Pertengahan Tahun 2008. 
Kejadian ini hampir sebelas tahun silam. Hari itu adalah hari pertama kami duduk di bangku kampus. Mata kuliah pertama pagi itu adalah “Pengantar Perpajakan”. Santer terdengar, bahwa dosen mata kuliah ini agak eksentrik. Dosen beken, nih! Pukul sepuluh tepat, kelas beliau pun dimulai.

Para mahasiswa memandang depan kelas dengan takzim. Dosen killer, nih! Menyimak perkenalan, dilanjut kisah singkat pengalaman beliau yang telah malang melintang di dunia perpajakan. Tiba-tiba, sang dosen berdiri. “Hey, Engkau,” ujarnya sambil menunjuk hidung salah seorang mahasiswa.
“Coba kau terangkan, menurut kau pajak itu apa?”

Mahasiswa yang ditodong di hari pertama kuliah itu otomatis blingsatan. Keringat dingin! Cepat-cepat dibacanya kitab tebal yang tengah ia pegang. “Anu, Pak... pajak adalah kontribusi wajib kepada negara...” Terbata-bata, mahasiswa malang itu melanjutkan, “pajak bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan langsung. Pajak digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, Pak.”

Kelas hening.
Mendengar jawaban textbook begitu, sang dosen diam, lalu melepas kaca mata. Kemudian ia duduk. “Bah, kaku sekali kau,” ujarnya. Para mahasiswa saling pandang. Tegang. Tak dinyana, sang dosen kemudian terbahak-bahak, hampir terjengkang dari kursinya.  “Haha! Kutanya pajak menurut diri kau, malah kau baca pengertian pajak menurut pasal satu!”

Beliau melanjutkan orasinya. “Coba kalian rasakan pakai hati. Pasal itu bilang, bahwa pajak sifatnya wajib. Terutang! Maksa! Tidak mendapat imbalan langsung pula. Bah! Seram tidak kau mendengarnya?” tanya sang dosen retoris, lebih kepada diri sendiri dibanding pada kami. “Begitu lah definisi pajak menurut undang-undang.”

Kemudian senyum sang dosen mengembang. “Sekarang, coba bayangkan, kalau defisininya macem begini: pajak adalah suatu bentuk patriotisme! Wujud nyata membela tanah air dengan berkontribusi pada pembangunan negeri. Elok nian! Karena memang seelok itulah pajak!”

Para mahasiswa masih bengong. Kini, sang dosen makin bersemangat. ”Dari Dana BOS untuk adik kalian sekolah di kampung, biaya pembangunan Tugu Monas, sampai Bandara Sentani di Papua bukanlah iuran penduduk sekitar. Itu hasil gotong-royong seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke, dalam bentuk membayar pajak. Itu manfaatnya pajak,” tandasnya.

“Masalahnya, apa kita semua sudah memandang pajak seperti tadi? Atau jangan-jangan masih melihat pajak sebagai momok. Nah, di sana lah. Itu tugas berat, tugas kita semua,” ujar sang dosen, menutup wejangannya pagi itu.
*  *  *

Oh pajak!
Kalau mau jujur, hampir pasti kata satu ini bukanlah kata favorit sebagian besar kita. Terlebih bagi pengusaha! Lord Thomas Dewar, seorang pengusaha whisky abad 18 asal Skotlandia, bahkan pernah berujar,
“the only thing that hurts more than paying an income tax is not having to pay an income tax.”
Ouch!

Tahu kah kawan sekalian, sebagaimana Pendidikan Nasional dan Pancasila, bahwa pajak juga punya hari peringatan?

Wajar kalau belum tahu.
Toh, di tahun 2019 ini Hari Pajak baru diperingati untuk kedua kalinya. Peringatan ini mengacu Keputusan Direktur Jenderal Pajak di 2017. yang menetapkan tanggal 14 Juli 1945 sebagai Hari Pajak.

Mengapa 14 Juli 1945?
Juli 1945, bulan yang sibuk berisi persiapan kemerdekaan. Bung Karno selaku Ketua Panitia Perancang UUD melaporkan persiapan dan beberapa agenda penting yang perlu dibahas dalam sidang kedua BPUPKI. Salah satu agendanya adalah merancang batang tubuh Undang-Undang Dasar.

Pada tanggal itulah, Radjiman Wediodiningrat selaku Ketua BPUPKI melontarkan istilah pajak. Harus ada aturan hukum soal pungutan negara yang sifatnya wajib. Sejak itu lah pembahasan mengenai pajak terus bergulir, bahkan pajak dirincikan sebagai sumber penerimaan negara.

Nah, demikianlah.
Akhirnya kata “pajak” muncul dalam kehidupan berbangsa kita sejak saat itu, hingga kini. Atas jasanya, nama Radjiman Wediodiningrat diabadikan sebagai nama salah satu gedung di kompleks kantor pajak.

Bagaimana Peran Pajak Kini?
Tujuh puluh empat tahun berlalu sejak proklamasi, pajak telah dan terus menjadi penopang utama pembangunan tanah air. Berkaca pada APBN 2019, penerimaan perpajakan diproyeksi 1,786,4 triliun rupiah. Sementara, total pendapatan negara diproyeksi sebesar 2.165,1 triliun. Artinya, sekitar 82% penerimaan negara bersumber dari perpajakan. Sisanya? Dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.

Cukupkah pendapatan segitu?
Jelas tidak!
Anggaran belanja kita besarnya 2.461,1 triliun. Dibandingkan dengan belanja, pendapatan kita masih “minus” 296 triliun.

Mungkin kawan sekalian membatin,
“kok besar pasak daripada tiang? Pengeluaran jangan lebih dari pendapatan, donk!” 
Dalam skala keluarga, seorang ayah mudah saja menekan pengeluaran sang anak, agar sesuai dengan pendapatan keluarga. Namun dalam skala negara, lain cerita. Akan kah penyelenggara negara berkata, “Maaf, adik-adik SD sekalian. Tahun ini tak ada dana BOS, ya. Pendapatan negara cuma 2.165,1 triliun, sementara anggaran belanjanya 2.461,1 triliun. SPP kalian bayar sendiri dulu ya?”

Tidak. Negara tidak boleh berkata begitu. Apa pun yang terjadi, program pembangunan tak boleh terhambat, apa lagi tertunda. Tugas pemerintah lah untuk mencari sumber pembiayaan. Salah satunya dengan utang luar negeri. Satu simpul didapat di sini: bila penerimaan kurang, ia ditambal dengan utang.

Dari ilustrasi sederhana di atas, pilihan solusinya cuma dua. Pilih naikkan pajak, atau perbesar  utang. Atau dua-duanya. Tentu opsi pertama adalah favorit kita semua. Pemerintah mana yang sudi dicap sebagai pengutang? Apalagi publik sangat sensitif pada isu utang luar negeri. Jadi, tinggal naikkan tarif pajak saja, biar penerimaan negara jadi aman. Sederhana. Bukan begitu?

Bukan. Sayangnya tidak sesederhana itu.

Menaikkan pajak secara serampangan justru akan mencekik iklim usaha, kontra-produktif pada ekonomi secara keseluruhan dan membuat rakyat makin antipati pada kata pajak. Pada kenyataannya, penyelenggara negara justru memperkecil tarif. Misalnya, pajak penghasilan yang dahulu 1% dari omset kini turun menjadi 0,5%.

Mengapa dilakukan hal macem penurunan tarif pajak, di saat kita butuh penerimaan negara yang lebih besar?

Penyelenggara negara mungkin mafhum.

Bahwa, kualitas kesadaran dan kecintaan akan pentingnya pajak perlu digenjot jua, selain usaha  untuk menggenjot kuantitas penerimaan pajak. Dengan kecilnya tarif, sederhananya cara penghitungan sampai mudahnya pembayaran, penyelenggara negara berharap kesadaran akan pentingnya pajak dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Bahwa tiap orang bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunan negeri, dengan menjadi pembayar pajak.

Masalahnya, agar pajak bisa menjadi kesadaran komunal segenap rakyat, perlu usaha ekstra, terutama dari Direktorat Jenderal Pajak. Menanamkan citra pajak sebagai sesuatu yang mudah, perlu dan loveable tentu bukan perkara bim salabim semalam.

Tak Kenal Maka Tak Sayang
Kenal aja belum menjamin bakal sayang, kan. Apalagi ndak kenal! Angka-angka pencapaian perpajakan dalam APBN memang penting. Namun yang tak kalah penting adalah kesadaran kita akan pentingnya pajak. Mari berkenalan dengan pajak.

Ketika beranjak ke kantor pos atau bank untuk membayar pajak, bayangkanlah hal ini: Sebagian dari uang yang kita setor akan terbang jauh ke pelosok negeri, membiayai sekolah seorang anak dalam wujud Dana BOS. Uang yang kita setorkan itu juga menjelma menjadi gaji gurunya, perbaikan sekolahnya, hingga menjadi sebuah jembatan, agar anak itu pergi ke sekolah tak lagi lewat sungai yang deras.

Anak itu bisa mengenyam pendidikan, melalui pajak yang kita bayar.

Bayangkan lagi. Tiap kita membayar pajak, seorang pasien renta yang tengah didera sakit keras, bisa ringan biaya pengobatannya berkat BPJS. Premi yang ia bayar tak seberapa dibanding obat dan perawatan yang ia terima. Dari mana biaya sisanya? Salah satunya dari pajak yang kita bayar.

Jalan raya diaspal lebih mulus, renovasi pasar di kelurahan sebelah, hingga TNI dan Polri yang mendapat gajinya sehingga kita dapat tidur nyenyak, takkan bisa terwujud tanpa kita gotong-royong! Hebat bukan?

Melalui Hari Pajak di 14 Juli ini, kami, anak di pelosok negeri, orang renta di ranjang RSUD, beserta segenap rakyat mengucapkan terima kasih pada para pembayar pajak.

Tiap jaman punya pahlawannya sendiri.
Saat era revolusi fisik, Indonesia memiliki Bung Karno, Hatta dan bung-bung lain yang mengambil peran merebut kemerdekaan. Di jaman ini, pembayar pajak sebenarnya adalah pahlawan. Berkat pembayar pajak, kemerdekaan bisa diisi, pembangunan bisa digalakkan, dan Indonesia bisa bergerak maju untuk semakin sejajar dengan negara-negara lain.

Demikianlah sekilas tentang pajak, dan harinya.

Apakah perayaan ini hanya akan menjadi sebuah tanggal dengan gegap gempita? Dan menjadi angin lalu? Tugas kita lah untuk memberi makna pada tanggal itu. Penyelenggara negara melalui Direktorat Jenderal Pajak selalu berusaha untuk membuat segenap rakyat makin kenal, sadar, hingga sayang pajak. Salah satunya dengan peringatan Hari Pajak. Karena pajak adalah urat nadi pembangunan. Berkontribusi di pajak berarti ikut urun rembug, tanda ikut memiliki Indonesia bersama. Demi Indonesia yang lebih baik.



Sebagai penutup, ijinkan aku untuk mengutip Oliver Wendell Holmes Jr. Ia adalah hakim yang menjabat sebagai Hakim Asosiasi Pengadilan Tinggi Amerika Serikat dari 1902 sampai 1932. Kata-kata beliau konon tertulis di atas pintu masuk gedung Internal Revenue Service, Direktorat Jenderal Pajak-nya Amerika Serikat:

“Taxes are the price we pay for civilized society”
Semoga bermanfaat!



niatnya dimasukkan ke situs resmi instansi
eh, tak kunjung di-approve
yasudah, masuk sini saja  

...penyebutan gampang dari "sesajian, alias "banten"

Orang-orang Bali mengenal sebuah konsep; Tri Hita Karana namanya. Apa artinya? Tiga Penyebab Kebahagiaan. Bagi orang Bali, ada tiga hubungan yang harus dijaga keharmonisannya, demi tercapai kebahagiaan. Apa saja?

Pertama, Parahyangan. Hyang, harmonis dengan Sang Pencipta.
Kedua, Pawongan. Wong, harmonis dengan sesama manusia.
Terakhir, Palemahan. Harmonis dengan lingkungan dan alam.

Nah, harmonis dengan lingkungan dan alam.

Alam tak hanya berarti pohon, air, dan sejenisnya lho ya. Juga yang lain 😁, yang tak kasat panca indra. Menjalin hubungan harmonis ini bukan berarti takut. Apalagi takluk! Cukup hormat. Respek. Bahwa kita sadar, hidup bersama di dunia ciptaan-Nya.

Bila antar umat beragama di Bali mengenal istilah "ngejot", saling berbagi kue saat hari raya Lebaran maupun Galungan dengan tetangga yang berbeda agama, maka sujatinya sajen juga seperti itu. Orang Bali menyakini bahwa penghuni alam selain makhluk nampak itu ada. Nah, siapa coba, yang menciptakan mereka selain Sang Maha Pencipta sendiri?

Haruskah mereka dimusuhi?
Atau malah disembah-sembah?
Di Bali jawabannya: Tidak juga.

Mereka cuma tetangga. Saat kita -yang konon makhluk paling berakal- memiliki makanan lebih, dan kebetulan mereka suka wewangian, tak ada salahnya berbagi, bukan? Agar harmonis, agar tercapai Hita, kebahagiaan.



Sajen bukan berarti menyembah demit, sebagaimana ngejot bukan berarti menyembah tetangga. Ia hanyalah wujud rasa saling menghormati, demi menjalin hubungan harmonis pada sesama penghuni alam, sesama makhluk ciptaan Sang Pencipta. Jangankan manusia, dengan makhluk tak kasat juga harus harmonis.

Begitulah ajaran dasar di Bali.

Jadi, apa masih kah engkau saat berjalan di tepi Sanur dan melihat rangkaian janur, bunga maupun dupa di sebuah pohon akan bergumam,

"dasar orang-orang penyembah dedemit..."
Kah?
Semoga tidak...

Kalo iya juga ndak papa...



(masih) nuansa Galungan-Kuningan
"... kisah kali ini ndak ada hubungannya dengan latar foto di atas..."

Pukul 10:33 petang, 31 Desember 2018,
Hujan.

Ini adalah malam penghujung tahun. Sejam lagi kalendar sudah harus berganti dari berangka 2018 menjadi 2019.

Lalu... di malam yang keren ini, di mana kah aku? Apa tengah berpesta di sebuah bar penuh alkohol dan musik DJ? Ah, tidak. Atau bermain meriam karbit bambu bersama anak-anak sekomplek? Fuck no. Atau berkonvoi sembari meniup terompet dan menerobos lampu merah? Tidak. Candle light dinner bersama keluarga? Tidak juga.

For the God's sake! Aku sedang berada di kantor!
Sembari bolak-balik ke Bank Daerah NTT yang jaraknya dekat sini.

Malam pergantan tahun ya, lama sudah kulupakan gegap gempitanya. Sejak 2014, masa aku mulai merasa berkewajiban mengawal masuknya pundi-pundi rupiah ke kas negara. Di detik-detik akhir tahun.

Padahal, kukira aku akan bersantai di pergantian tahun kali ini!
"...salah satu sunrise indah di 2018..."

Kulirik kalender di dinding, dan serta-merta sebuah kutukan meluncur,
"Damn... sudah detik akhir di 2018 kah?"
Makin ke sini, aku rasa teori relativitas makin terasa benar. Waktu itu relatif!

Ternyata, dengan makin bertambahnya angka di kue ulang tahun (if I still get any...) waktu terasa makin laju. Makin cepat berlalu! Jarak hangatnya sunrise di awal tahun, hingga berakhir di ufuk barat senja akhir tahun terasa makin sempit. Kilat saja! Apa engkau merasakan hal yang sama? Rasa bahwa tahun baru kok sudah cepat datang, kalau tak mau dibilang terlalu cepat?

2018. Tahun yang banyak cerita.
Namun, tak ada yang kuceritakan.
Tidak di blog ini.
Sayang sekali... postingan blog-ku di tahun ini nihil.

Apa pasal?
Aku bisa saja membuat sejuta alasan. Dua juta malah! Namun yah itu, cuma fuckin alasan. Aku yang malas menulis sekadar berlindung pada dalih sok keren.

Bisa saja aku berkilah, "Ugh, kesibukanku kan terlalu padat. Santai saja tak sempat, apalagi duduk di depan laptop dan menulis... beuh mana ada waktu?"

Namun dengan mudah alasan klasik itu dipatahkan. Oleh hatiku sendiri. "Jangan sok begitu, ah Wo! Dahlan Iskan aja masih selalu sempat menulis. Tiap hari pula! Kau mau mengaku lebih sibuk daripada pemilik koran skala nasional yang habis transplantasi hati, Wo? No shit!"

Mungkin, salahku ada di tempat lain. Kadang, kuingin tulisanku jadi begitu sempurna. Tanpa cela. Macem biografi daripada Bapak Suharto, maupun jurnal ilmiah dengan materi dan kurasi mendalam. Bagus kan? Ndak juga. Alhasil, semua ide itu malah ngendon di draft. Alias tak ter-posting jua. Kisah tentang Soundrenaline, album baru SID, kisah Aji di rumah sakit, semua teronggok. Tak beranjak dari draft.

Sayang, aku malah memandang blogku sebagai etalase adiluhung. Harus sempurna! Yang tanpa sadar justru membuatku takut mengotorinya. Padahal, dulu aku memandang blog sebagai taman bermain. Ya, taman bermain!

Sebuah tempat aku berkeluh kesah. Bercerita tentang naifnya diri ini dalam rangka melawan dunia. Semacam kamar pribadi, yang tentu aku sukai. Di sana, aku bebas memuntahkan apa saja. Agar ia jadi mesin waktu, pembuatku eling akan pengalaman lampauku di masa depan.

Aku jadi ingat perasaanku kala menulis.
Duduk bersila di depan laptop, dengan kopi di tangan kiri dan jiwa punk meledak-ledak di tangan kanan, "oke dunia, akan kulawan engkau sekarang!" Perasaan yang menyenangkan, meski kuakui berat untuk dimulai.  Butuh tekad, butuh niat yang bulat.

Seperti aku saat bangun pagi memandang mentari terbit. Kalian bisa bayangkan betapa menggodanya menunda barang lima menit untuk bangun pagi itu? Haha... snooze!

Dalam hal menyaksikan mentari terbit, bila mata dan niat kupaksakan, nikmatnya akan berlipat. Mentari hangat yang mengintip-intip di ufuk timur, langit gelap yang misterius namun menyegarkan, yang menjanjikan kita cahaya terang asalkan mau bersabar. Sabar untuk bangun, bersabar untuk menanti.

Matahari pagi selalu menyenangkan, namun jarang didapatkan. Jarang pula diagungkan anak indie pemuja senja.Sunset begitu dipuja mungkin karena memperolehnya tak perlu usaha seberat bangun pagi. Kan anak indie hobinya begadang. Mungkin.

Mungkin juga menulis itu seperti melihat mentari pagi ya? Sama-sama butuh tekad, sama-sama berat, namun seandainya berhasil ditaklukan, sensasi yang dijanjikan begitu menyenangkan!

Lalu, aku ingin merasakan sensasi itu.
Lagi
Seperti dulu.
Agar bisa menepis pertanyaan pribadi yang senantiasa mengejekku tiap membuka Chrome atau Firefox...
"Hey... apa kabar blogmu dan Kulkulbali? Benar-benar ingin hidup, atau sekadar menolak mati?"
Nah, ayo ngeblog lagi.
Ayo bercerita lagi!


Ruteng, the night before Christmas
di tengah jeduran mercon dan kembang api


Memulai pacu besi kuda di jam sembilan pagi dari kantorku. Tiga jam berkendara di tengah dera jalanan bopeng, menguras tenaga.

Dilanjut hiking. Mendaki bukit nan hijau selama tak lebih tiga jam. Bayangkan itu, badan bodoh yang terbiasa duduk di kursi kerja kini dihajar alam. Remuk redam!

Tapi sesampai di sana, terbayar sempurna. Puluhan handai tolan, warga ramah menyambut dengan adatnya. Ini desa mereka, Bung! Kita yang ikut adatnya.

Disekitar, wisatawan tak terkira. Jangankan Jakarta, Tiongkok sampai Swedia ada semua. Kami bercengkrama, menikmati nuansa purba, menyimak langit penuh awan, bebas polisi apalagi polusi.

Damai tak terkira. Bukan sekadar sirkus pura-pura, ini nyata.

Waerebo, tempatku mengingat kata "damai" yang hampir kulupa.

Pasti kembali, suatu saat nanti.




Oya, aku juga sempat menuliskan kisah tentang keseluruhan film ini... silahkan klik link di bawah ini



"Heh? Vokalis Linkin Park yang itu bunuh diri? Padahal musiknya termasuk bisa kunikmati, lho Wo..."

Begitu ujar Bli Made, rekan kamarku pagi ini begitu mendengar kabar terbaru Chester Bennington. Kami sedang bersiap berdinas, jadi kami bersiap dari kamar hostel.

Mengejutkan memang, kulihat banyak teman di dunia maya mengekspresikan kesedihannya. Bli Made bukanlah pecinta musik banget, apalagi tipe-tipe distorsi. Namun apa yang ia katakan bisa jadi mewakili ruang dengar banyak orang.

Chester memasyarakatkan metal, dan memetalkan masyarakat.
Itu sahih, my brader!

Musik metal yang awalnya sekadar didengar sekelompok anak berbaju hitam di kamar gelap dengan potongan kepala kelelawar dekat poster Black Sabbath, kini muncul di MTV. Mendominasi!

Yeah.. suka atau tidak, Linkin Park bisa sebesar sekarang mungkin karena ia menandai (dan memprovokasi) suatu perubahan jaman. Apalagi bagi generasiku, yang tumbuh di tahun 90an, saat musik mainstream sedang -duh Gusti- menjemukan.
* * *

Alkisah, pada awal jaman, generasi rapi klimis Inggris ala Mods menguasai dunia. Pasukan tampan ini dipimpin McCartney dan Lennon. Musiknya manis, mengenalkan dunia pada konsep hiburan baru: grup band. Konsep baru ini membawa semangat muda yang menyegarkan.

Tahta musik mainstream dunia dilanjutkan oleh generasi begajulan: rambut gondrong, pakaian serampangan ala Deep Purple, Rolling Stone dan lainnya. Musiknya menghentak, mengenalkan dunia pada distorsi, bahwa musik berisik juga asik. Rock and roll, baby.

Semangat terus berlanjut. Guns n Roses, Jovi, dengan grup seangkatannya yang penuh lateks dan kenakalan giliran mewarnai dunia, boombox, dan dinding para muda. Motto Sex, Drugs and Rock n Roll berjaya kala itu.
Namun, yah tak berlangsung lama.

Dunia musik mengajarkan, bahwa tak ada hegemoni yang abadi. Kegarangan melodi gitar Slash, ingar-bingar glamour Axl pun dirabas seorang anak muda berkemeja flanel dengan kemampuan gitar ala kadarnya, namun jadi diri dan semangat membara garang. Namanya Kurt Cobain.

Saat itulah, kira-kira aku baru lahir.

Kurt tak lama menjadi pangeran, mungkin karena motto terkenal "I hate myself and I want to die..." yang ternyata ia realisasikan. Begitulah, Kurt bunuh diri membawa mahkota musik dunia bersamanya.

Apa kabar dengan tampuk kepemimpinan musik dunia di 90an?

Ndak jelas!

Sebagai pencinta musisi yang benar-benar memainkan instrumen, menjelang millenium 2000 adalah era suram permusikan (dan perfilman) dunia. The Moffats, Hansons, mungkin pengecualian. Tapi sebagaimana Greenday, mereka belumlah bisa disebut penguasa dunia. Dunia malah dikuasai sekelompok pemuda-pemudi tanpa instrumen yang lagunya diciptakan produser dan berjoged di MTV.

Dari Boyzone sampai Spice Girl, Blue sampai F4, dari Britney Hit Me Baby sampai Britney I Am Slave... lol...

Saat itulah, kawanku, tepatnya circa 2002, pemberontakan meletus!

Mungkin dunia sedang butuh yang nakal, yang ndak manis-manis ala Fool Again-nya Westlife.

Dipimpin oleh Linkin Park, distorsi kembali naik kelir panggung. Seriously, bahkan Declaration of Revolution bertitel In The End itu masih terhapal sempurna di benak umat, belasan tahun kemudian terutama di section comment 9gag.

... It started with... (one thing... I don't know why...)

Linkin Park membawa aliran (yang oleh majalah dilabeli) Nu Metal, alias industrial metal. Bumbu pokoknya DJ, rapper dan tukang teriak. Boyband pun tergelincir dari tampuk kekuasaan musik dunia, alhamdullilah ya, digantikan generasi Blink, Linkin, dan Greenday yang mulai merangkak ke permukaan. Rock show!

Crawling, In The End, Pappercut, sampai My December mengawal tumbuh kembangku menutup masa SD 6 Dauhwaru. Aku bahkan meminjam kaset tape Hybrid Theory dari Rahtu, adik kelas yang lebih berada. Bahkan kuingat baju kelas kakakku XII IPA di Smansa Negara bergambar malaikat maut dengan sabit dan sayap capung.

Kurang rebel gemana coba, jaman itu...

Revolusi yang diletup Chester dkk itu masih terasa gelombangnya. Korn, Bullet, Avenged, dan bergenerasi adik-adik Chester Bennington dari beragam aliran distorsi melenggang, melanjutkan obor yang dinyalakan kembali itu. Linkin adalah pemantik api obor itu, meski bagaimanapun musiknya sekarang.

Jujur aku sudah tak mendengarkan mereka lagi sejak sekian lama. Tapi toh saat ini aku tetap merasa kehilangan, mendengar salah satu rebel itu meninggal pagi ini.

Kehilangan seorang yang memasyarakatkan musik metal, menghadirkan metal ke ruang dengar lebih luas. Seseorang yang merabas boyband-boyband berambut belah tengah, seseorang yang mengembalikan gitar bass drum kembali ke panggung.

Terima kasih atas kenangannya, Chester.

Teriakanmu akan senantiasa terkenang, bergema di hati angkatan kami. Terima kasih telah menjadi pengubah jaman. Kau tau, Chester, duh, kini keadaan tak jauh beda. Panggung musik dunia kini dikuasai alat elektronik. Jedug-jedug suara DJ. Di Jembrana, di sekolah, anak band entah kemana, parade-festival band yang dulu tiap minggu kini entah tiada... Di manakah, pemberontak, engkau bersembunyi?

Menanti titisanmu, Chester, generasi awatara baru, yang mengembalikan musik kembali ke alat-alat yang dimainkan tangan dan hati manusia. Band!

Bukankah ini penting? Dan perasaanku membunuhku!

I am a true believer.

(Jumat, 21 Juli 2017. Labuan Bajo)