Nama tokoh dan tempat tentu telah disamarkan...
... dan pengubahan seperlunya

"Nanti akan ada yang datang ya, bawa udang sekilo." Begitu ujar istriku kemarin siang, saat kami asyik nyamil manggis di teras.

"Siapa yang bawain? Teman yang kemarin lagi?"

"Bukan," sergahnya. "Yang kemarin bawa manggis sama langsat itu Sinta. Yang bawa udang nanti Nela. Keduanya sama-sama kerja di Metro Restaurant, sih."

Oiya, perkenalan dulu. Aku Dewa dan istriku bernama Dayu. Istriku kini mengemban jabatan sebagai ibu rumah tangga full time. Sebelumnya, ia sempat bekerja di kapal pesiar. Sebelumnya lagi, Dayu bekerja di Metro Restaurant, sebuah tempat makan fancy di Bali yang sering dikunjungi pesohor dan politisi, baik dalam maupun luar negeri. Karena itulah, kami punya banyak kawan dari dunia pariwisata.

Akibat melorotnya kunjungan wisatawan ke Bali (jelas gara-gara wabah COVID-19), Metro Restaurant menutup operasinya sejak beberapa waktu lalu. Pekerjanya dirumahkan, tentu tanpa dibayar. Suami Sinta adalah pekerja travel, sehari-hari mengantar turis keliling Bali. Sementara suami Nela bekerja di Finna Beach Club yang kini juga tutup. Nama tempat memang kusamarkan, tapi sujatinya itu tempat nongkrong yang sedang hits. Sebelas dua belas lah dengan Omnia.

Begitulah gambaran mayoritas keluarga muda Bali: pekerja sektor wisata, ceruk ekonomi yang menggiurkan. Cukup lah untuk mengatrol keluarga menuju golongan  menengah perkotaan. Namun saat ini, mereka tengah dihadapkan pada tantangan:
"bagaimana kiat menghadapi wisata Bali yang meruntuh, sementara suami istri sama-sama dirumahkan?"
Pasti pelik...

Nah, mari kembali ke teras rumahku.

"Tinn..."
Terdengar suara klakson motor, tanda Nela telah tiba. Aku dan istri bergegas mengenakan masker sembari membuka gerbang. Kedua ibu muda ini bercakap sana-sini. Awalnya aku hanya duduk mendengarkan dari dua meter, jarak aman physical distancing. Tapi akhirnya gatal pengen nimbrung jua.

Kubuka percakapan. "Bagus nih udangnya. Dari mana dapat udang gede-gede begini, Nela?"

"Dari tambak, Bli..."  sahutnya berlogat Bali medok. "Biasanya sih disuplai ke hotel dan restoran. Nah, sekarang kan ndak ada permintaan."

Sekilas, Nela adalah wanita petarung, juga Sinta. Kemarin Sinta datang dengan mobil penuh buah dari kampung untuk dijual kembali ke kota. Kini Nela datang dengan jaket tebal plus masker demi mengantarkan udangnya menembus terik Denpasar. 
Aku pun melanjutkan interogasiku. "Jadi... di dunia pariwisata sekarang para pegawai kebanyakan dirumahkan ya..."

"Yup, Bli. Plus... tanpa kompensasi. Entah sampai kapan..." sahut Nela, setengah mengambang.
Foto istriku ini kuambil dari medsos Nela
Singkat cerita, kami tak ingin menghalangi Nela mengantarkan udang ke pelanggan selanjutnya. Ia berpamitan setelah ijin memfoto istriku berpose memegang dagangannya. Mungkin untuk promosi di medsos. 

Waktu berlalu, matahari telah kembali ke peraduan. Aku bersama Gustu (adik istriku) mulai menyusun arang di halaman. Udang segar begini enaknya dibakar.

Gustu sibuk meracik bumbu: sekadar cabai, kecap manis dan minyak goreng. Istriku asyik di dapur, entah menyiapkan sosis, kentang, dan apa saja yang ada di kulkas. Sekilas, kami serasa hidup di jaman meramu dan berburu.

Mau bagaimana lagi?
Tempat makan pada tutup. Kalaupun buka, siapa yang mau singgah? Membeli bahan makanan pun tak lagi leluasa karena physical distancing. Tapi tak berarti kehilangan motivasi untuk ceria, bukan? Bersama orang-orang terkasih, ceria itu wajib. Demi imunitas.

Menikmati sajian home-made ini, Gustu dan Dayu tersenyum puas. "Udangnya hanya dipakai setengah, lho..." istriku tergelak. "Kemanginya juga petik di depan. Jadi cuma habis empat puluh ribu. Kalau makan di restoran Jimbaran, ini pasti udah kena setengah jutaan." 
Gustu ikut menimpali, "gara-gara corona jadi ndak bisa ke Jimbaran. Makanya Jimbaran yang kita bawa ke rumah."

... gambar yang telah didramatisasi Snapseed...

Duduk bersama di teras seperti ini, kami jadi mengucap syukur. Syukur masih bisa makan yang cukup. Not bad pula rasanya. Lebih-lebih, kami bersyukur karena masih bisa tersenyum di tengah dunia yang sedang muram.

Namun sayang, ternyata hari ini tidak ditutup dengan keceriaan.

Malam makin larut. kegiatan isi perut usai dan perabot telah tercuci. Kulihat Dayu mengernyitkan dahi memandang telepon genggamnya. 
Aku jadi penasaran, "serius amat. Kenapa?"

"Habis lihat story teman. Hmm... sepertinya Metro Restaurant mem-PHK para pekerjanya. Barusan."

Degg... 
Terbayang keluarga kecil Sinta dan Nela yang baru saja kutemui, pasangan suami-istri yang sama-sama kehilangan mata pencaharian pokok. Jelas mereka tidak sendirian. Ada banyak sekali pekerja wisata, ribuan Sinta dan Nela lain di luar sana yang mungkin mengalami hal serupa.

Keadaan ini mengingatkanku pada podcast Pak Chatib Basri bersama Rayestu tempo hari. Mereka membahas dampak ekonomi COVID-19 (bisa disimak di sini), utamanya bagi kelas menengah. Salah satu poin yang beliau tekankan, adalah kaum terbawah ekonomi umumnya sudah memiliki jaringan pengaman sosial. Ada PKH, ada juga subsidi listrik. Sementara, kaum menengah saat ini belum punya jaring semacam itu. Contoh nyatanya pekerja pariwisata yang sedang dirumahkan atau diberhentikan. "Jangan lupakan kelas menengah dalam jaring pengaman sosial," ujar Pak Dede, sapaan Pak Chatib.

Tentu di rumah Sinta dan Nela tidak terpasang meteran listrik 450 VA maupun 900 VA yang sedang mendapatkan subsidi. Kuyakin juga mereka tidak tergolong keluarga yang mendapat bantuan PKH (Program Keluarga Harapan). 

Lantas, mereka dapat apa? 
Jaring pengaman sosial macam apa yang tersedia untuk masyarakat kelas menengah macam mereka? 
Adakah? Jangan-jangan belum. 
Layaknya orang terjerembab, tentu lebih sakit bila tak ada jaring pengaman menjaga.

Di lain kesempatan, mantan menteri keuangan RI itu kembali menyuarakan hal senada.
...artikel selengkapnya silakan klik di sini...
Ahh.... keadaan memang sedang buruk di Pulau Dewata, yang denyut utama ekonomi adalah sektor wisata. The bad news is, banyak yang khawatir bahwa yang terburuk bisa jadi belum datang.

Aku sebenarnya jarang mengumpat, tapi...
Damn...
*  *  *

Umat manusia akan mengenang 2020 sebagai tahun yang -duh gusti- penuh marabahaya. 

Media mainstream senantiasa memapar pemirsa dengan angka-angka dan singkatan. Entah itu ODP, jumlah kematian, PSBB, ventilator, dan berbagai istilah serem lain. Seolah pandemi identik dengan angka-angka. Seolah rutinitas baru tiap hari adalah mantengin angka positif dan kematian, layaknya mantengin skor bola di Livescore.

Ndak salah sih, COVID-19 memang identik dengan hal-hal di atas. Tapi jangan sampai kita mengesampingkan hal lain yang tak kalah penting.

Ada perasaan tak aman tengah berkecamuk di dada keluarga-keluarga. Kekawatiran itu bukan lah sekadar angka dan grafik. Itu jeritan hati orang tua yang bingung, bagaimana memastikan nasi tersedia di meja makan esok pagi dan seterusnya. Itu juga keresahan hati pengusaha, yang tak sampai hati memecat tenaga kerja, namun juga tak sampai duit untuk terus berproduksi saat permintaan lesu begini.

Bagi Sinta dan Nela, resesi bukan "di depan mata". Resesi sudah datang, sudah menghantam. Sumber penghasilan utama sudah hilang. Apakah angka-angka serem di TV akan meringankan pengeluaran rumah tangga mereka?
Entah.

Nah, pertanyaan terakhir: kita bisa apa?

Situasi ini adalah bencana, perlu ada kesigapan dan keberpihakan untuk segenap lapisan masyarakat yang terkena dampak. Tidak cuma satu-dua profesi yang kehilangan penghasilan, kan?

Teknisnya? Penyelenggara negara lah yang lebih mampu dan paham. Mereka memengang kendali atas distribusi sumber daya, serta wewenang untuk menciptakan dan menegakkan regulasi. Regulasi dan sumber daya adalah bahan utama yang menjaga punggung rakyat Indonesia saat rakyat akan menghantam tanah. Itulah jaring pengaman sosial.

Siapa lah aku, hanya menyuarakan resah hati yang kulihat di sekitar. Benar-benar sedih rasanya memandang keadaan sulit ini. Semoga segera ada hal nyata dari penyelenggara negara, yang benar-benar meringankan beban yang makin berat saja di pundak rakyatnya.
...kedai UKM dekat rumah yang lesu...
Sementara itu, mari tengok ke sekitar. Ayo kita giatkan perputaran ekonomi antar kawan. Berbelanja kebutuhan ke warung depan, selain ke convinience store meski si warung ndak dingin dan tanpa AC. Ramaikan transaksi kawan kita yang memilih berdagang di situasi sulit ini. Dari kita, untuk kita. 

Berputarnya roda ekonomi --meskipun sekecil membeli telur dan mie instan di warung dekat rumah-- mungkin bisa mengentaskan satu keluarga dari ancaman tidur dengan perut keroncongan malam ini. Siapa tahu? Hal-hal kecil macam itu aku rasa adalah hal yang paling bisa kulakukan saat ini.

Dunia sedang tidak baik-baik saja
Mari rangkul kawan dan sekitar
Dukung, saling sokong, solid dan jaga
Siapa lagi, kalau bukan kita
?

Mari berpegangan tangan.
Tentu ndak beneran pegangan, kan physical distancing.

Tidaklah ada bahagia, bila hanya tinggal satu orang saja di bumi yang kenyang, sementara semua orang lain mati kelaparan, bukan?

Berdoa, semoga semua segera kembali seperti sedia kala.

Semoga...

Masih ingat serial Kera Sakti?

Kebangetan lah kalau sampai ndak tahu. Serial ini sempat amat ngetrend di penghujung 90-an. Saking ngetrend-nya, kios-kios di pasar ramai menjual baju bergambar sang kera tengil, berhubung ia idola para bocah. Kera Sakti juga sampai dibuat remake-nya, entah berapa kali.

Aku menggolongkan diri sebagai penyimak serial Kera Sakti garis keras. Pokoknya ndak boleh terlewat barang satu episode pun.

Ada satu penggal kisahnya yang begini...

Alkisah, perjalanan ke barat mencari kitab suci sudah mau berakhir. Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Ti Pat Kay, Sah Ceng, dan kuda putih --yang entah namanya siapa-- sudah hampir sampai di tujuan mereka: Kuil Lei Yin.

Sebentar... bener ndak sih tulisannya?
Entah. Tapi begitulah nama tokoh dan tempat yang kudengar saat masih SD. Mohon maaf bila ada kesalahan.

"Sudah jauh kita berjalan, Guru. Siluman lipan juga sudah mati dipatok siluman ayam. Kalau kita sudah sampai di Kuil Lei Yin, kita akan ngapain?" tanya Go Kong dan Pat Kay penuh penasaran.

Sambil tersenyum, sang guru menjawab, "kita akan mencapai pencerahan. Kita akan menjadi Buddha."

"Hmm... menjadi Buddha ya," Go Kong bersemangat. "Sepertinya keren. Bagaimana menjadi Buddha itu, Guru? Seru kah?"

"Menyenangkan. Kita tidak akan terikat pada duniawi lagi," sahut Biksu Tong bahagia. "Kita akan merasakan tentram. Duduk tiap hari, membaca kitab suci sambil memegang bunga."

Das! Bagaimana perasaan ketiga murid mendengar prospek semacam itu? Bahagia?
Tentu saja tidak!

Duduk memegang bunga? Go Kong yang suka melompat tentu sulit membayangkan dirinya akan duduk diam. Sah Ceng juga sedih, karena yang dia inginkan hanya melayani sang guru, bukan sekadar duduk. Pat Kay apalagi! Pupus sudah harapannya untuk berbahagia dengan para wanita seksi sesuai mottonya: sejak dulu, begitulah cinta. Deritanya tiada akhir.

Apa akal?
Mereka lantas pura-pura sakit. Agar perjalanan terhambat dan tidak segera sampai di Kuil Lei Yin.

Memandangi tingkah polah mereka, Tong Sam Cong hanya tersenyum seraya bergumam...
Duduk diam itu memang paling sulit. Lihat saja hewan. Jangankan pikiran, badannya saja selalu melompat-lompat. Menundukkan pikiran dengan tidak membiarkannya liar adalah kunci mencapai ketenangan. Itulah pencerahan.
Jelas ketiga murid Biksu Tong adalah personifikasi hewan. Kera yang pecicilan, babi yang nafsuan, dan kappa yang bukan main lugunya. Ketiga murid tidak bisa memahami ajaran Buddha dari sang guru.

Setidaknya saat itu belum.
*  *  *







A post shared by Dewa Made Cakrabuana Aristokra (@aristokra) on

Ada sebuah benda yang sudah kuidamkan sejak dulu.
Lama sekali, sejak kelas empat SD! Berarti sejak 1998 silam.

Aku mengidamkan sebuah patung Buddha.

Aku ingat, kala itu aku sedang sepedaan di sekitaran kampung halaman, di LC Dauhwaru, Kabupaten Jembrana. Saat melintas di belakang SMP 1, di antara sekian jejeran rumah, ada satu halaman tetangga yang menarik perhatian, sebut saja itu rumah Pak Kawit. Di halamannya terhampar rumput hijau. Uh, teduh sekali. Di tengah hamparan rumput, ada gundukan yang nampak seperti bukit kecil.  Di puncaknya tersebutlah pohon palem hias.

Menambah asri pemandangan, Pak Kawit sekeluarga tengah duduk bersama di halaman. Sosok ayah, ibu dan seorang anak asyik berkebun sambil piknik menggelar tikar. Sembari memotongi dahan kering, mereka minum es teh manis yang telah disiapkan sang ibu sebelumnya.

Sungguh pemandangan yang  poetic, mungkin kalau difoto dan dijadikan poster bisa menjadi contoh keluarga berencana berwawasan Wiyata Mandala ala Orde Baru.

Jadilah, aku pun terobsesi memiliki halaman seasri itu. Bedanya dalam bayanganku, yang ada di tengah gundukan bukanlah pohon palem. Melainkan patung setengah badan Buddha.

Mengapa setengah badan?
Bayangkan, kalau kita melihat patung Buddha ukuran jumbo menyembul di gundukan. Bisa jadi kita menggumam, "jangan-jangan ada patung Buddha raksasa di sini. Itu baru muncul kepalanya saja, badan besarnya pasti tertimbun di bawah gundukan!"

Padahal ya patungnya memang cuma setengah.

Begitulah.
Meski bukan sebesar impian, akhirnya imaji naif masa kecil itu kini kunikmati. Sama-sama ada hamparan rumput hijau, meski tak mampu seluas harapan masa kecil. Mari kita acungkan jari tengah pada kapitalis nan konsumeris yang membuat harga tanah di Bali terlampau kurang ajar.

Oke.
Lantas, mengapa patung Buddha?

Mungkin sejak tahun 1998 aku kelebihan asupan Kera Sakti.

Mungkin juga karena bagiku sosok Buddha adalah punk sejati. Ia berontak pada sistem Hindu di jamannya yang terlalu materialistik, lagi ritualis. Kelihatan megah, meriah, namun hati Siddharta yang hampa berteriak, ada kekosongan yang butuh diisi. Jadilah suatu tatanan nilai-nilai yang kelak disebut sebagai ajaran Buddha, penuh dengan pencarian makna ke dalam diri, bukan sekadar ingar-bingar tampilan ritual ke luar.

Siddharta berontak bukan untuk menyaingi, apalagi mempecundangi. Ia hanya menyuarakan apa yang ia rasa. Isi hati itu ternyata beresonansi, menggetarkan ratusan juta jiwa manusia yang ternyata merasakan hal serupa, bahkan jauh setelah Siddharta meninggal.

Berani tampil beda, melangkah keluar dari kungkungan nyaman untuk jadi kawanan bebek yang sama dengan kerumunan? Bagiku itu sangat keren.
*  *  *

Ajaran Sang Buddha telah menginspirasi banyak manusia, bahkan hingga kini. Salah satu dari manusia itu adalah seorang pemuda Inggris yang meninggalkan kehidupan lamanya untuk menjadi biksu. Namanya kini Ajahn Brahm.

Oh engkau tak tahu ia siapa? Mungkin serial buku Cacing dan Kotoran Kesayangannya lebih akrab di telinga. Nah, beliau lah penulis buku best seller Gramedia itu.

Suatu hari, Ajahn Brahm diundang untuk mendatangi Indonesia. Sesampai di tanah air, layaknya pengundang yang baik, panitia menanyakan hal-hal yang ia perlukan. Rangkaian ceramah penyebaran dhamma tentu membutuhkan banyak hal, entah itu spesifikasi tempat tinggal, angkutan, makanan, hingga hal teknis macam proyektor dan sound sytem. Kenyamanan narasumber adalah yang utama. 

"Apa yang engkau butuhkan, Ajahn?"

"Segelas air," jawab Ajahn Brahm.

Sang penanya tentu bingung. "Maksudnya tentu kami sebagai pengundang perlu menyiapkan segala-gala keperluan demi kenyamanan narasumber..."

Ajahn Brahm kembali tersenyum. "Apa yang aku butuhkan nanti? Entahlah. Yang aku tahu, saat ini, tubuhku dan aku tak butuh apa-apa. Hanya perlu segelas air, kurasa."

Ajahn mungkin ndak ngeh, kalau mengundang pembicara, artis, hingga band, kita perlu menyiapkan tetek-bengek keinginan mereka yang seringkali aneh-aneh. Namun, begitulah sifat dasar manusia, bukan? Keinginan, hasrat, semua minta dipuaskan. Pondasi ilmu ekonomi pun tegas: manusia senantiasa berusaha untuk mencapai kepuasan.

Eh... jangan-jangan ini maksud titel buku Ajahn Brahm? Aku dan segala benda idamanku tak lebih dari cacing bersama barang kesayangannya, yang cuma kotoran? Makhluk tak berarti yang menghamba pada benda materi yang sujatinya tak berarti juga.

Ajahn dengan segelas airnya mengingatkanku, bahwa keinginan harus ditekan. Jangan biarkan ia melompat liar seperti Go Kong, atau nafsuan macam Pat Kay. Mungkin yang aku butuhkan bukanlah halaman luas, bukan sebuah patung, bukan pula gitar Gretsch White Falcon --mungkin hanya duduk dan segelas air?

Sungguh deep nan bijak bestari.

Atau... yah, atau bisa saja Ajahn Brahm saat itu memang cuma lagi haus, sih.

Judul:
Hero

Artis:
Family of The Year

Album:
Loma Vista, 2012

Terdengar Seperti:
Hibrida ilegal antara John Mayer di album Paradise Valley, mix indie akustik, didengarkan oleh koboy putus cinta sembari berkuda di suatu ranch

Tingkat Nyleneh:
Pernah dengar drummermemukul snare drum pakai tangan? Persis kendang kempul di orkes dangdut?

Cocok Didengarkan Saat:
Sore terakhir sebelum SkyNet berhasil meluncurkan nuklir. Sembari minum teh, kita akan mengingat kembali semua dosa dan pencapaian hidup, sebelum akhirnya beranjak dari kursi, dan menyambut kiamat dengan tangan terbuka!
*  *  * 

Hai!

Berjumpa dengan lagu itu kadang sejenis pengalaman spiritual. Susah diceritakan, sulit dicari padanannya. Karena, sifatnya amat personal.

Personal itu maksudnya gini.

Sering, kita mendadak ketemu lagu yang keren, sampai spontan mengutuk dalam hati: "holyshit!!! ini lagu gue banget!" Kemudian, dengan semangat '45, kita sodorkan lagu itu ke seorang sahabat. "Bro, coba deh dengerin lagu ini..." Niat luhur, untuk berbagi pengalaman menakjubkan.

Tapi -duh Gusti- coba bayangkan tanggapan sahabat ternyata biasa aja. Malah mukanya lempeng. Nah, keadaan jadi garing dan memalukan. Sering begitu kan? Sebenarnya itu adalah bukti otentik, bahwa lagu dan pendengarnya punya koneksi yang unik. Beda hati, beda gendang telinga, akan beda pula sensasi lagu di tiap orang.

Ini cerita tentang sebuah lagu. Niatnya, kelak tulisan bertema Song of The Week macem ini bakal mengulas lagu yang tiba-tiba menghantuiku.

Yuk, lanjut!
*  *  *

Senin, 29 Juli 2019. 14:45 WITA

Aku sedang ada dalam mobil pelat merah yang melaju, membelah hutan alami khas pedalaman. Baru saja aku selesai melakukan tugas kantor, untuk mengunjungi suatu kota di sudut pulau bunga: Flores. Ngantuk. Berkali-kali aku tertidur.

Dicky, sang pengendara mem-pairing iPhone-nya ke perangkat audio mobil. Kita biasanya selalu punya seorang teman, yang memutarkan lagu seenak-udelnya sepanjang perjalanan. Sosok kurang ajar macem itu biasanya aku, namun kali ini Dicky lebih cekatan.

Kemudian ia menyiarkan lagu-lagu Top 40 yang artisnya entah siapa. Terserahlah. Sebagai generasi yang playlist-nya stuck  di 90'an akhir, kala Travis dan JRX menguasai radio, musik kekinian macem Ariana Grande tentu obat kantuk mustajab.

Tapi, ada satu lagu yang membuatku bangun.
Kok alunannya enak!
Lagu apakah gerangan?

"Siapa yang nyanyi itu tadi, Dick?"
"Oh, anu Bli. Family of The Year..."  sahut Dicky sekenanya, sembari fokus mengemudi.
"Judulnya apa?"
"Aduh, apa ya, Bli.... beta lupa..."

Ya sudah. Kubuka Spotify. Cari: Family of The Year... Ketemu! Ada juga band bernama nyleneh begini. Berhubung belum tahu lagu yang mana, kulihat saja list terpopuler mereka.

Dan aku cekikikan. Coba lihat sendiri:



Lagu paling wahid, Hero, ternyata didengarkan umat Spotify sebanyak dua ratusan juta kali. Sementara lagu kedua terpopuler hanya... enam jutaan! Jomplang betul, seperti tingkat kesejahteraan ekonomi di Indonesia. Jelas, kupilih tembang dua ratus juta.

Hmm... benar saja. Itu dia lagu yang tadi diputar Dicky.

Ini lagunya.


Judulnya "Hero".
Lagunya bernuansa akustik, akrab di telinga anak indie kekinian. Diawali petikan gitar sepi, kemudian satu persatu instrumen masuk. Snare drum yang dipukul tangan (!!!) dahulu, bass masuk, hingga drum di akhir. Mendadak lagu sepi ini jadi ramai nan semangat. Ingat Fix You?

Aku bukan tipe  yang peduli pada lirik. Entah liriknya bercerita tentang apa. Aku lebih terpikat pada rasa, sensasi yang kudapat kala menikmati suatu lagu.

Ada progresi chord yang jadi kelemahanku di Hero. Tiap ada lagu dengan chord ini, biasanya lagunya akan kusukai. Nada ke enam dan ke tiga dalam doremifasol, alias Si - Mi.

Bingung?
Sederhananya begini, kalau gitar main G, saat do=G mayor, maka chord ini adalah Em - Bm. Lagu sekelas "Heal The World", "Risalah Hati", "The Opening"-nya Superman Is Dead, hingga "Memories" OST One Piece memakai formula ajaib Em-Bm ini.

Selain progresinya seru, bangunan irama lagu Hero juga menggelitik. Ala-ala cowboy kesepian. Ada rasa country "Dear Marry"-nya John Mayer, juga "Sightlines"-nya Rogue Wave yang jadi OST Spiderman era Tobey. Rasa banjo dan bas yang statis, satu-satu, membuat lagu ini makin unik.

Awal slow, cenderung tenang, lalu memuncak hingga akhir. Seformula dengan Fix You: semangat nan lepas.

Lalu, dari segi bar. Nah ini menggelitik. Lagu "Hero" ini cenderung tak pas di delapan ketukan. Kadang lebih, kadang kurang. Itu yang membuatnya akan sulit untuk dihapal. Tapi yah... emang begitu. Seperti Dream Theater, yang ketukannya nyleneh-nyleneh malah bisa berkesan bagi pendengar, dengan catatan pasar bisa menerima.

Makhluk bernama seniman memang nyeni. Saat mereka sudah biasa nyeni dengan kata dan lirik, mereka akan mencoba nyeni dengan nada. Puas dengan nada, mereka akan nyeni dengan aransemen. Puas dengan aransemen aneh, mereka akan bereksperiman di ketukan. Layaknya saja Sheila on 7 di album Pejantan Tangguh, terutama lagu Briliant 3X yang penuh petualangan musikal.

Bedanya, eksperimen Family of The Year di lagu Hero ini sukses di pasaran, Dream Theater juga sukses dengan nyleneh-nya, namun pasar kurang sreg pada album Pejantan Tangguh (tapi percayalah, Pejantan Tangguh dan Briliant 3x adalah favoritku sampai liang kubur). Fuck You, Pasar!

Dari semua hal-hal tentang lagu Hero ini, kurangkum jadi satu:
Langgam ini enak didengarkan saat suasana sedih karena ia menjadikannya bahagia. Merenung, diubahnya jadi semangat. Haru, didorongnya jadi harap. Lagu ini seperti sebuah perjalanan yang menyenangkan dan mendewasakan. Indah.
Monggo nikmati...



seri #SoTW alias Song of The Week,
rencananya jadi rubrik rutin
kalau ketemu lagu seru

.... rencananya...
Pertengahan Tahun 2008. 
Kejadian ini hampir sebelas tahun silam. Hari itu adalah hari pertama kami duduk di bangku kampus. Mata kuliah pertama pagi itu adalah “Pengantar Perpajakan”. Santer terdengar, bahwa dosen mata kuliah ini agak eksentrik. Dosen beken, nih! Pukul sepuluh tepat, kelas beliau pun dimulai.

Para mahasiswa memandang ke depan kelas dengan takzim. Menyimak perkenalan, dilanjut kisah singkat pengalaman beliau yang telah malang melintang di dunia perpajakan. Tiba-tiba, sang dosen berdiri. “Hey, Engkau,” ujarnya sambil menunjuk hidung salah seorang mahasiswa.
“Coba kau terangkan, menurut kau pajak itu apa?”

Mahasiswa yang ditodong di hari pertama kuliah itu otomatis blingsatan. Keringat dingin! Cepat-cepat dibacanya kitab tebal yang tengah ia pegang. “Anu, Pak... pajak adalah kontribusi wajib kepada negara...” Terbata-bata, mahasiswa malang itu melanjutkan, “pajak bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan langsung. Pajak digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, Pak.”

Kelas hening.
Mendengar jawaban textbook begitu, sang dosen diam, lalu melepas kaca mata. Kemudian ia duduk. “Bah, kaku sekali kau,” ujarnya. Para mahasiswa saling pandang. Tegang. Tak dinyana, sang dosen kemudian terbahak-bahak, hampir terjengkang dari kursinya.  “Haha! Kutanya pajak menurut diri kau, malah kau baca pengertian pajak menurut undang-undang, di pasal satu!”

Beliau melanjutkan orasinya. “Coba kalian rasakan pakai hati. Pasal itu bilang, bahwa pajak sifatnya wajib. Terutang! Maksa! Tidak mendapat imbalan langsung pula. Bah! Seram tidak kau mendengarnya?” tanya sang dosen retoris, lebih kepada diri sendiri dibanding pada kami. “Begitu lah definisi pajak menurut undang-undang.”

Kemudian senyum sang dosen mengembang. “Sekarang, coba bayangkan, kalau defisininya macem begini: pajak adalah suatu bentuk patriotisme! Wujud nyata membela tanah air dengan berkontribusi pada pembangunan negeri. Elok nian! Karena memang seelok itulah pajak!”

Para mahasiswa masih bengong. Kini, sang dosen makin bersemangat. ”Dari Dana BOS untuk adik kalian sekolah di kampung, biaya pembangunan Tugu Monas, sampai Bandara Sentani di Papua bukanlah iuran penduduk sekitar. Itu hasil gotong-royong seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke, dalam bentuk membayar pajak. Itu manfaatnya pajak,” tandasnya sambil tersenyum bangga.

“Masalahnya, apa kita semua sudah memandang pajak seperti tadi? Atau jangan-jangan masih melihat pajak sebagai momok. Nah, di sana lah. Itu tugas berat, tugas kita semua,” ujar sang dosen, menutup wejangannya pagi itu.
*  *  *
Oh pajak!
Kalau mau jujur, hampir pasti kata satu ini bukanlah kata favorit sebagian besar kita. Terlebih bagi pengusaha! Lord Thomas Dewar, seorang pengusaha whisky abad 18 asal Skotlandia, bahkan pernah berujar,
“the only thing that hurts more than paying an income tax is not having to pay an income tax.”
Ouch!

Tahu kah kawan sekalian, sebagaimana Pendidikan Nasional dan Pancasila, bahwa pajak juga punya hari peringatan?

Wajar kalau belum tahu.
Toh, di tahun 2019 ini Hari Pajak baru diperingati untuk kedua kalinya. Peringatan ini mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pajak di 2017. yang menetapkan tanggal 14 Juli 1945 sebagai Hari Pajak.

Mengapa 14 Juli 1945?
Juli 1945, bulan yang sibuk berisi persiapan kemerdekaan. Bung Karno selaku Ketua Panitia Perancang UUD melaporkan persiapan dan beberapa agenda penting yang perlu dibahas dalam sidang kedua BPUPKI. Salah satu agendanya adalah merancang batang tubuh Undang-Undang Dasar.

Pada tanggal itulah, Radjiman Wediodiningrat selaku Ketua BPUPKI melontarkan istilah pajak. Harus ada aturan hukum soal pungutan negara yang sifatnya wajib. Sejak itu lah pembahasan mengenai pajak terus bergulir, bahkan pajak dirincikan sebagai sumber penerimaan negara.

Nah, demikianlah.
Akhirnya kata “pajak” muncul dalam kehidupan berbangsa kita sejak saat itu, hingga kini. Atas jasanya, nama Radjiman Wediodiningrat diabadikan sebagai nama salah satu gedung di kompleks kantor pajak.

Bagaimana Peran Pajak Kini?
Tujuh puluh empat tahun berlalu sejak proklamasi, pajak telah dan terus menjadi penopang utama pembangunan tanah air. Berkaca pada APBN 2019, penerimaan perpajakan diproyeksi 1,786,4 triliun rupiah. Sementara, total pendapatan negara diproyeksi sebesar 2.165,1 triliun. Artinya, sekitar 82% penerimaan negara bersumber dari perpajakan. Sisanya? Dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah. Persentase yang dominan, bukan?

Cukupkah pendapatan sebesar itu?
Jelas tidak!
Anggaran belanja kita besarnya 2.461,1 triliun. Dibandingkan dengan belanja, pendapatan kita masih “minus” 296 triliun.

Mungkin kawan sekalian membatin,
“kok besar pasak daripada tiang? Pengeluaran jangan lebih dari pendapatan, donk!” 
Dalam skala keluarga, seorang ayah mudah saja menekan pengeluaran sang anak, agar sesuai dengan pendapatan keluarga. Namun dalam skala negara, lain ceritanya. Akan kah penyelenggara negara berkata, “Maaf, adik-adik SD sekalian. Tahun ini tak ada dana BOS. Pendapatan negara hanya 2.165,1 triliun, sementara anggaran belanjanya 2.461,1 triliun. SPP kalian bayar dulu ya?”

Tidak. Negara tidak boleh berkata begitu. Apa pun yang terjadi, program pembangunan tak boleh terhambat, apa lagi tertunda. Tugas pemerintah lah untuk mencari sumber pembiayaan. Salah satunya dengan utang luar negeri. Satu simpul didapat di sini: bila penerimaan kurang, bisa ditambal dengan utang. Jadi yang ngeluh di medsos tentang utang luar negeri kemarin, udah bayar pajak berapa, hah?

Dari ilustrasi sederhana di atas, pilihan solusinya jelas gampang. Pilih naikkan pajak, atau perbesar  utang. Atau dua-duanya. Tentu opsi pertama adalah favorit kita semua. Pemerintah mana yang sudi dicap sebagai pengutang? Apalagi publik (tepatnya netizen) sangat sensitif pada isu utang luar negeri. Jadi, tinggal naikkan tarif pajak saja, biar penerimaan negara jadi aman. Sederhana. Bukan begitu?

Bukan. Sayangnya tidak sesederhana itu.

Menaikkan pajak secara serampangan justru akan mencekik iklim usaha, kontra-produktif pada ekonomi secara keseluruhan dan membuat rakyat makin antipati pada kata pajak. Pada kenyataannya, penyelenggara negara justru memperkecil tarif. Misalnya, pajak penghasilan yang dahulu 1% dari omset kini turun menjadi 0,5%.

Mengapa dilakukan hal macem penurunan tarif pajak, di saat kita butuh penerimaan negara yang lebih besar?

Penyelenggara negara mungkin mafhum.

Bahwa, kualitas kesadaran dan kecintaan akan pentingnya pajak perlu digenjot jua, selain usaha  untuk menggenjot kuantitas penerimaan pajak. Dengan kecilnya tarif, sederhananya cara penghitungan sampai mudahnya pembayaran, penyelenggara negara berharap kesadaran akan pentingnya pajak dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Bahwa tiap orang bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunan negeri, dengan menjadi pembayar pajak.

Masalahnya, agar pajak bisa menjadi kesadaran komunal segenap rakyat, perlu usaha ekstra, terutama dari Direktorat Jenderal Pajak. Menanamkan citra pajak sebagai sesuatu yang mudah, perlu dan loveable tentu bukan perkara bim salabim semalam.

Tak Kenal Maka Tak Sayang
Kenal aja belum menjamin bakal sayang, kan. Apalagi ndak kenal! Angka-angka pencapaian perpajakan dalam APBN memang penting. Namun yang tak kalah penting adalah kesadaran kita akan pentingnya pajak. Mari berkenalan dengan pajak.

Engkau tentu ada yang menjadi pengusaha atau pedagang.

Ketika beranjak ke kantor pos atau bank untuk membayar pajak, bayangkanlah hal ini: Sebagian dari uang yang Anda setor akan terbang jauh ke pelosok negeri, membiayai sekolah seorang anak dalam wujud Dana BOS. Uang yang engkau setorkan itu juga menjelma menjadi gaji gurunya, perbaikan sekolahnya, hingga menjadi sebuah jembatan, agar anak itu pergi ke sekolah tak lagi lewat sungai yang deras.

Anak itu bisa mengenyam pendidikan berkat engkau, melalui pajak yang engkau bayar.

Bayangkan lagi. Tiap engkau membayar pajak, seorang pasien renta yang tengah didera sakit keras, bisa ringan biaya pengobatannya berkat BPJS. Premi yang ia bayar tak seberapa dibanding obat dan perawatan yang ia terima. Dari mana biaya sisanya? Salah satunya dari engkau, melalui pajak yang engkau bayar.

Jalan raya diaspal lebih mulus, renovasi pasar di kelurahan sebelah, hingga TNI dan Polri yang mendapat gajinya sehingga Anda dapat tidur nyenyak, takkan bisa terwujud tanpa engkau! Hebat bukan?

Melalui Hari Pajak di 14 Juli ini, kami, anak di pelosok negeri, orang renta di ranjang RSUD, beserta segenap rakyat mengucapkan terima kasih pada engkau: para pembayar pajak.

Tiap jaman punya pahlawannya sendiri.
Saat era revolusi fisik, Indonesia memiliki Bung Karno, Hatta dan bung-bung lain yang mengambil peran merebut kemerdekaan. Di jaman ini, pembayar pajak sebenarnya adalah pahlawan. Berkat pembayar pajak, kemerdekaan bisa diisi, pembangunan bisa digalakkan, dan Indonesia bisa bergerak maju untuk semakin sejajar dengan negara-negara lain.

Demikianlah sekilas tentang pajak, dan harinya.

Apakah perayaan ini hanya akan menjadi sebuah tanggal dengan gegap gempita? Dan menjadi angin lalu? Tugas kita lah untuk memberi makna pada tanggal itu. Penyelenggara negara melalui Direktorat Jenderal Pajak selalu berusaha untuk membuat segenap rakyat makin kenal, sadar, hingga sayang pajak. Salah satunya dengan peringatan Hari Pajak. Karena pajak adalah urat nadi pembangunan. Berkontribusi di pajak berarti ikut urun rembug, tanda ikut memiliki Indonesia bersama. Demi Indonesia yang lebih baik.



Sebagai penutup, ijinkan aku untuk mengutip Oliver Wendell Holmes Jr. Ia adalah hakim yang menjabat sebagai Hakim Asosiasi Pengadilan Tinggi Amerika Serikat dari 1902 sampai 1932. Kata-kata beliau konon tertulis di atas pintu masuk gedung Internal Revenue Service, Direktorat Jenderal Pajak-nya Amerika Serikat:

“Taxes are the price we pay for civilized society”
Semoga bermanfaat!



niatnya dimasukkan ke situs resmi instansi
eh, tak kunjung di-approve
yasudah, masuk sini saja  

...penyebutan gampang dari "sesajian, alias "banten"

Orang-orang Bali mengenal sebuah konsep; Tri Hita Karana namanya. Apa artinya? Tiga Penyebab Kebahagiaan. Bagi orang Bali, ada tiga hubungan yang harus dijaga keharmonisannya, demi tercapai kebahagiaan. Apa saja?

Pertama, Parahyangan. Hyang, harmonis dengan Sang Pencipta.
Kedua, Pawongan. Wong, harmonis dengan sesama manusia.
Terakhir, Palemahan. Harmonis dengan lingkungan dan alam.

Nah, harmonis dengan lingkungan dan alam.

Alam tak hanya berarti pohon, air, dan sejenisnya lho ya. Juga yang lain 😁, yang tak kasat panca indra. Menjalin hubungan harmonis ini bukan berarti takut. Apalagi takluk! Cukup hormat. Respek. Bahwa kita sadar, hidup bersama di dunia ciptaan-Nya.

Bila antar umat beragama di Bali mengenal istilah "ngejot", saling berbagi kue saat hari raya Lebaran maupun Galungan dengan tetangga yang berbeda agama, maka sujatinya sajen juga seperti itu. Orang Bali menyakini bahwa penghuni alam selain makhluk nampak itu ada. Nah, siapa coba, yang menciptakan mereka selain Sang Maha Pencipta sendiri?

Haruskah mereka dimusuhi?
Atau malah disembah-sembah?
Di Bali jawabannya: Tidak juga.

Mereka cuma tetangga. Saat kita -yang konon makhluk paling berakal- memiliki makanan lebih, dan kebetulan mereka suka wewangian, tak ada salahnya berbagi, bukan? Agar harmonis, agar tercapai Hita, kebahagiaan.



Sajen bukan berarti menyembah demit, sebagaimana ngejot bukan berarti menyembah tetangga. Ia hanyalah wujud rasa saling menghormati, demi menjalin hubungan harmonis pada sesama penghuni alam, sesama makhluk ciptaan Sang Pencipta. Jangankan manusia, dengan makhluk tak kasat juga harus harmonis.

Begitulah ajaran dasar di Bali.

Jadi, apa masih kah engkau saat berjalan di tepi Sanur dan melihat rangkaian janur, bunga maupun dupa di sebuah pohon akan bergumam,

"dasar orang-orang penyembah dedemit..."
Kah?
Semoga tidak...

Kalo iya juga ndak papa...



(masih) nuansa Galungan-Kuningan
"... kisah kali ini ndak ada hubungannya dengan latar foto di atas..."

Pukul 10:33 petang, 31 Desember 2018,
Hujan.

Ini adalah malam penghujung tahun. Sejam lagi kalendar sudah harus berganti dari berangka 2018 menjadi 2019.

Lalu... di malam yang keren ini, di mana kah aku? Apa tengah berpesta di sebuah bar penuh alkohol dan musik DJ? Ah, tidak. Atau bermain meriam karbit bambu bersama anak-anak sekomplek? Fuck no. Atau berkonvoi sembari meniup terompet dan menerobos lampu merah? Tidak. Candle light dinner bersama keluarga? Tidak juga.

For the God's sake! Aku sedang berada di kantor!
Sembari bolak-balik ke Bank Daerah NTT yang jaraknya dekat sini.

Malam pergantan tahun ya, lama sudah kulupakan gegap gempitanya. Sejak 2014, masa aku mulai merasa berkewajiban mengawal masuknya pundi-pundi rupiah ke kas negara. Di detik-detik akhir tahun.

Padahal, kukira aku akan bersantai di pergantian tahun kali ini!
"...salah satu sunrise indah di 2018..."

Kulirik kalender di dinding, dan serta-merta sebuah kutukan meluncur,
"Damn... sudah detik akhir di 2018 kah?"
Makin ke sini, aku rasa teori relativitas makin terasa benar. Waktu itu relatif!

Ternyata, dengan makin bertambahnya angka di kue ulang tahun (if I still get any...) waktu terasa makin laju. Makin cepat berlalu! Jarak hangatnya sunrise di awal tahun, hingga berakhir di ufuk barat senja akhir tahun terasa makin sempit. Kilat saja! Apa engkau merasakan hal yang sama? Rasa bahwa tahun baru kok sudah cepat datang, kalau tak mau dibilang terlalu cepat?

2018. Tahun yang banyak cerita.
Namun, tak ada yang kuceritakan.
Tidak di blog ini.
Sayang sekali... postingan blog-ku di tahun ini nihil.

Apa pasal?
Aku bisa saja membuat sejuta alasan. Dua juta malah! Namun yah itu, cuma fuckin alasan. Aku yang malas menulis sekadar berlindung pada dalih sok keren.

Bisa saja aku berkilah, "Ugh, kesibukanku kan terlalu padat. Santai saja tak sempat, apalagi duduk di depan laptop dan menulis... beuh mana ada waktu?"

Namun dengan mudah alasan klasik itu dipatahkan. Oleh hatiku sendiri. "Jangan sok begitu, ah Wo! Dahlan Iskan aja masih selalu sempat menulis. Tiap hari pula! Kau mau mengaku lebih sibuk daripada pemilik koran skala nasional yang habis transplantasi hati, Wo? No shit!"

Mungkin, salahku ada di tempat lain. Kadang, kuingin tulisanku jadi begitu sempurna. Tanpa cela. Macem biografi daripada Bapak Suharto, maupun jurnal ilmiah dengan materi dan kurasi mendalam. Bagus kan? Ndak juga. Alhasil, semua ide itu malah ngendon di draft. Alias tak ter-posting jua. Kisah tentang Soundrenaline, album baru SID, kisah Aji di rumah sakit, semua teronggok. Tak beranjak dari draft.

Sayang, aku malah memandang blogku sebagai etalase adiluhung. Harus sempurna! Yang tanpa sadar justru membuatku takut mengotorinya. Padahal, dulu aku memandang blog sebagai taman bermain. Ya, taman bermain!

Sebuah tempat aku berkeluh kesah. Bercerita tentang naifnya diri ini dalam rangka melawan dunia. Semacam kamar pribadi, yang tentu aku sukai. Di sana, aku bebas memuntahkan apa saja. Agar ia jadi mesin waktu, pembuatku eling akan pengalaman lampauku di masa depan.

Aku jadi ingat perasaanku kala menulis.
Duduk bersila di depan laptop, dengan kopi di tangan kiri dan jiwa punk meledak-ledak di tangan kanan, "oke dunia, akan kulawan engkau sekarang!" Perasaan yang menyenangkan, meski kuakui berat untuk dimulai.  Butuh tekad, butuh niat yang bulat.

Seperti aku saat bangun pagi memandang mentari terbit. Kalian bisa bayangkan betapa menggodanya menunda barang lima menit untuk bangun pagi itu? Haha... snooze!

Dalam hal menyaksikan mentari terbit, bila mata dan niat kupaksakan, nikmatnya akan berlipat. Mentari hangat yang mengintip-intip di ufuk timur, langit gelap yang misterius namun menyegarkan, yang menjanjikan kita cahaya terang asalkan mau bersabar. Sabar untuk bangun, bersabar untuk menanti.

Matahari pagi selalu menyenangkan, namun jarang didapatkan. Jarang pula diagungkan anak indie pemuja senja.Sunset begitu dipuja mungkin karena memperolehnya tak perlu usaha seberat bangun pagi. Kan anak indie hobinya begadang. Mungkin.

Mungkin juga menulis itu seperti melihat mentari pagi ya? Sama-sama butuh tekad, sama-sama berat, namun seandainya berhasil ditaklukan, sensasi yang dijanjikan begitu menyenangkan!

Lalu, aku ingin merasakan sensasi itu.
Lagi
Seperti dulu.
Agar bisa menepis pertanyaan pribadi yang senantiasa mengejekku tiap membuka Chrome atau Firefox...
"Hey... apa kabar blogmu dan Kulkulbali? Benar-benar ingin hidup, atau sekadar menolak mati?"
Nah, ayo ngeblog lagi.
Ayo bercerita lagi!


Ruteng, the night before Christmas
di tengah jeduran mercon dan kembang api