pajak.


Antara Ideal dan Realitas

Pak Gatot Subroto adalah birokrat yang tahu betul isi dapur Direktorat Jenderal Pajak. Ia tidak bicara pajak sebagai alat pemerasan negara. Saat membaca buku ini, aku sering terkesima. Kadang ia bagai orator sarekat kerja: getol menyuarakan keluh-kesah pegawai di DJP. Kritik tajamnya mulai dari proses bisnis lini terbawah, hingga struktur kuasa organisasi di pusat kepemimpinan. Sementara di halaman lain, ia begitu fasih berbagi pandangan perihal penentuan target, dan tax ratio, dua isu utama di level petinggi negara.


Paham betul di teknis, namun juga lihai berfilosofi pada hal strategis. Rasanya, ia adalah orang yang bisa diajak diskusi perkara permen di loket pelayanan Atambua, hingga helicopter view arah kebijakan bangsa di Senayan. Bahkan di bagian akhir bukunya, penulis getol memperkenalkan konsep Semi-Autonomous Revenue Agencies (SARA). Konsep ini menurutnya akan membawa kebaikan bagi masa depan pajak. 


Bagiku, tingkat pemahaman penulis akan pajak di Indonesia menyiratkan dua hal: pertama, damn, ia sangat mengenal DJP. Luar-dalam! Kedua, betapa ia mencoba menggali masa lalu, peduli dan cermat pada masa kini, dan menaruh harapan besar pada masa depan pajak Indonesia. Cintanya pada pajak dan institusi pemungutnya tergambar gamblang, bukan cinta buta obsesif yang seringkali tidak objektif memberi puja-puji. Di atas semua itu, penulis bercerita tentang bagaimana pajak seharusnya bukan hanya menagih, tapi juga membangun kepercayaan.


Buku ini seperti menyodorkan cermin ke wajah kita: “urusan pajak itu bukan sekadar perkara memungut. Ia adalah penjaga peradaban!”


Tapi sayangnya, tidak semua wajah tahan bercermin. Tak semua sanggup mengakui kekurangannya sendiri.


Bukan Soal Pajaknya, Tapi Soal Rasa

Yang menarik: buku ini tidak melulu jatuh ke dalam perangkap teknokratisme. Ia bicara soal kepercayaan. Soal psikologi wajib pajak. Soal rasa keadilan. Bahwa bagi penulis, pajak itu bukan cuma urusan fiskal. Ia urusan relasi antara rakyat dan negara.


Kalau rakyat merasa negara hanya hadir saat menagih, maka jangan salahkan kalau kepatuhan jadi formalitas. 


Inilah mengapa buku ini berharga: karena ia membumikan pajak. Ia mengingatkan kita bahwa “duty to pay tax” seharusnya lahir dari rasa memiliki. Bukan sekadar karena takut diperiksa, atau demi sajian data yang rapi dan wangi.


Kritik Kecil: Terlalu Serius di Beberapa Titik

Namun, jangan berharap gaya buku ini seluwes tulisannya Chatib Basri di Kompas. Atau seceria esai Dahlan Iskan yang bisa bahas teknologi sambil menyelipkan cerita naik bus malam di Turki.


Beberapa bagian terasa seperti kuliah umum empat SKS, di jam terakhir sebelum rehat makan siang: berat, berulang, dan agak filosofis.


Misalnya, saat menjelaskan mengapa pajak itu penting bagi peradaban, pembaca awam mungkin mengharapkan kisah konkret, bukan kutipan teori fiskal dari tahun 1960-an.


Tapi, hey... ini kan buku DDTC, bukan novel politik ekonomi 😁. Sah-sah saja.


Buku ini seru dibaca untuk...

Orang-dalam DJP, konsultan, pemerhati pajak? Boleh jadi wajib baca.

Pembuat kebijakan, penentu arah negeri? Wajib menyelami.

Nah, Kalau warga biasa gemana? Buku ini akan tetap menarik, asal dalam hati pernah bertanya, “Kenapa sih pajak dan peradaban kita gini-gini aja?”


Buku ini tidak menawarkan semua jawaban. Tapi ia melemparkan pertanyaan-pertanyaan penting (yang sering kali nakal nan tajam). Setelah itu, ia memancing pertanyaan (kritis) lain di kepala pembacanya. Saat kita hidup di era AI yang serba instan, pertanyaan yang baik sering lebih berharga daripada jawaban yang cepat, bukan?

*  *  *


Epilog

Kita sering lupa: pajak bukanlah uang negara. Apalagi uang pribadi pejabat negara. Bukan. Pajak adalah redistribusi kekayaan, gotong-royong dari kantongnya kaum berpunya, mengulur mengurangi beban di pundak si miskin. Demi kesejahteraan bersama, pajak adalah uang rakyat yang dipercayakan ke negara. 


Dan kepercayaan, seperti halnya cinta, selayaknya tidak datang dari paksaan.


Buku Pajak dan Pendanaan Peradaban Indonesia --dengan cara yang kadang berat, tapi jujur-- menitipkan pesan: bahwa membangun peradaban dimulai dari bagaimana kita (petugas pengumpul dan rakyat) memperlakukan esensi dan institusi pajak: dengan adil, terbuka, dan manusiawi, atau justru sebaliknya?


Kalau pajak bisa membuat rakyat tak sendirian, dan merasa negara hadir saat dibutuhkan, maka mungkin, kita tak lagi mendengar bisikan, “pajak itu beban nan memberatkan”.


Karena yang berat sebenarnya bukan membayar pajak. 

Melainkan melihatnya disia-siakan.

*  *  *



ditulis sambil bergumam
"kita lihat plang rambu lalu lintas aja,
yang nyata dan demi keamanan, 

masih sering melanggar.
Apalagi aturan pajak yang abstrak.

Man...it still the long and winding road... 


Seorang astronomer, namanya Phil Plait, di malam ini tengah bingung!

 

Esok pagi, ia musti memberi kata sambutan di student science fair, acara yang berisi pertunjukan sains bagi anak-anak. Sialnya, ide belum muncul-muncul. "Ngomong apa, ya?" begitu mungkin ia membatin.

 

Sembari mencari ide, televisi di ruang tamunya hidup. Tayangan berita muncul. Sembari menonton, Phil terkejut. Jengkel tepatnya.

 

Entah apa isi beritanya, tapi Phil menyebutnya sebagai "typical pseudo-sains fluff piece": opini khas dukun-konspiratoris yang sukanya mengejek, antipati, ogah-ogahan dengan ilmu pengetahuan. Kalau di era sekarang, mungkin mirip kaum bumi datar. Bisa juga kaum yang kalau sakit malah lebih percaya dukun, atau kaum yang mirip-mirip lah.

 

"Parahnya, kaum yang kayak gini terlalu sering tampil di media arus utama!" kutuk sang astronomer. Geram. Ia marah, lalu tertuanglah dalam quote yang tergambar di atas. Setengah berdoa, setengah berharap, ia sampaikan curahan hatinya ke depan anak-anak pecinta ilmu pengetahuan keesokan harinya.

* * *

 

Hai, Vanesha. Sampai juga engkau di laman web ini, akhirnya. 


Berapa umurmu? Tahun berapa sekarang? Sehatkah engkau? Ibumu masih selalu menawan? Masih hidupkah aku? Apakah tindakan Rusia menggerudug Ukraina dengan di tahun 2022 berujung perang nuklir dunia?


Begitu banyak pertanyaan. Ku harap engkau baik-baik saja.


Aku menulis ini di Selasa, 8 Maret 2022. Tepatnya jam setengah dua belas siang, di teras rumah. Ingatkah engkau? Aku sedang diklat Work From Home sejak minggu lalu (sehingga tak bisa menemanimu bermain di Sawe hari pengrupukan dan ngembak geni).


Kukira kau tak ingat, kan usiamu belum genap dua tahun. Tapi aku takkan lupa wajahmu saat aku mengetik kalimat ini. Coba lihat sendiri...


Kau yang selalu berusaha mengajak bermain, saat aku WFH :D
Kau yang selalu berusaha mengajak bermain, saat aku WFH :D


Saat engkau asyik mentowel-towel layar laptopku, aku sedang tak sengaja membaca kartun. Tentang seorang astronomer yang berpesan ke generasi selanjutnya. Sumbernya dari sini. Sangat bagus situs itu, Zen Pencil namanya. Melihat kartun di atas, seketika, aku teringat padamu, dan dunia yang akan kau hadapi kelak.


Saat ini, dunia sedang penuh pergolakan. Virus merajalela, namun orang-orang ribut tentang konspirasi rekayasa. Bila orang-orang melihat suatu fenomena, dengan mudahnya mereka berlari ke supranatural. Kian banyak yang menafikan ilmu pengetahuan, dan bersandar pada adat maupun ajaran-ajaran. Logika dihadang kebiasaan, dan sayangnya, logika lebih sering kalah. 


Padahal, manusia itu rentan.

Homo sapiens ndak punya cakar, racun bisa, taring, dan alat pertahanan diri lain -ia hanya punya logika. Menafikan logika, berarti menafikan satu-satunya alat pertahanan hidup yang dianugerahkan semesta pada spesies kita. Begitu kata Harari di buku kerennya: Sapiens. Sudah kusiapkan untukmu, versi english, bahasa Indonesia, maupun file .pdf-nya. Bersama dengan komik Filsuf Jagoan. Terserah, pilih yang mana.


Vanesha ku tersayang.


Bersandarlah di science. Seeratnya, seteguhnya. Selalu penasaran. Pertanyakan segala sesuatu. Jangan mau tunduk pada dogma usang yang -saking angkuhnya- pantang untuk dipertanyakan dan haram diragukan. "Stay hungry, stay foolish..." begitu nasihat Steve Jobs.


Ingin aku bersamamu terus. Ingat kah engkau sebulan lalu? Engkau begitu takjub, Vanesha, saat kuperlihatkan semprotan air cisss cisss ternyata bisa menampilkan pelangi saat disentak mentari sore. Itulah dispersi cahaya. Science itu indah, bukan? 


Ingin ku seperti ending kartun di atas: melihat bintang bersamamu. Membahas bintang mana yang akan jadi supernova atau jadi katai putih. Berbagi cerita tentang betapa menakjubkannya klorofil, sampai serunya revolusi kognitif yang dikisahkan dokdes Ryu Hasan dan Gita Wirjawan.


Semoga aku selalu bisa menemanimu. Berbagi cerita semesta dan rahasianya.


Semoga aku tak jadi tua dan membosankan. Atau malah jadi pemeluk dogma, yang memaksamu percaya kebiasaan dan ajaran lama yang tak boleh dipertanyakan.


Aku sayang engkau. Sesayang itu. Bebaskan pikiranmu, bahkan dariku.


Jangan lupa, Nak, untuk sayangi ibumu selalu. 


Saat aku mengetik ini, kalian tengah bernyanyi bersama. Engkau habis makan ceker. Yang ia masak sejak pagi, karena di liburan kemarin, Wirya bercerita bahwa Sally lahap makan ceker. Jadilah ibumu ingin kau juga seperti anak Wirya: lahap dan sehat. 


Kulirik kalian di sana, kalian sedang bahagia, dalam tenda kesayanganmu. Aku beranjak dan mengambil gambar. Ibumu tak tahu, aku tengah menulis tentang ia dan kau.


Ceria Vanesha, Cerianya Mama


Ibumu lebih bahagia melihatmu lahap makan, dibanding kebahagiaanya sendiri. Aku mencintainya. Seperti mencintaimu juga. Sama-sama, ya Nak.


Sudah, tulisan ini sudah hampir selesai. Sana beranjak. 


Bangun. 


Peluk ibumu. Seperti yang kau lakukan tiap saat saat sejak 2021. Aku jamin, sumpah mati, pelukan, senyuman, dan makan lahapmu adalah segalanya untuknya.


Dan untukku juga...


Sudahlah, aku selesaikan menulis ini, dan pergi untuk memeluk kalian yang sedang asyik mencuci piring di dapur.


Aku sayang kalian.


Ayahmu, Temanmu,

Semoga menjadi sobat ceritamu


Seru juga mungkin ya, mengabadikan lagu yang sedang didengar.


Setiap orang pasti punya lagu kesayangan di tiap masanya. "Apa lagu terapimu, Cak?" begitu seringkali tanyaku pada seorang sahabat, saat kami tengah dinas berdua di kabupaten sebelah. Dari pada planga-plongo dan ghibah di kamar hotel.


Lagu sering seperti sahabat. Ada kalanya di suatu masa, aku selalu bersama sebuah lagu. Heavy rotation! Diputar terus, tanpa henti sejak bangun pagi di speaker bluetooth, nyantol di True Wireless Earphone sembari berangkat kerja, hingga dinikmati di ujung malam sembari memejam mata.


Tapi ya gitu. Tak ada yang abadi. Segemar-gemarnya akan sebuah tembang, ia akan sirna juga. Perlahan memudar. Akan datang kali terakhir kita memutarnya, dan tak memutarnya lagi.


Lama, sampai waktu mempertemukannya kembali dengan tidak sengaja. Seperti lagu ini.


Judulnya High, dari Lighthouse Family. Terbit di tahun 1997 silam. Whoa.... silahkan klik link ini untuk menikmatinya https://youtu.be/taOL5HJdx1A


Iramanya mengingatkan pada Dancing in The Moonlight by Toploader. Disko-disko ringan, sembari mengangguk-angguk minum tequila atau Coca-Cola, di sebuah pesta senja musim panas.


Aku sendiri lupa, di masa hidup tahun berapa akrab dengan lagu ini. Yang pasti di tahun 1997 aku baru mulai mengenyam bangku SD.


Yang pasti, beat-nya yang membuat semangat, liriknya yang hangat, serta nuansa lagunya yang ceria membuatku tak tahan untuk berdiam. Ingin bergerak, berdansa, mengikuti reff-nya.

* * *


Beberapa lagu datang dan pergi.

Beberapa lagu pergi, namun saat kembali, membuat senyum tak henti-henti.

Entah mengapa lebih suka versi ini.

Mungkin karena di depan para mahasiswa ini, Adhitya tak hanya pemain gitar kopong. Ada ragam instrumen lain. Lebih hidup, lebih ramai.

Di video ini, sang pencipta lagu menyapa ramah pendengarnya. Kemudian ia memulai dengan petikan sendu, lalu drum dan hentakan bass ikut masuk meramaikan. 

Mengalir dan menyenangkan.

Sang penyanyi memejam. Sepanjang lagu bersenang-senang. 

Silakan nikmati!


Sudah ditonton?

Jangan lanjut kalau belum...



Sesuatu di Jogja
Versi Live, by Adhitya Sofyan

Hey cantik, coba kau catat
Keretaku tiba pukul empat sore
Tak usah kau tanya aku ceritakan nanti
Hey cantik, kemana saja?
Tak ada berita, sedikit cerita
Tak kubaca lagi pesan di ujung malam

Dan Jakarta muram kehilanganmu
Terang lampu kota tak lagi sama
Sudah saatnya kau tengok puing yang tertinggal
Sampai kapan akan selalu berlari?
Hingga kini masih selalu ku nanti-nanti

Reff:
Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja
Dengar lagu lama ini katanya
Izinkan aku pulang ke kotamu
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Hey cantik, bawa aku jalan
Jalan kaki saja menyusuri kota
Ceritakan semua ceritamu padaku

Ya, Jakarta diam kehilanganmu
Bau wangi hujan tak lagi sama
Sudah saatnya kau jemput musik yang tertinggal
Sampai kapan aku 'kan bernyanyi sendiri?
Hingga kini masih selalu menanti-nanti

back to reff

Ingat waktu itu ku bertanya
Aku mau dengar jawabnya

back to reff

Mendengar lagu ini, membuatku menghayal liar.

Maksud si lagu sebenarnya apa?

Bagaimana kalau, ternyata yang dimaksud "Jakarta" adalah sang penulis, sementara "Jogja" adalah seorang kekasih yang dirindukan.

Coba saja.
Dan Jakarta muram kehilanganmu
Terang lampu kota tak lagi sama 
Begitulah perasaanku jika misal rindu pada suatu sosok. Muram. Apalagi kalau kehilangan, ya. Jelas aku akan terdiam, karena terang lampu kota, bau wangi hujan takkan sama lagi rasanya.

Lalu anganku akan ingat kenangan nyamannya sang dia. Betapa menyenangkan saat jalan-jalan di tempat asing bersama, menikmati sekadar wangi hujan atau lampu kota.

Dengan orang terkasih, tentunya. Sayang itu dulu.

Kini, yang terbawa ke sana hanyalah angannya. Sang penulis lagu pun bingung, entah apa yang istimewa pada gadis itu. Rasa apa yg begitu nyaman dulu, sampai kini ia rindu.

"...sampai kapan aku kan bernanyi sendirian..."

Mungkin hatinya yang rindu, berbisik:

Ku percaya, selalu ada sesuatu di Jogja dirinya...
... ijinkan aku pulang ke kotamu pelukmu

Yah,
Tiap orang bebas mengintepretasikan sebuah karya seni, seenak udel --dan hatinya.



 Januari 2021
dan pagi ini rintik-rintik





Menyusun nama bukan perkara sederhana.
Kata orang "susah-susah-gampang": susahnya dua, gampangnya satu.
Kadang malah: susah-susah-susah. Susahnya tiga!

Apa lagi untuk buah hati yang telah lama dinanti. Sejak pertama embrio nongol di layar USG, hingga saat tangisnya memecah dunia di ranjang persalinan, pergolakan tentang nama di kepalaku tak pernah berhenti.

Bagaimana tidak?
Nama itu akan putriku sandang sejak lahir hingga akhir hayat. Setiap orang tua -aku yakin- telah berusaha menyematkan nama terbaik untuk anaknya.

Akhirnya, kuputuskan sebuah nama:
Dewa Ayu Putu Vanesha Vedantari
Dewa Ayu Putu...
... Vanesha Vedantari...

Nah, beberapa bulan terakhir sering kudengar pertanyaan dari bibir -atau dari kernyit mata- beberapa kawan. Mungkin hatinya bertanya-tanya.

"Wo, kamu kan suka nulis, pasti namanya sastra banget!"
"Ndak isi Soekarnoputri? Lahirnya pas enam Juni, lho!"
"Namamu kan Cakrabuana Aristokra, kirain anakmu bakal Tribuwanatunggadewi Sokrates."
"Pas COVID nih, isiin Karantinawati atau Iluh Corona gitu..."

Untukku pribadi, menggali nama untuk anak layaknya sebuah perjalanan. Tak mudah, panjang, banyak merenungnya. Lihat saja 32 orat-oret yang kubuat di Google Keep, sejak berbulan sebelumnya.

...tantangan menggali sebuah nama...


Ini kisahku, tentang menggali nama putri pertamaku.
Catatan seorang overthinker
*  *  * 

Nama Erat dengan Era
Layaknya busana dan musik, nama adalah karya seni. Masuknya di ranah selera. Seni menamai anak itu ada trendnya.

Contohnya awal 1900, saat Belanda masih bercokol di Nusantara.
Kala itu, para orang tua memiliki rumus baku. Pokoknya pilih satu kata, lalu beri awalan Su-.
Singkat nan padat!

Bagi penduduk Jawa dan Bali yang gemar nonton wayang, awalan su- berarti "baik". Nama Sukarno berasal dari Karna, kakak dari Panca Pandawa. Ada juga Suharto, Suroso, Sumantri, you name it!

Lanjut ke era '45!

Di masa ini, api kemerdekaan menjalari dada. Jangankan anak, pejuang muda bahkan mengubah namanya sendiri. Hanafi menjadi A.M. Hanafi: Anak Marhaen Hanafi. Ahmad Aidit menjadi D.N. Aidit alias Dipo Nusantara Aidit. Yang satu digelari Bung Karno dari ajaran Marhaenisme, yang satu terinspirasi Diponegoro dan Nusantara. Pokoke bernuansa revolusi!

Lanjut ke perihal nama pasca '65!
Nah, yang ini agak ndak enak.

Bila Bung Karno memiliki menteri kesayangan bernama Oei Tjoe Tat, Pak Harto justru melarang nama bernuansa Tionghoa. Misal orang yang bernama Tan dipaksa berubah jadi Gunawan Tanuwidjaya. Atau Tanusudibyo. Atau Istanto. Pokoknya ndak boleh berbau Tionghoa.

Tak hanya nama. Perayaan Imlek, ajaran Konghucu, hingga barongsai juga dikekang. Akhirnya, Gus Dur-lah yang membuka belenggu budaya ala Orde Baru.

Oke lanjut.
Tak hanya politik. Ranah sosial juga punya kisah.

Di era 70'an, seorang ibu bernama Ngatiyem melahirkan putra pertama. Diberi nama Agus Cahyadi, biar modern. Saat Agus punya anak di awal 2010, ia menamai anaknya Nur Afifah Zaskia. Alhamdulillah!

Bali juga sama. Di tahun 70'an, I Nengah Semer menamai anaknya I Gede Agus SudarsanaAwal 2019 kemarin, Sudarsana punya anak bernama I Gede Narendra Adhirama Bhaskara.

Dalam tiga generasi, Ngatiyem berubah menjadi Nur Afifah Zaskia. I Nengah Semer menjadi Narendra Adhirama Bhaskara. Yang satu islami, yang satu indiani. Memang setelah Orde Baru tumbang, gerakan bernuansa religius puritan makin populer di nusantara.

By the way, punyakah kalian kawan yang namanya Habibie? Di kantorku ada dua. Saat SD dulu juga ada satu. Biasanya "para Habibie" ini lahir tahun 90'an hingga menjelang Orde Baru tumbang. Begini ceritanya.

Bapak Habibie kala itu dikenal sebagai ahli pesawat terbang kelas dunia. Beliau juga Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Habibie digadang-gadang menjadi suksesor politik daripada Pak Harto. Beliau adalah sosok dengan iptek dan imtaq paripurna!

Karena nama adalah doa dari orang tua, jelas "Habibie" adalah doa idaman kala itu.

Capek obrolin politik?

Yuk beralih ke dunia hiburan. Tersebutlah Aiden, Marlyn Manson-nya punk yang harum di era 2000'an. Aiden adalah salah satu band idolaku sejak masih SMA. Cek lagunya yang berjudul "Die Romantic" dan "The Last Sunrise". Gagah!

Tapi cek lagunya nanti saja. Sekarang tengok komentar netizen di halaman YouTube mereka.

...Marilyn Manson-nya punkrock...

Masih ada lagi. Kali ini dari layar kaca.
Tahu Game of Thrones? Sejak season pertama, Daenerys Targaryen menjanjikan sosok yang sempurna. Cantik, mistik, berjiwa pemimpin, keibuan, demokratis. Banyak ibu yang menamai anak gadisnya Daenerys atau Khaleesi.

Sayang, di season terakhir, ratu idaman pemirsa berubah menjadi Hitler versi perempuan! Para Daenerys ini akhirnya mengalami perundungan di sekolahnya.

Kasihan ya. Bila ingin menamai berdasarkan serial televisi, lebih bijak ditunggu sampai tamat dulu. Siapa tahu malah belok jadi antagonis. Dracarys!
... di Amerika Serikat, 4.500 anak bernama dari Game of Thrones...

Hmm... ternyata menamai bukanlah perkara yang merdeka-merdeka banget.
Ada banyak unsur yang mendefinisikan coolness nama di tiap era. Jelas mempengaruhi orang tua saat merumuskan nama anak.

Nah bagaimana dengan anakku?
*  *  *


More About Her? Us? or Else?
Andai nama anakku isi Aristokra-nya. Misal jadi Dewa Ayu Putu Vanesha Aristokra. Mungkin saat ia dewasa akan terjadi percakapan begini:

👧: Jadi, nama Vanesha sepanjang itu, Jik ya...
👨: Iya, Nak... lama lho Ajik mikirnya.
👧: Terus, "Dewa Ayu Putu" itu nama keturunan, kan?
👨: Benar. Dewa Ayu dari garis keluarga ayah. Putu artinya anak pertama. Tradisi.
👧: Nama belakang aku kan Aristokra. Jadi dari lima kata, aku cuma kebagian seporsi? Tiga tentang tradisi, dan satunya nama Ajik? Kok sedikit.
👨: Errr... Aji bisa jelaskan...
👧: Coba jelaskan....
👨: Err... Aji tidak bisa jelaskan :(

Dialog khayal macam ini sering menghantui. Apakah ia akan distempeli nama belakangku? Ia akan mudah diidentifikasi sebagai: "oh pasti anaknya Dewa ya?" oleh kenalan yang bertemu dengannya kelak. Berapa sih, kawanmu yang punya nama belakang Aristokra?

Bukan, memberikan nama belakang keluarga bukan hal buruk. Malah baik. Tanya saja Ibu Mega, Mas Ibas, atau selebgram Enya Blanco dan Tari Mantra.

Ndak usah aja kali ya. Kan, nama depannya juga sudah berunsur dari luar dirinya: keluarga dan tradisi.

Aku kok ingin hidup anakku more about her, ya? Bukan kisah Aristokra II, atau Purnama Dewi Sequel. Aku percaya, if you love someone, set them free. Layaknya bernegara, kalau beneran mencintai rakyat, pasti memberi kebebasan bernama demokrasi.

Sosok yang salah mengartikan ego-obsesi jadi cinta, pasti jadi mengekang sang kekasih. Negara yang tak cinta rakyat, pasti akan bertindak represi. Curiga dan memata-matai. Harusnya cinta menumbuhkan rasa saling percaya, kan?

Jadi jawaban atas pertanyaan, "mengapa nama anakku tak diakhiri dengan nama belakang Aristokra atau Dewi, adalah..."
"... karena aku terlalu cinta anakku. Aku percaya padanya. Kuingin kisahnya more about her --sejak dari nama. Toh, nama depannya sudah ada unsur dari keluarga. Cukup lah. Biar anakku yang berkisah sendiri di tiap lembar hidupnya. Tentu, aku akan selalu ada... Untuk membantu, bukan malah membelenggu."
Bahwa, sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa...
... dan setiap insan!
*  *  *

Terus, Kenapa Vanesha?
Nah ini ceritanya unik. Aku punya kawan, namanya Adit. Kami kenal sejak masih SMP di Jembrana dulu, hingga kini. Tahun 2008, Adit mengambil kuliah di Australia. Layaknya sobat kecil yang libur tahun ajaran, kami pasti sempatkan waktu untuk kumpul. Ngobrol ngalor-ngidul.

Adit memulai critanya. "Awal-awal sampai di Australia, Wo, ada cerita lucu nok."
"Heh... gemana itu," tanyaku penasaran. 

"Saat perkenalan awal kan aku bilang, Hello... My name is Adit. Orang-orang di sana malah bingung. What? Addey?"
"Kacau nih, mereka susah melafalkan. Aku tegasin lagi. No, my name is ADIT. Alpha Delta India Tango. A-D-I-T!" 
"Mereka masih bingung, mungkin karena lidahnya beda. Oh... so your name is Addy, Eddy... oh hi Eddy."

Adit malah ngakak. "Ya sudah lah. Karena mereka susah melafalkan, jadi aku dipanggil Eddy selama di Australia!"

Cerita di atas membekas lama di kepalaku. Ternyata, dunia makin borderless, makin bercampur-baurAyahku merantau sejauh Tabanan menuju Jembrana. Aku sempat hidup di Jakarta, Kupang, dan Flores. Istriku malah sudah ke penjuru Eropa hingga Alaska.

Pantai favorit ayahku adalah Baluk Rening. Aku suka Gili Trawangan. Istriku selalu berkata bahwa Quebec adalah pantai favoritnya.

Itu cerita di generasiku. Bayangkan, hidup macam apa yang akan dilewati oleh anakku dan kawan-kawannya? Ia akan memfavoritkan pantai mana? Dengan siapa ia akan berjumpa? Entahlah.

Karena itulah aku memutuskan nama Vanesha.

Vanesha -dengan suku kata sha- masih senada dengan Ganesha: dewa perlambang pengetahuan dan kecerdasan yang jadi logo kampus Bung Karno: ITB. Huruf V sering dipakai dalam pelafalan Sansekerta yang diindonesiakan. Shiva jadi Siwa, Div jadi Dewa, Varuna jadi Baruna. Aku merasa ada kesan feminim dalam kata "Vanesha".

Nama Vanesha rasanya mudah diterima siapa pun, dari belahan bumi mana pun. Meski begitu, akar tradisinya masih kuat. Dalam bahasa Sansekerta, Vanesha bermakna murni, bersih, dan pure. 

Menurut bahasa Yunani kuno, Vanesha juga bermakna butterfly. Makhluk cantik yang bermetamorfosis dari ulat menjadi makhluk bersayap, indah, dan membantu eksistensi alam lewat penyerbukan. Nama bapaknya: Aristokra, juga diambil dari Yunani kuno. Mirip laah.
...screenshot dari TheBump - Pregnancy, Parenting, and Baby Information...


Jadi kutetapkan hati, untuk menggunakan nama Vanesha.

Selanjutnya, nama belakangnya apa ya?
*  *  *

Vedantari dan Harry Potter...
Nama "Dewa Ayu Putu" sangat Bali-ish.
Nama "Vanesha", sangat Barat-ish.
Jadi, kurencanakan nama belakangnya Hindu-ish.

Pikiran random membawaku teringat pada kisah Harry Potter. Tepatnya tentang empat penyihir terhormat yang mendirikan Hogwarts. Ingat namanya?
  • Godric Gryffindor
  • Rowena Ravenclaw
  • Helga Hufflepuff, dan
  • Salazar Slytherin
Pertama kali mendengar nama mereka, aku penasaran. Mengapa  huruf awalnya sama semua? Tak mungkin kebetulan. Kukira itu akan punya kisah tersendiri dalam novel, namun ternyata tidak. Jawaban atas misteri penamaan itu malah kutemui saat aku SMA, dari buku Deception Point-nya Dan Brown.

Novel itu mengisahkan seorang senator Amerika yang mengubah nama. Awalnya siapa, ah aku lupa. Menjelang pemilu, tokoh tadi mengubah namanya menjadi Sedgwick Sexton, hanya agar huruf awalnya sama-sama S! Wah!

Novel Deception Point menyinggung alasan sang senator mengubah nama. Ternyata, tradisi itu adalah hal klasik bagi budaya Eropa dan Amerika. Katanya sih, untuk keindahan, terkesan kokoh dan nasib baik.

J.K. Rowling serta Dan Brown punya benang merah. Selain dua-duanya penulis kesukaanku, mereka kini memberi inspirasi yang unik untuk nama putriku.  

Nah, kata bernuansa Hindu apa lagi yang lebih pas menemani kata Vanesha, dibanding kitab suci sendiri -Kitab Veda-?

Ya, Kitab Suci umat Hindu adalah Veda. Namun, Vedanta lebih spesifik lagi. Ia berasal dari kata "Veda" dan "Anta" (akhir). Vedanta adalah filsafat penutup dari pustaka suci penganut Hindu. Salah satu aliran pemikiran yang menekankan pada pengetahuan dan keharmonisan. Vedanta sering disebut ajaran universal, relevan untuk semua latar belakang. Tak cuma penganut Hindu.

Novel Lost Symbol-nya Dan Brown sempat menyinggung Upanisad, salah satu kitab kajian ajaran Vedanta.

J. Robert Oppenheimer, seorang ilmuwan yang dijuluki Father of Atomic Bomb-nya Amerika di masa Perang Dunia II juga menyelami Vedanta lewat Kitab Bhagavadgita.

...empunya bom atom pemerhati Vedanta...

Oiya, Upanisad itu kitab Hindu yang menarik. Intinya sih, tentang konsep ketuhanan Pantheisme. Bukan monotheis, bukan politheis. Tuhan menurut Vedanta bersifat Maha Dzat, berada pada segenap ciptaan-Nya. Jadi, ya jangan menyakiti makhluk lain, karena itu berarti menyakiti Tuhan. Cintailah sesama makhluk, karena itu berarti mencintai Sang Pencipta.

Ya, tat twam asi gitu lah intinya.

Selanjutnya, akhiran -Tari semata adalah penghormatan untuk istriku. Ia adalah penari sejak kecil. Tahun 2006, aku menonton istriku mewakili Kabupaten Jembrana dalam Pesta Kesenian Bali untuk menari. Saat bekerja ke luar negeri, ia juga sempat melakukan pertunjukan tari. Bahkan ia masuk ke SMA favorit di Jembrana berkat jalur prestasi tari.

...ibunya seorang penari...

Sementara aku? Jangan ditanya. Aku adalah siswa yang dihardik guru muatan lokal tari, karena menurut beliau, "Dewa! Kamu seperti robot kekurangan oli. Ndak lumas!"

Vedanta + Tari, jadilah Vedantari.

Ahh... rasanya sulit memberi nama lain yang lebih nyantol di hatiku.
*  *  *

Demikianlah petualangan dalam kepalaku hingga akhirnya tercetus nama Dewa Ayu Putu Vanesha Vedantari. Sebenarnya sih masih ada banyak cerita lain, tapi rasanya cukup lah untuk sebuah memoar. Tentu, itu intepretasi pribadiku. Anakku, kalian, pembaca blog ini, temannya kelak, jelas berhak punya intepretasi sendiri.

Yang pasti, Vanesha berhak tahu.
Bahwa nama yang ia sandang adalah doa yang kami titipkan pada semestanya kini dan kelak. Untaian kata yang dipikirkan sepenuh hati. Sampai mumet sendiri. Agar Vanesha tau, ia sepenting itu bagi ayah dan ibunya.

Bila ada yang berpegangan pada semboyan, apalah arti sebuah nama, Anda ya ndak salah juga. Nama hanya bahasa. Dan bahasa cuma untaian kata, yang kadang berserakan.

Untuk itu, sebagai penutup, ijinkan aku mengutip sambil mengubah puisinya Chairil Anwar...
Kami cuma tulang-tulang kata-kata berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang kata-kata itu

Anakku,
Tentukanlah makna dari namamu sendiri, kelak. 


Selamat datang di dunia, Nak

Kau tahu? 
Kuingin duniamu kelak layaknya kanvas putih 
Di sana, engkau pelukisnya
Kau lah sang penyapuh derai warna
Berkreasi lah, Nak. Sak karepmu!

Karena, hidupmu adalah cerita tentangmu.

Sayang, dunia saat ini tak begitu

Telah ramai tersapuh warna, di kanvas bernama dunia
Aneka rupa, berbagai aliran, gelimang -isme
Dari hitam, putih, loreng, pelangi, dan banyak lagi

Mana yang benar?
Ahh.. bukan hak kita untuk menghakimi
Lagipula, perbedaan bukanlah hal yang ngeri
Selama semua bisa mendamaikan hati

Harusnya sih begitu...
Sayang, realita sering tak seindah prosa

Dunia akan senantiasa berusaha
Membuatmu jadi golongan mereka, Nak

Ahh... mereka tak tahan melihat perbedaan
Mereka be-like: Tarik atau dorong! 
Rangkul atau rundung! 
My way or the highway!

Si kelam ingin kau hitam jua
Si terang ndak terima saat kau memilih temaram
Si pelangi mengajak-ngajak. 
Sementara si loreng melarang-larang.

Padahal, hidupmu adalah cerita tentang mu, kan?

Hidupmu bukan tentang aku, ibumu, pun siapa jua
Bukankah Masashi Kisimoto juga berusaha,
Agar Boruto tak sekadar jadi "Naruto Jilid Dua"?
Sama. Engkau bukan "Dewa II: The Remake"
atau "Dayu Sequel"
Kisahmu bukan sekadar bab nomor sekian...
...lanjutan dalam buku hidupku

Ingatkan aku. Marahi aku, Nak, 
Bila kelak aku jemawa, mentang-mentang duluan lahir.
Bila aku mulai menarik-dorong mu, ke arah egoku
Jangan ragu. Hardik aku begini,
"Ayah! Kau harusnya memberi teladan...""  
...Tuntun lembut jariku, bukan dorong kasar punggungku..." 
"..Aku tengah bergiat menulis bukuku sendiri..."
"Kata ayah saat aku lahir, kan hidupku adalah cerita tentangku..."

Perkara mau jadi apa, terserah Engkau. 
Aku manut lagi percaya.
-tapi kalau boleh aku pinta-
Agar Engkau menyayangi Semesta.
Maksudku, semesta menurut John Venn
Nanti lah, aku ajari engkau diagram himpunannya

Aku berdoa,
Agar Engkau menghargai tiap rasa
Meski, bukan Engkau punya selera
Karena mereka sedang menulis bab cerita hidupnya masing-masing jua
Persis seperti Engkau, bukan?

Ah... aku sudahi saja coretan tak jelas ini
Hanya isi hati Ayahmu yang meluap, minta dituangkan dalam kata

Semoga duniamu lebih baik dari punyaku

Aku sayang engkau, Nak. 
I really do!

Lukislah dunia dengan warnamu, karena,
...hidupmu adalah cerita tentang Engkau...