Liburan paling panjang dalam setahun itu berakhir... banyak cerita, cinta, keluarga yang luar biasa. Jembrana selalu membawa cerita...

Sampai jumpa lagi, hometown! ✈🏠


"JungWah kegirangan melihat cerobong Gosha... dikira kereta api... 😝"


"bersama PG, memberi wejangan ke Jegeg Bagus Jembrana..."

"... dilanjutkan ritual tahunan: halal bihalal di rumah Ujang"

"bersama gank perantau menuju Bukit JR membahas topik: Jodoh PG! 💖"

"Bukit JR: menenangkan nan menyamankan"

"rencana nongkrong berubah menjadi menungguku cukur. Lokasi: barber Gus Vicky"

"menunggu bus. Lokasi: Taman Kota Negara"

"Habis menangis melihat Jidek, terbitlah ceria bersama Jidek"

"obrolan pra-marital"

"liburan berakhir... Lokasi: ruang udara Labuan Bajo"

Hari ini Jumat, 23 Juni 2017, adalah hari yang istimewa.

Aku baru tiba di Jembrana, tempat yang kusebut rumah jam tiga sore tadi. Aku bekerja jauh dari rumah, dan ini adalah hari pertama dari libur panjang Lebaran. Fuck yeah! Seperti biasa, sebagaimana hari kepulangaku, selalu kusempatkan berjalan-jalan sore dengan Aji di seputaran Taman Kota Negara. Kawan, inilah kegiatan favorit seorang anak perantauan yang jarang bersua dengan kedua orang tuanya. Lakukanlah, tebus ketidakhadiranmu di hari-hari senja orang tua mu.

Sesampai di rumah, Byang berseru, “De… ambil tuh jajan di meja, kotak kertas merah”.
“Heh…” aku berseru keheranan, “tumben beli jajan kotak gini.”
“Pak Yosi yang bawa tadi, pas kalian masih jalan-jalan,” Byang menyahut sembari tetap fokes menyapu, “kan sebentar lagi Lebaran, keluarga Pak Yosi yang muslim ngejot ke kita.”

"Oh," aku tersenyum sembari membuka kotak dan langsung mengunyah kue.

Ngejot, adalah tradisi untuk kami di Desa Dauhwaru, Jembrana. Desa ini adalah tempat para urban, LC, kawasan yang konon dikapling medio 1980 untuk menjadi rumah-rumah. Jadi, tak ada penduduk asli di banjar ku, semua pendatang.

Misalnya ya, Aji adalah seorang penyuluh pertanian Hindu yang berasal dari Tabanan. Pak Barnabas adalah seorang Nasrani dari Desa Palasari. Ada Pak Afrizal, seorang Padang tulen yang jadi guru biologiku, hingga Pak Yossi seorang Muslim Jawa yang punya studio musik dan masih banyak lagi. Bhinneka Tunggal Ika Dauhwaru, berbeda-beda tapi tetap satu Dauhwaru, haha!

Oke, kembali ke tradisi ngejot.

Sambil kugigit-gigit kue bolu berlapis coklat jotan, pikiranku melayang-layang. Terbang ke liburanku beberapa bulan lalu saat hari raya Galungan sebelumnya. Oh yeah, karena Galungan adalah hari raya Hindu, jadi keluarga kami ngejot ke rumah Pak Yosi, empat bulan lalu. Saat itu lah aku teringat, sadar akan hebatnya warisan para pendahulu kita lewat cara sederhana.

Masih mau lanjut cerita tentang ngejot?
*  *  *

Kejadian ini terjadi beberapa bulan sebelum libur Lebaran, tepatnya dua hari menjelang Galungan di awal tahun, Byang sedang berkacak pinggang melihat aku dan Aji pulang kelewat sore habis jalan-jalan seperti biasa.

“Duh! Sudah tak bilang cepetin pulang,” ujar Beliau bersungut-sungut, “kan dah janji mau anterin Byang ngejot ke rumah Pak Yosi…” Aku pun terkekeh kecil. Sebenarnya sedari siang Byang sudah mem-booking-ku. Segera kuganti baju dan kuambil motor. Jam menunjukkan pukul enam lewat dua belas menit, mentari sudah bersiap pulang ke peraduan.

“Yuk, naik motor, Byang”.

Kupacu motor pelan, dengan Byang di belakang membawa kresek merah berisi kotak makanan. Harus sepelan mungkin karena Byang suka histeris berseru “HATI HATI DEE ADA PEREMPATAN!!!” meski itu hanyalah perempatan sepi jalan desa dan lagi jaraknya masih 75 meter.

Sayangnya, Pak Yosi sekeluarga sedang tak ada di tempat.

“Sepi, Byang, mobilnya ndak ada. Jangan-jangan ke Buleleng. Besok aja ya?” ujarku memberi alasan. Sebagai anak muda gaul yang jarang pulang, jam tujuh nanti aku sedianya nongkrong membicarakan hal-hal maha tidak penting dengan konco-konco lawas.

Byang merenggut, gusar. “Ndak! Nanti setengah jam lagi kesini, harus!”

Aku pun bersiap memutar motor, dan kembali ke rumah. Byang duduk kembali di sadel belakang. Cukup heran dengan tekad Beliau, bersikeras.

“Ngejot itu, De, sudah tradisi,” ujar Byang padaku yang sedang konsentrasi mengendarai motor, menghindari undur-undur senja yang suka menyerang mata. “Tradisi lama sekali, entah siapa yang memulai. Tiap Nyepi atau Galungan -pokoknya musti dapet- kita yang Hindu suguhin makanan ke tetangga lain, Pak Afrizal, Pak Yossi, gitu. Dan kalau Natal, Lebaran, giliran mereka.”

Aku terdiam mendengar Byang mendadak berpidato di atas motor.

“Manusia itu semua bersaudara,” Beliau melanjutkan, “saat hari raya kita bersuka cita, tentu ada makanan, kan. Kewajiban kita untuk membagi kebahagiaan dengan saudara sesama ciptaan Yang Esa ini, meski cuma dalam bentuk makanan.”

“Oh, jangan lihat nilai makanannya, De, sekali-kalipun jangan, itu cuma sarana. Lihat niatnya, niat untuk menjaga tali persaudaraan. Leluhur kita di Bali sejak dahulu memanggil leluhur Pak Yosi, Pak Afrizal yang pendatang sebagai ‘nyame selam’, nyame artinya saudara, selam itu pelafalan lidah kita mengucapkan “Islam”, artinya saudara kita yang beragama Islam.”

“Jaga tradisi ngejot ini, De,” ujar Byang melihat rumahku sudah dekat. “Tradisinya turun-temurun sampai Byang dan Aji, jangan sampai putus di generasi kamu.”

Aku mengangguk.

Rebah di sofa, kusetel televisi, tapi pikiranku sama sekali tak tertuju ke layar kaca. Aku terngiang kata-kata Byang. Hmm ngejot ya. Ngejot masih punya arti lebih luas dari ini, dan aku punya kisah lain, kali ini setting-nya saat libur Lebaran telah usai. Hari itu Sabtu, keesokan harinya aku harus kembali naik pesawat berangkat bekerja, dan malam sebelumnya aku ada bersua dengan kawan lama di kota Denpasar.
*  *  *

Aku sedang duduk di Kedai Susu Nyonyo (sebuah nama yang kurang senonoh, haha. Tapi fuckin lucu!).

“Sebentar lagi kami sampai, Wo, Awan baru selesai mandi,”

begitu bunyi BBM yang kubaca.

“Milkshake stroberi sama kue cubit Kit-Kat satu ya, Bro,” pesanku pada pramusaji yang menatapku curiga, seakan penuh tanya, sedang apa di sini, seorang lelaki malam mingguan duduk sendirian di kafe, oh kasihan.

Sahabatku itu adalah Mba Nata dan Awan, dari kantorku yang lama. Mereka berdua sedang ada di Bali, mempersiapkan tetek-bengek hari bahagia mereka yang direncanakan berlangsung bulan September. Kebetulan esok pesawat akan membawaku kembali ke Bandara Komodo, Labuan Bajo, jadi kusempatkan bersua dengan mereka sejenak.

Dan voilaaaa, mereka datang!

“Kamu gemukan, Wo,” sapa mereka, kompak. Sebuah sapaan yang sangat kubenci akhir-akhir ini. Kami pun bahkan mengambil beberapa selfie (kutolak menyebutnya swa-foto karena selain janggal juga kepanjangan), dan obrolan pun mengalir seperti air. Crocosan.

"... kumpul teman lama..."

Sebagaimana orang yang baru mengenal Hindu dan Bali, kami sampai di topik wajib nan seru: LEAK dan hal supranatural! Bali oh Bali. Kulihat air muka Mba Nata datar saja, setengah bingung malah. Mungkin karena hal ini adalah baru baginya.

Aku teringat pada kalimat ini,
“Ketahulah suatu ajaran, langsung dari lidah orang yang mencintainya, biar tidak sesat dan disesatkan!” 
Itu diucapkan oleh K.H. Zainuddin MZ di radio saat aku kecil. Nah kini, kewajiban ku sebagai orang Bali untuk mengenalkan ini pada Mba Nata.

“Mba pernah lihat, nggak, ibunya Awan tiap pagi habis masak nasi buat sesajian kecil, kan?” tanyaku memantik diskusi.

“Iya, Wo, hehe aku lihat,” sahut Mba Nata sambil mengunyah kue. “Daun pisang dipotong kecil, diisi nasi dan lauk sedikit. Ditaruh di mana-mana, Wo,” dari halaman sampai tempat beras.

“Itu, Mba Nata, namanya banten jotan, alias ngejot.” Nah, bertemu kata ngejot lagi, kata unik yang seminggu lalu jadi topik antara aku dan Byang muncul lagi di episode Mba Nata.

“Ini ceritanya agak panjang Mba, berakar ke salah satu ajaran Hindu Bali yang paling dasar,” ujarku sok teoritis sambil menyeruput milkshake stroberi, “ namanya TRI HITA KARANA, tiga penyebab kebahagiaan. Kebahagiaan menurut kami baru bisa diwujudkan bila tiga hal kami lakukan.”
Mba Nata memperhatikan, “lanjut, Wo…”

“Apa saja komponennya? Yang pertama, PARAHYANGAN, menjalin hubungan harmonis dengan Sang Pencipta. Yah, semua orang juga sudah tahu, sembahyang, memuja-memuji Sang Pencipta dengan apapun kita menyebutnya adalah kewajiban.”

“Kedua, PAWONGAN, Mba… Wong berarti orang. Wayang wong, artinya kan wayang orang,” aku sok nyambung. “Ini berarti kita harus menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia. Sesama manusia lho Mba ya, ga disebut hanya dengan manusia seiman, sesuku, sepulau, senegara. Tidak, pokoknya sesama semua manusia. Titik.”

“Terakhir, PALEMAHAN. Artinya menjalin hubungan harmonis dengan lingkungan.” Aku menghentikan wejanganku, dan menunggu reaksi.

Mba Nata berdehem, “Iya bener…”

“Sayangnya, Mba, belum selesai sampai di situ,” aku tersenyum jahil. “Pawongan berarti lingkungan, yang kasat dan tidak kasat mata. Leluhur di Bali silam membuat pura di Tanah Lot pesisir, Besakih di gunung Agung, menyaputi pohon besar dengan kain hitam-putih bermakna biar kita -sadar atau tidak- menjaga kelestarian alam. Gemana berani nebang pohon besar?

"Itu palemahan yang kasat mata. Lalu bagaimana dengan yang tidak?”

“Bhuta Kala itu saudara kita juga, saudara tak kasat mata yang juga ciptaan Sang Pencipta.” Mendengar pernyataanku, alis Mba Nata terangkat sedikit, “oh iya. Jelas.” Tukasku senyum, “siapa lagi donk yang menciptakan makhluk-makhluk selain Sang Pencipta itu sendiri?”

“Mba lihat itu kain hitam putih di Bali, punya makna yang sama dengan Yin Yang, sama-sama hitam putih?”
"... yin yang..."

"Coba lihat yin yang. Dalam setiap putih, ada hitam. Dalam setiap hitam, ada putih. Keduanya bukan berseberangan, melainkan saling melengkapi menjadi satu. Itulah isi dunia, Rwa Binedha, dua dunia yang saling melengkapi.”

“Lalu apa kaitannya dengan ngejot, Wo?” tanya Mba Nata, khwatir aku makin jauh dari tema.

“Justru, Mba, mereka berkaitan banget," aku tersenyum. "Saat kita berhari-raya merayakan Parahyangan, tak lupa Pawongan juga kami laksanakan dengan ngejot tetangga. Selain sembahyang, juga ngejot, berbagi kebahagiaan dengan sesama manusia. Di kampung saya tradisi itu masih berjalan, tradisi ngejot. Jangankan tetangga sesama manusia (palemahan). Yang tak kasat mata (palemahan) juga kami berusaha menjalin hubungan yang harmonis.”

“Begitu pula dengan Palemahan, Mba. Contohnya, saat Ibu Awan selesai memasak, ia memiliki nasi dan lauk. Kami sisihkan sedikit. Sedikit sekali. Tapi jangan lihat nilainya kan, sebagaimana ngejot pada tetangga. Kami buat banten ngejot, memberi sedikit kelebihan yang kami punya kepada makhluk tak kasat mata, tapi yang kami percayai ada dan sama-sama diciptakan-Nya.”

“Konsep ini, Mba, penting di Bali. Ngejot baik kepada tetangga beda agama berupa kue kotak, juga kepada makhluk tak kasat mata berupa sejumput nasi dan wangi-wangi bukanlah simbol takluk. Bukan pula simbol kami memohon sesuatu. Ingat makna Tri Hita Karana, menjalin hubungan harmonis, bukan?

Mba Nata tersenyum.

“Karena kita semua bertetangga, dan bersaudara.” lanjutku. “Mba, saya, Hugo Chavez, cabe-cabean yang sedang selfi di sebelah kita ini, bule yang lagi santai di Kuta, sapi di sungai, pohon di seberang jalan itu, sampai makhluk halus yang mungkin sedang nongkrong di pohon itu, sama-sama tetangga di Bhuana Agung, sama punya satu ibu Pertiwi, dan satu Bapak Akasa, salah satu persona kami pada Sang Pencipta.”

“… dan ngejot adalah salah satu cara kita ingat tentang tali persaudaraan itu."

"Bali unik ya?” ujarku menutup cerita malam itu.
*  *  *

Demikian dua cukilan kisahku di hari libur kemarin. Ahh… Berlebaran di Jembrana memang selalu berkesan di hati. Oh iya, akhirnya malam itu aku dan Byang sukses bertemu Pak Yosi sekeluarga, dan kami bercerita, tertawa bersama, merasakan hangatnya kekeluargaan.

Saat Lebaran, seperti biasa aku menghabiskan waktu dengan para handai taulan, Ujang, Yugo, Jebret, PG, Febi, hingga Maha, Cunguh, Adit, Widya, Bojes di Denpasar, dan banyak lainnya. Jarang bertemu, membuat kami malah semakin erat.

Kampung halaman selalu membawa cerita, tentang hangatnya rasa bersaudara. Sampai bersua lagi di kesempatan berikutnya, kawan, Jembrana, Bali...




Jembrana, 1 April 2017

Akhirnya, hari ini tiba juga.

Jelas bisa kubayangkan bagaimana perasaan beliau. Pasti sumringah! Duh, itu adalah perasaan template bagi kami, pekerja (entah negeri maupun swasta) yang selalu mendamba kata keramat itu.

Kata keramat itu bernama: M U T A S I !

Membayangkan seberkas berformat pdf dengan belasan lembar lampiran, dan nama kita tercantum di dalamnya, terangkai dengan sebuah nama kota familiar, sudah barang membahagiakan. Amat membahagiakan. Patut dirayakan.

Namun -sayangnya- selain merasa bahagia dan bangga, ada rasa sedih terselip di dadaku.

Sayang nian, di hari perayaan itu, aku tak bisa hadir.

Bukan karena tak ingin. Semata karena tak sanggup. Duh gusti, kondisi rekeningku sedang merana-merananya. Belum lagi hari raya yang berdempetan, kompak menguras sumber daya.

"... bahkan tak cukup membeli sebuah tiket Wings..."

Hmm... padahal sungguhpun ini terkesan GR, aku merasa ada ikatan tak kasat mata dengan beliau dan kantor ku. Mungkin, ini mengingatkanku pada halaman dua buku Bung Karno, di mana Bung Karno sempat berujar:

"... beri aku sebuah pisang yang berasal dari lubuk hatimu, maka aku akan memujamu selamanya. Tapi berilah aku sejuta dolar, dan bersamaan tampar pipiku ditengah orang ramai, dan akupun berkata padamu -meski nyawa taruhannya- GO TO HELL!!!"

Begitulah KPP 925, lewat beliau sebagai pemimpinnya. Bagiku, telah begitu banyak memberi pisang yang berasal dari lubuk hati. Kurasakan tulusnya. Jadi, aku senantiasa malu untuk berfikir untung rugi. Bahkan untuk website kantor, saking girangnya diberi kepercayaan, sungkan rasanya meminta sekadar ganti biaya sewa hostingnya pada kantor yang kucintai ini.

"Apalah artinya biaya segini, tak sebanding dengan apa yang sudah beliau beri dan percayakan padaku," gumamku dalam hati, "biarlah ini jadi pemberian dariku untuk kantor tercinta, meski nilainya tak seberapa..."

Namun, sungguh kali ini, justru di hari penting ini, aku tak bisa hadir... hatiku berkali-kali minta maaf.

Meminta maaf pada sosok yang kuanggap sebagai seorang ayah. Ayahku di Pulau Timor.

* * *

Beliau bernama Bapak Syaiful Abidin :)

Sudah beberapa hari ini, hatiku sumuk, tak karuan. Semesta memang suka bercanda. Ada tiga ratusan hari dalam setahun, dan semesta memilih hari ini untuk perpisahan beliau, hari di mana aku kebetulan cuti, kebetulan Nyepi dan Galungan berbarengan, kebetulan tanggal tua di bulan aku sedang habis-habisan.

Tapi aku terharu... melihat beberapa kawan begitu ingin aku ada di hari ini saat ku post foto lama ini di facebook.

"testimoni kawan kantor di facebook "


Seakan belum cukup, H-1 menjelang perpisahan, handphone-ku berdering. Seorang rekanan menawarkan sesuatu yang membuat pertahanan tanggul air mataku jebol.



Mungkin sederhana untuk mereka, tapi buatku ini mengharukan. Bukan tentang nilai harta, sama sekali bukan. Melainkan banyaknya yang merasa kalau aku (seorang anak aneh, yang bekerja masih suka panikan ini) sedikit penting untuk beliau.

Apalah aku, cuma remah peyek di dasar toples. Berminyak.

Sempat aku mengiyakan, bahkan sudah mandi bersiap menuju Denpasar. Namun, ayahku mengingatkan bahwa di Denpasar sedang tak ada saudara. "Semua pulang kampung hari raya. Tidur di mana kamu?" tanya beliau, retoris.

"Lagipula, kalau tidak mampu sendiri, sebaiknya jangan, De," nasihatnya. Ayah memang keras pada saya mengenai gratifikasi. Sembari mengucap kalimat bijak itu, beliau mengunyah Kacang Garuda dari bungkus parcel. Dan parcel itu diberi oleh toko pupuk sebagai wujud terimakasih karena senantiasa direkomendasikannya pada petani. Plis deh...

"Yah, ini kan budaya ketimuran," ujarnya ngeles, kalau kutanya tentang gratifikasi itu. Kadang, beliau memang berstandar ganda. Ganda campuran.

Hatiku bimbang. Jadi, segera kutanya Uthe rekening Mas Irvan, untuk mengembalikan harga tiket nanti. Lagipula, aku takkan mampu menyewa hotel di Denpasar apalagi tiket Bali untuk Galungan. Sedih hatiku, karena melewatkan kesempatan dari orang yang beritikad baik. Di sisi lain, aku merasa bangga begitu banyak yang berniat tulus pada Pak Syaiful, jadi deh aku kecipratan.

Kuketik kalimat di atas sembari berdoa, semoga ketidakhadiran ku tidak mengurangi penghormatan pada beliau.

Bapak Syaiful adalah Orang yang Unik.
Pernahkah ada yang kurang ajar, mengatakan itu pada beliau? Entah, tapi begitulah di mata ku. Begitu teratur, begitu terukur memikirkan segala kemungkinan. Entah hal besar seperti penerimaan negara, sampai hal kecil macem mengiringi kendaraan beliau naik motor ke bandara memitigasi macet di Jembatan Liliba.

Beliau selalu mengingatkanku dengan cara unik.

Saat kusalurkan dua kabel LAN di meja rapat dan mengira semua telah beres, keesokan harinya kabel itu sudah berlabel "Internet" dan "Intranet" dengan selotip warna berbeda. Mencolok, dan bermanfaat.

Pun ketika kuubah letak meja kantor beliau. Keesokan harinya seluruh kabel itu terlabeli pula. Benar-benar teratur.

Selain selalu teratur dan terukur, beliau juga senantiasa percaya pada kami, anak-anak aneh 925. Tanpa beliau dorong, aku akan tetap jadi anak ndak jelas yang genjreng-genjreng gitar sendiri, takkan ada 925 Band yang bahkan telah tampil di aula gubernur. Takkan ada website kantor PajakAtambua.com.

"Pelajaran hari ini, Wo..."
Begitu beliau sering berkisah padaku. Oh yeah, kami sering bercerita, tentang apa saja. Mungkin bercakap-cakap adalah satu saluran relaksasi dari penatnya tuntutan kantor. Bagaimanapun, manusia makhluk sosial, butuh bersosialisasi.

Sering aku bergumam,
"aku sih enak ya, penempatan berbondong-bondong dengan rekan sebaya. Gimana kepala kantor ya, mutasi ke kota asing sendirian. Belum lagi sekantor rata-rata tak berani berbincang sambil menatap mata langsung, saking sungkannya"

Man... pasti kadang terasa sepi dan terasing.

Oleh karena itu, selalu kusempatkan berbagi senyum, mengobrol sambil menggali pengetahuan dari beliau yang jelas lebih dalam dan berisi. Entah ekonomi, agama, musik, sampai warung kopi enak di sekitar Kupang. Itu sangat berkesan buatku.

Seringkali, Susan sang sekretaris sebal bila melihatku bersiap masuk ke ruangan beliau. "Ihhh... pasti lama deh ini, aku duluan bawa berkas aja," begitu ia bersungut dengan centil.

Ada satu kisah beliau yang tertanam dalam di hatiku. Tentang seseorang yang mengikat kuda dengan mengikat simpul. Kisah dari beliau itu sukses menghantui, membuatku bertanya dalm hati, sudah maksimalkah usahaku melakukan ini? Masih adakah simpul pengikat kuda yang masih bisa kulakukan? Lakukanlah. Jangan bergantung pada nasib.

Beliau Bukan Sekadar Kepala Kantor Bagi ku.
Ia adalah  orang yang selalu kuanggap sebagai sosok bapak. Bapakku di Pulau Timor. Sebagai anak, hal yang membuat bapakku kesal tentu tak boleh terjadi, seperti ketika makanan terlambat datang di aula (aku mengingatkan Francklin akan hal itu dan sayangnya jadi salah chat di Yakin Bisa, hehe).

Aku senantiasa bersyukur sempat mendapat pengalaman bersama beliau. Sekiranya Ibu Evimia melalui komentarnya di atas juga merasa sulit mendapatkan penggantinya. Banyak yang berkata hal senada padaku.

Pasti sulit bagi kami. Tapi begitulah hidup,
"jangan sedih karena ini berakhir, tapi ucapkan thanks God karena ini terjadi"


Aku mengetik hal diatas sambil tersenyum.

* * *
Hai, Pak Syaiful...

Nah, sudah sampai di akhir tulisan nih... semoga Bapak belum bosan bacanya. Bila bosan, tahan sedikit lagi, ya Pak, hehe....

Terima kasih banyak, Pak Syaiful, atas semuanya.
Terima kasih telah senantiasa percaya pada saya.

Saya selalu doakan Bapak sekeluarga dimudahkan segala keinginannya,

Mohon maaf bila selama ini saya mengecewakan Bapak. Saya yakin saya banyak mengecewakan, bahkan saya seringkali kecewa pada diri saya sendiri (gubrak). Doakan saya jadi lebih baik ya, Pak...

Sampai jumpa nanti, Pak... sampai bertemu lagi di hari dan kesempatan lain...

Saat hari itu tiba, dan pasti hari itu tiba, saya ingin bisa bercerita kepada Bapak dengan bangganya, "Pak... saya sekarang sudah naik jabatan, 925 Band dan pajakatambua.com sudah keren sekarang Pak. Saya baru baca Tempo, selamat bisnis ayam kampung Bapak sudah merambah Singapura dan Jepang..."

Amiin... hehe


sebagai penutup, saya kutipkan kata-kata yang di pos Pak Ridwan Kamil di Instagram-nya tempo hari yang membuat saya otomatis ingat pada Pak Syaiful.
Kalau kau ingin semua orang suka padamu, jangan jadi pemimpin. Jual lah es krim.

Oiya, Bapak tak keberatan kan saya jadikan bapak saya yang ketiga? Mohon maaf, Pak, tapi slot pertama dan kedua sudah diisi ayah kandung dan Bung Karno. Abdee Slank sudah protes, kenapa ia jadi yang keempat.
hehe....


dari:
Dewa Made Cakrabuana Aristokra
Anak Bapak yang paling bandel



Sebagaimana ujar pujangga-pujangga melayu, dari yang klasik sampai yang kekinian, dari Sutan Takdir Alisjahbana sampai Andrea Hirata, kiranya sepakat akan satu hal: cinta memang membawa bahagia, tapi jangan lupa, banyak juga petaka yang dibuat atas nama cinta.

Tak percaya?

Tengok si Mirah dengan Midun.
Bukan main gelora cinta sejoli ini, sampai-sampai dahulu saat Midun meminang Mirah, ia merelakan delapan ekor sapi kesayangan untuk jadi mahar. Sayang seribu sayang, bulan kemarin Mira tertangkap basah tengah berasyuk-masyuk dengan Todi, pegawai honorer kelurahan. Midun pun gelap mata, dibutakan cinta. Ia tebas itu Todi punya leher, tanpa ba-bi-bu. Ahh… atas nama cinta.

Lain lagi kisah pecinta bola.
Fans tim kaos oranye Jakarta dengan biru Bandung, misalnya. Bukan main mereka fanatik pada kesebelasan masing-masing. Cinta mati! Berkat itu pula, tiap keduanya bertemu, entah di stadion, di parkiran, terminal, bengkel, jalan, pasar senggol, warung tegal Bibi Ainun,  jamak tragedi baku hantam sampai hadang-hadangan bus segala.

Semua karena cinta.

Saking cintanya Hitler pada ras Arya, ia berambisi mencaplok Eropa. Karena cinta pada darah-murni, Voldemort juga membunuhi kaum yang tak sepaham.

Sampai di paragraf ini, kok kesannya cinta begitu mengerikan, ya? Ternyata cinta bisa berujung tindakan ekstrim, dus menjadikan pecandunya berlaku nekat. Anteng saja mereka merasa benar dengan menjadikan kecintaan sebagai dalih.

“Demi cinta, matipun abang rela, matiin orang juga rela,” begitu mungkin tekad Midun dalam hati, bersama penggila bola, Hitler, Voldemort, dan jutaan pecinta-pecinta lain di bumi.

Tak hanya itu saja, Kawan! Masih ada lagi bentuk cinta yang tak kalah rumitnya: cinta pada agama!
Benar, aku sedang bicara tentang hal yang paling sungkan untuk diobrolkan abad ini, cinta yang terkadang (kalo ndak mau dibilang sering) berujung ke tindakan ekstrim nan anarkis.

Nah... masih mau lanjut?
* * *

Pertama-tama, mari tundukan kepala sejenak untuk aksi yang menampar Indonesia tepat di wajah ibu kota hari Kamis, 14 Januari 2016 kemarin. Untuk polisi, tentara, sipil, baik yang menjadi korban maupun yang sigap mengamankan keadaan, kalian adalah pahlawan. Salut! Sulit kubayangkan saat kita tengah asyik duduk sambil ngopi, tiba-tiba diberondong peluru dan bom rompi. Not cool, Bro!

Kedua, aku menghindari frasa 'teroris' dan memilih 'ekstrimis'. Aku merasa neokolonialis/ nekolim, penjajah gaya baru itu, ingin mendekatkan frasa 'teroris' itu dengan saudara-saudara muslimku. Kalian tahu sendiri bagaimana sibuknya mereka mencap ‘serangan didalangi teroris’ bila pelakunya mengaku muslim. Atau ‘ceroboh’ meninggalkan passport bertuliskan Islam. Atau kemudian passport itu tidak meleleh meski gedung WTC ambruk lebur. Modus!

Tapi bukan berarti tak ada pelaku teror yang mengaku memeluk Islam, kan?

Bila kemudian ada yang seperti Amrozi, Imam Samudera atau si Mukhlas yang mengaku melakukan pembunuhan massal sambil mengatasnamakan Islam, aku bakal tersinggung. Aku harus tersinggung.
Setahuku, Islam bukanlah demikian. Itu yang kulihat tercermin dari almarhum bibiku yang mualaf, suaminya yang kiai, idolaku Bung Karno, Gus Dur, K.H. Zainuddin M.Z. yang kudengar di radio dahulu sampai sahabat-sahabatku sejak kecil yang banyak sekali memeluk Islam. Mereka penganut agama taat yang menjunjung kemanusiaan. Kurasakan, agama yang mereka anut adalah ajaran yang mengajarkan kebaikan, sebuah tuntunan.

Menurutku, ekstrimismu tak ada kaitannya dengan agama. Meski pelaku senantiasa mengaku begitu.

Tahukah engkau, bahwa Gandhi dibunuh oleh seorang ekstrimis yang beragama Hindu? Namanya Nathuram Godse, Hindu garis keras. Kenapa ia membunuh Gandhi yang notabene Hindu juga? Ya karena pendirian Gandhi yang mendukung hasrat kaum muslim di Pakistan untuk merdeka, lepas dari India.

Ekstrimis pembunuh Gandhi mengaku beragama Hindu…

Di Amerika sana, adalah Robert Lewis Dear, seorang penganut Kristen taat, tetapi ia juga menembaki pengunjung sebuah klinik. Motifnya? Entahlah. Yang jelas ia banyak menyitir pandangan-pandangan kelompok Kristen sayap kanan ektrim. Ada juga Dylann Storm Roof menembaki jemaat gereja di Charleston sana sehabis berdoa bersama.

Kedua ekstrimis ini mengaku beragama Kristen.

Contoh lainnya datang dari tetangga kita, Myanmar. Pembantaian etnis Rohingya kemarin diamini oleh seorang Biksu Buddha bernama Ashin Wirathu. “Saya bangga disebut sebagai umat Buddha garis keras,” tutur Ashin. Wajah Ashin juga menghias sampul Majalah Time dengan titel, ’The Face of Buddhist Terror’. Time juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai Bin Laden Bangsa Burma.

Ashin Wirathu mengaku beragama Buddha.

Terakhir, Trio Bom Bali: Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Aku sempat menonton sidang mereka, dan mereka dengan bangganya mengaku beragama Islam. Sambil menjelaskan langkah-langkah merakit bom mobil bermodal filling cabinet.

Kawanku, tak perlu malu mengakui ada orang ngaku-ngaku memeluk agama kita dan melakukan aksi teror, apalagi sampai mencari alasan macam "ah, itu kan konspirasi ulah propaganjen asing demi merusak citra kita. Lihat topinya NIKE!" Buat apa? Pembunuh Gandhi boleh mengaku beragama Hindu. Tapi itu kan menurutnya pribadi, bukan menurutku. Agama tidak mengajarkan untuk brangasan kekerasan. Bukannya agama adalah tuntunan hidup yang menata kehidupan manusia untuk jadi lebih baik?

Ekstrimis akan selalu mengaku membela cinta agama, karena ingin simpati darimu, dari kita. Sayangnya kita sering tutup mata. Atau pura-pura tutup mata.

Ingat lima hari setelah tragedi 11 September? George W. Bush memakai kata ‘crusade’ (perang salib) untuk perang melawan kelompok yang ia sebut teroris. Ia ingin membangkitkan simpati lewat romantisme agama. Tiada beda dengan Nathuram Godse berdalih membela kepentingan Hindu India. Pun tak berbeda dengan trio bom Bali yang memakai “demi membela Islam” sebagai dalih.

Poso, Ambon, 11 September, Rohingya, Timur Tengah -di manapun- agama akan senantiasa digunakan untuk membangkitkan romantisme pecinta agama, demi memaklumi tindakan mereka. Bahayanya, seringkali kita ikut membebek. Padahal, ini simple as fu*ck. Sekelompok orang membunuhi seseorang lainnya. Apapun alasannya, itu salah. Titik. Habis perkara. Bukannya begitu ya?

Sedihnya, ekstrimis akan selalu ada. Selalu…

Entah berpanji agama, berbendera klub bola, pembela suku, dan lain-lain. Selama masih ada alasan hati ini untuk mencintai, untuk mengamini serta mengimani sesuatu, beriringan pula muncul keberanian untuk membelanya. Mati demi cinta! Meskipun, objek cinta sendiri mungkin ndak ingin dibela dengan cara begitu. Kalau saja cinta bisa ngomong. Sayangnya enggak.
* * *

Lalu, mengapa kadang kita gamang, tak satu suara dalam melihat aksi penjahat-penjahat kemanusiaan itu? Mungkin kita merasa sendirian. Mungkin juga kita merasa kurang panutan.
Dalam hati kecilku yang sederhana ini, ingin rasanya melihat para tetua kita di induk organisasi agama MUI, PGI, KWI, WALUBI, dan PHDI duduk semeja. Bersama presiden dan jajarannya, menyerukan pada kita, umatnya,

“lihat pelaku itu? Jangan percaya bila mereka mengaku beragama ini itu. Gombal! Mereka bukan Islam. Sebagaimana pembunuh Gandhi juga bukan Hindu. Mereka orang-orang sesat, apapun agamanya. Selain pasal terorisme, mereka juga harus kena pasal penistaan agama, karena ngaku-ngaku agama yang luhur ini. Ngrusak nama!”

Ah… alangkah indahnya!

Mengucap belasungkawa, apalagi membuat hestek, adalah perkara mudah. Mengejek yang share tentang aksi teror di media sosial lebih mudah lagi.  Yang susah itu adalah mengakui bahwa aksi teror adalah bagian permasalahan sosial kita, sambil mengesampingkan ego, suku, agama, atau pembeda lainnya untuk bersama-sama berseru, me-reclaim agama dari para peneror.

Hey ekstrimis.... Kamilah anak-anak pewaris syah berbagai agama damai ini, bukan kau! Kau tidak beragama!

… dan hell yeah, ekstrimis…. #KamiTidakTakut!


(ditulis untuk kulkulbali.co awal Januari kemarin)

Ini kisah menarik!
Dijamin buku sejarah orde baru jaman dahulu sengaja tak menceritakannya.
*  *  *

Saat itu -aku lupa tepatnya kapan- aku duduk manis di depan layar televisi. Kick Andy sedang kedatangan tamu, Tim Ekspedisi Fastron Euro Asia 2011. Sekelompok lelaki traveler  kekar itu tengah tengah diwawancarai lelaki tirus setengah kribo. Oh yeah, Bung Andy kala itu belum gundul.

Team leader ekspedisi, Bucek Deep, berkisah tentang satu penggalan unik dalam perjalanan mereka. Saat itu Bucek bersama tim sedang menempuh perjalanan sepanjang negara-negara pecahan Uni Soviet, dan berada di negara persinggahan yang ketujuh, Uzbekistan. Tepatnya di Desa Khartank, dekat dengan Samarqand.

Di sinilah terletak sebuah masjid, tempat Imam Al Bukhari dimakamkan.

"atasnya masjid, bawah tanahnya makam Imam Bukhari"
Pernahkah engkau mendengar nama itu? Pasti pernah! Aku yang beragama Hindu saja sering mendengar nama besar Imam Bukhari. Tiap kutipan ayat Islam di acara televisi hampir selalu menyitir karya Beliau. Imam Bukhari memang ahli hadist yang masyur, hampir seluruh ulama merujuk padanya. Beliau lahir dan meninggal di Bukhara dan itulah sebab tim ekspedisi ingin sekali berkunjung ke masjid tempat Beliau dimakamkan.

Sayang, Bucek c.s. sampai di sana saat malam telah datang. Mereka pun tak berharap banyak.

Jadi...

Tiba-tiba aku memilih buku karya seorang bhiksu di rak Gramedia. Kawan-kawan punkers-ku bisa meloncat dari kursinya bila mendengar Dewa Cakrabuana memilih buku bhiksu, alih-alih buku sejarah G30S atau majalah Rolling Stone.

Oke, lanjut.

Sebuah buku yang ditulis bhiksu...

Apa yang ada di pikiranmu? Ini bakalan dalam, panjang, dan bersayap, mungkin. Kubayangkan isinya akan luhur, berbahasa sastra tinggi. Aku bukanlah penikmat sastra-hero macam Pramoedya, atau Dee yang bahasanya mengawang indah. Hanya pria sejantan Rangga di AADC yang kayak gitu.. Nah aku? Membayangkan pembukaannya saja sudah membuatku mulas. "Pasti dibuka dengan kutipan mutiara Sang Sidharta, Berat!" begitu pikirku.

Kurobek segel plastiknya -ritual menyenangkan tiap beli buku anyar- lantas kubuka halaman awal. Mulai kubaca kalimat pertama sang penulis di bagian Prakata... kata pembuka mutiara macam apa yang ku temukan?

"Pisang itu keren banget."

Eh?
Pisang itu... WTF? Lho kok pembukaannya gitu?


Aku mulai merasa bhiksu penulis buku ini kurang waras. Yasudah, kunikmati saja lembar demi lembar, toh sudah kubeli. Halaman demi halaman berlalu, dan ahh... akhirnya aku tersadar. Bhiksu yang awalnya kukira kurang waras ini ternyata sangat waras. Mungkin orang paling waras yang pernah melintas di kehidupanku.

Namanya Ajahn Brahm. :)
* * *


Judul           : Don't Worry Be Hopey
Penulis         : Ajahn Brahm
Tebal           : 205 halaman
Harga         : Lupa! 60ribuan? Yang pasti nilainya jauh diatas harganya.
Terbitan     : Pentingkah?


Beberapa kali kudengar nama Ajahn Brahm. Kudengar, ia penulis dengan filosofi Buddhis yang dihormati. Ya sebatas dengar itu saja. Genre motivasi dan pembangunan kepribadian bukanlah genre favoritku. Terlalu satwam seperti air mengalir di telaga, sementara aku merasa lebih klik dengan buku bersifat rajas, semangat seperti api menjilat-jilat.

Ajahn Brahm adalah penulis seri buku Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Pernah dengar, kan?Awalnya aku berkenalan dengan si cacing sekitar tiga tahun lalu, itu pun sekadar lewat. Mungkin saat itu aku dan si cacing belum berjodoh, tapi entah mengapa ia selalu mendapat tempat istimewa di hati. Saat ulang tahun sahabat kerjaku, Ricky, kuhadiahi dia buku si cacing. Saat menjenguk Pak Winasa di lembaga pemasyarakatan, buku si cacing jua yang kubawa untuk menemani mantan bupati idolaku melewati harinya disana.

See? Selama ini aku melihat si cacing sekadar sebagai "pilihan aman". Sebuah bingkisan yang tepat diberikan kepada manusia dengan selera apa pun.

Jadi, buku Don't Worry Be Hopey ini adalah buku pertama Ajahn Brahm yang kuberi atensi penuh. Atensi itu datang dengan sendirinya, karena buku ini -entah kenapa- memberikan sensasi yang menagihkan. Mengingatkanku saat membaca J.K. Rowling's Harry Potter, dan beberapa buku karya Dahlan Iskan, dimana aku membaca buku-buku itu sampai larut petang sambil bergumam,

"sialan sudah jam setengah duabelas. Oke satu bab lagi dan tidur, besok masuk sekolah...."

... Jrenggg... terjadi khilaf-literasi, dan tiba-tiba jam sudah menunjukkan 03.00 dini hari!

Buku Ajahn Brahm ini juga punya daya magnit seperti itu... sekaligus roller coaster emosi!

Membaca pendahuluannya cukup membuat senyum jahil penasaranku timbul. Ajahn Brahm bisa bertransformasi menjadi sahabat yang jenaka, namun bisa mendadak berubah menjadi ayah yang penuh kasih. Beberapa bab  membuatku terpingkal sampai memukul tegel. Namun persis bab selanjutnya bisa membuatku tertegun, meletakkan buku, lantas menelpon ibu yang jauh disana sekadar bertanya, "hai ibu... sehatkah engkau disana?"

Ahh... Ajahn Brahm!

Kita tak saling kenal, tak pernah bersua. Bahkan mungkin seumur hidupku takkan pernah sempat bertatap wajah denganmu. Sekadar melihat potret wajahmu di halaman belakang buku ini, aku teringat Jung Wah, keponakan yang baru lahir. Pure! Wajah tersenyum tenang yang memandang dunia tanpa tendensi, tanpa motif. Tak terpengaruh hiruk-pikuk dunia yang memikat namun mengombang-ambingkan.



Senyummu teduh tulus. Welas. Sungguhpun ku yakin dalam pemahamanmu ada begitu banyak hal-hal sujati tentang dunia, tapi dalam buku ini kau mampu menjabarkannya secara manis nan sederhana. Tapi tetap mengena! Layaknya seorang ayah ilmuwan astro-fisika yang menjelaskan kepada seorang anak kecil bodoh cerewet, mengapa bintang bersinar di langit malam. Bukan dengan menjabarkan reaksi fusi maupun magnitudo semu bintang, melainkan dengan analogi sederhana sampai anak itu tersenyum puas sembari menghargai keindahan bintang dan sang penciptanya.

Anak kecil bodoh itu aku.

Otakku yang cerewet seperti kerbau liar jadi tersenyum puas tepat di kalimat penutup buku mu, Bhante. Mungkin begini perasaan Sang Ekalawya: tak pernah bersua dengan Drona, tapi merasa begitu banyak telah menerima pemahaman baru tentang hidup dari guru itu.
* * *

Jadi, buku ini memang luarbiasa, Kawan!

Came on, bila dalam hidupmu ada selembar daftar bertitel, "Sepuluh Buku yang Wajib Baca Sebelum Kiamat," buku Don't Worry Be Hopey karya Ajahn Brahm ini wajib masuk dalam sana. Nikmati bukunya, nikmati hangat dan semangat sang penulis langsung ke hatimu.

Sedikit saran humble dariku untuk kalian semua, sahabatku,

"Bila engkau jalan-jalan ke toko buku, aku mendoakanmu masih menemukan buku luarbiasa ini di rak-raknya. Semoga pula hatimu tergerak untuk menebusnya di kasir. Semoga kalian, -kau dan buku Don't Worry Be Hopey- berjodoh!"

Read and smile :)
"... pasar di pagi hari, bersama Niang..."

Kubuka mataku perlahan, mengejap-ejap. "Sial, baru jam lima kurang lima belas!" kutukku dalam hati. Kadang sengaja kusetel alarm gaduh handphone di jam-jam ini, sekadar untuk terjaga lantas tidur lagi. Tahukah kalian, sensasi bangun awal dan menyadari masih ada waktu tidur adalah menyenangkan? Ha!

Tapi tidak untuk pagi ini. Pagi ini alarmku tersetel pukul 06:23... dan 06:25.... dan 06:30. Sekarang baru 04:45. Masih lama!

Ada apa gerangan?

Entahlah... tapi tubuhku langung terjaga penuh tanpa lelah. Padahal seingatku aku masih terjaga jam 01:45, artinya aku baru tidur tiga jam. Aku tidak merasa aneh, malah tersenyum lebar. Mungkin benar, luka itu tempatnya di fisik, namun lelah dan menderita itu tempatnya dalam hati, tergantung bagaimana kita memikirkannya. Satu lagi dari sekian banyak hal baru yang batin dan tubuhku alami di dua minggu ini. Dan atas semua hal itu,  aku bersyukur. :) 

* * *


Masih berbaring, kubuka tirai jendela di sebelah kasur. Berkas sinar malu-malu tampak tersamar di balik atap rumah tetangga, membuat rumah tetangga seperti benda gelap besar dengan sedikit sinar mentari di belakangnya. Ah, Kupang... kau dianugerahi lokasi yang lebih timur dari Bali, sehingga menyongsong Hyang Surya lebih dahulu. Jam lima subuh sudah benderang!

Sungguh, itu pemandangan yang keren. Terasa indah dan hangat!

Spontan saja aku melompat ke pemutar musik. "Mana lagu Melati Suci dari Guruh ya..." batinku sambil menyusuri track list. Ini dia! Segera ku klik tombol play, dan mengalunlah lagu itu. Selimut yang tadi tercecer di lantai kini kugulung di badan, dan aku duduk manis menghadap jendela. Menghadap ke arah timur.

Dalam duduk diam ini, pikiranku melayang jauh ribuan kilometer ke kampung halamanku.