Sebagian orang bilang, hidup adalah sebuah perjalanan. Ada etape-etapenya. Tentu, di setiap etape membawa ceritanya sendiri.

Sebagian ada juga yang bilang, hidup itu sepert sebuah buku. Nah ini aku suka kiasan macem ini. Kubayangkan bahwa hidup setiap orang itu layaknya buku. Lalu, bukunya tentang apa?

Tentu berbeda-beda.
Ada buku yang bab-babnya berkisah tentang travelling. Ada buku bab-babnya bercerita tentang musik, atau masak. Ada juga tentang kesedihan atau keriangan. Apapun itu, buku tiap orang pasti punya tema yang sama: perjuangan meraih kemenangan.

Nah.
Sudah sampai di akhir suatu bab. Kira-kira, titelnya "Bab XI: Cerita di 2018". Ada cerita apa saja tahun ini?



2018 diawali dengan Aji yang menjalani operasi batu ginjal. Kids, kalian setidaknya memetik dua hal menarik di sini.
Pertama, banyaklah minum air putih. Kedua, bayarlah BPJS. Gemetar tanganku saat meneken slip bayar rumah sakit puluhan juta, yang syukurlah sepenuhnya dibayar BPJS.

Oiya. Malam itu, sambil menunggu Aji, kupesan makanan favoritku sepanjang masa: beef burger McD, kentang goreng, dan cola kecil. Biasa kusebut "paket beef burger" pada mba kasir McD.

Sembari kulahap hidangan surgawi ini, Aji memperhatikan.
"Apa itu, De..." ujarnya sembari memainkan selang infus.
"Burger ji..." jawabku sekenanya.
Aji berujar, "Beliin apa Aji burger, biar pernah makan kayak itu."

Aku terkekeh.
"Esok ya Ji, kan malam ini ga boleh makan selain bubur rumah sakit pathetic tanpa rasa itu."

Esoknya apakah McD pas untuk ayahandaku? Tentu tidak. Ia harus mendapat burger yang kickass.


Dan ia bahagia.
Aku? Apalagi!

Selanjutnya? Bermusik, bernyanyi, berkenalan, berkolaborasi.


Bernyanyi bersama beberapa kantor wilayah, direktur jenderal pajak hingga staf ahli tentu menyenangkan. Tapi lebih menyenangkan menyaksikan wajah bahagia atasan-atasan langsung kami, yang tegang sepanjang acara.


Hingga bermain musik ke surabaya. Well... musik itu amat menyenangkan.


Selanjutnya bermusik dalam bentuk tradisional. Bahkan aku ikut menyanyikan pujian untuk Yesus di gereja. Menyenangkan.


Lanjut menikmati mentari terbit dengan beberapa sahabat, di gunung nan dingin. Mungkin ini salah satu hal paling indah yang pernah kusaksikan, di tahun ini.


(Bagi yang belum baca part 1, klik di sini)

Dulu, orde baru sangat anti PKI, walau hanya sekadar membicarakannya saja. Aku sempat menanyai ibuku mengenai hal itu (beliau menjadi saksi pembantaian kala itu, live!). Ia selalu berbisik, dan mukanya mendadak tegang, "Ndak boleh ngomongin itu, De! Nanti didenger orang dan nggak selamat."

Nah! Kita tahu bahwa kebebasan bicara dan berpendapat di Orde Baru memang sangat mahal. Bahkan kadang harganya adalah nyawa.

Tapi itu dulu!
Kini arus informasi tentang PKI (dengan Aidit sebagai ketuanya) bebas terbuka. Dua saudara Aidit, Sobron dan Murad, membuat buku tentang Aidit, dan beredar bebas setelah reformasi. Sobron menulis buku Aidit: Abang, Sahabat dan Guru di Masa Pergolakan (2003), sedangkan Murad menulis Aidit Sang Legenda (2005).


Dari cerita Murad, kita dapat mengetahui bahwa revolusi pertama Aidit adalah mengganti namanya sendiri, dari Achmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Disebutkan bahwa pada usia 17 tahun, Aidit meminta pada ayahnya agar diizinkan mengganti nama.

Ini kisah Murad lebih panjang:

"Di zaman pendudukan Jepang, hubungan antara kami di Jakarta dengan keluarga di Belitung putus sama sekali. Kiriman ayah untuk membayar kos pun tak dapat diharapkan lagi. Pada waktu itu Bang Amat atau Achmad Aidit sudah mengganti namanya menjadi Dipo Nusantara Aidit. Penggantian nama pada masa itu tidak dapat dilakukan sesederhana sekarang. Jika ketahuan seseorang telah mengganti namanya dianggap sebagai tindak kejahatan beresiko berat.

"Disambut Mao Zedong dalam kujungan ke Tiongkok"  

"Sebelum Jepang datang, surat menyurat antara Ayah dengan Bang Amat perihal perubahan nama ini cukup ramai. Masalahnya nama Bang Amat tercatat dalam daftar gaji Ayah sebagai Achmad. Apabila ketahuan tak ada lagi yang bernama Achmad maka ini akan ditindak sebagai kejahatan yang cukup merepotkan.

"Akhirnya diputuskan nama baru itu baru digunakan jika telah memperoleh pengesahan dari Burgerlijke Stan (catatan sipil). Bang Amat sudah merasakan bahwa lapangan politik yang dipilihnya mengandung resiko tinggi, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Itu sebab dia bersikeras mengganti namanya dari Achmad menjadi D.N. Aidit, untuk sedikit melindungi keluarganya.


Lantas mengapa Dipa dan mengapa Nusantara?

Dalam kajian "Aidit dan Partai Pada Tahun 1950", yang terlampir pada buku Sobron, Jacques Leclerc mengungkap hasil penelitiannya:

"Di Tanjung Pandan, Achmad bersekolah di Holland Indlansche School. Kemudian, atas permintaannya sendiri kepada ayahnya, dia diantar pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, ia bersekolah di Sekolah Dagang Menengah (Handles School).

Nah,
Di sinilah dia terjun ke pergerakan pemuda hingga memperoleh kesempatan berhubungan dengan Barisan Pemuda Gerindo yang dipimpin Wikana, Ismail Widjaja, A.M. Hanafi dan lain-lain, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang diketuai Chaerul Saleh. Waktu itu, dia meminta ayahnya untuk menyetujui pengubahan namanya menjadi Dipa Nusantara, dengan tetap mencantumka nama ayahnya.

"Permintaan itu dikabulkan!

Nama Dipa Nusantara itu untuk menghormati perjuangan pahlawan Diponegoro dan agar memberi inspirasi kepada Aidit dalam usahanya membebaskan Nusantara. Mengubah nama atau memilih gelar yang mengandung arti politik sudah agak biasa di kalangan pemuda nasionalis.

Misalnya ada A.M. Hanafi diberi gelar Anak Marhaen. Mah. Yamin diberi gelar Mahaputera Yamin oleh Soekarno, karena pemikiran dan jasanya. Mahaputera itu sebuah gelar, sebagaimana gelar Mahatma di India untuk Mahatma Gandhi.

Jadi, penggantian nama sudah biasa bagi para aktivis revolusioner, tetapi justru karena itu keseriusan Aidit meminta izin ayahnya sama sekali tidak biasa. Artinya luar biasa, karena menunjukkan perilaku santun, yang tidak terbayangkan jika segenap demonisasi terhadap Aidit wajib dipercaya.

Menurut anda, bagaimana pribadi seorang Aidit?

* * *
(diketik ulang dengan pengubahan seadanya seperlunya)
Ini kisah menarik! Disadur dari Majalah Intisari 😉


Pembunuhan karakter dalam dunia politik itu lumrah. Dalam hal itu, ada metode yang disebut demonisasi alias Pengiblisan. Jangan heran, siapapun orang yang terlibat di dunia politik, apalagi dengan sengaja terjun ke politik praktis, jadi partisan partai ataupun politisi non-partai, siap-siap saja lah! Disamping berpeluang dielu-elukan massa di stadion saat kampanye, siap-siap pula mengalami pengiblisan. Sayangnya, cap iblis ini melekat dari masih hidup, maupun sesudah mati!


Mengada-ada?
Tidak! Tengok saja sang sejarah.

Seperti Soekarno, Soeharto, maupun Winasa (yeah), Aidit juga sebuah nama yang dalam gelombang sejarah sempat terlambung tinggi sebelum terhempas. Setidaknya, itu sampai sejarah mengadilkannya.
* * *

Sajak tak butuh bakat?
Pada masa Orde Baru, setiap bulan September, tepatnya setiap tanggal 30, diputar film Penghianatan G30S/PKI sebagai proyek politik semacam itu. Namun setelah reformasi '98, film ini mendadak hilang, dan informasi baru tentang masa lalu kelam Indonesia itu muncul di mana-mana. Termasuk tentang sosok Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia.

"Ia sangat muda, kala itu..."
Ini cerita dari Amarzan Loebis yang pernah menjadi redaktur Harian Rakjat dan mengenal Aidit. Kata beliau, kesuksesan sebagai Ketua PKI dan menteri sejak umur 30-an, telah membentuk sikap dan kepribadian seorang Aidit.

"Aidit adalah sosok, yang pertama kali melihatnya, kita tidak ingin menjadi dekat," katanya. Tuntutan atas kewibawaan sebagai pemimpin partai komunis yang tergolong besar (bahkan dibandingkan partai komunis lain di dunia), telah membuat Aidit seperti merasa harus menjaga jarak, dengan siapa pun, "Ini tidak terjadi dengan pemimpin PKI lain seperti Nyoto." Dalam pergaulan sehari-hari, Aidit selalu memperlihatkan sikap bahwa dirinya harus didengar, dituruti, dan dipercaya.

Amarzan pertama kali menginjak Jakarta tahun 1936 dari Medan karena memenangkan lomba puisi dalam rangka peringatan Karl Marx, dan diserahi hadiah langsung oleh Aidit. Sejak itu Amarzan menjadi redaktur Harian Rakyat dan mereka saling kenal. Sehingga ia punya cerita tersendiri tentang Aidit.

"Waktu itu saya menjadi redaktur edisi Minggu dari Harian Rakjat, yang mengurusi bagian sastra. Aidit mengirimkan sekitar lima sajak, yang tidak saya muat. Pada Sabtu malam, sebelum naik cetak, Aidit menelepon saya di kantor.
'Sajak-sajak saya saya dimuat 'kan?' Aidit bertanya. 
'Tidak, Bung,' jawab saya. 
'Kenapa tidak?' Aidit bertanya lagi. 

Karena masa itu percakapan telepon belum sejernih sekarang, saya katakan kepadanya, 'Kalau kita bisa bertemu, saya akan jelaskan alasannya.' 
Setelah itu telepon dibanting."

Sebenarnya bukan masalah apa-apa, sajak itu tidak dimuat. Amarzan hanya tidak enak kalau sajak itu sampai dibaca publik. Bukan hanya akan merendahkan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), tapi juga akan merendahkan puisi itu sendiri. Namun sejak kisah itu, katanya...
"Aidit kalau melihat saya lantas buang muka."


Semangat kerakyatan dan sepeda
Aidit dan Bung Karno
Bagi Aidit yang pemimpin partai komunis, menulis sajak memang tradisi yang tampaknya berlaku bagi pemimpin-pemimpin partai komunis. Mao Zedong, Leonid Brezhnev, semua menulis sajak.

Sastra mendapat perhatian dalam sudut pandang ideologi komunis.

Dalam pidatonya, Aidit menekankan betapa sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat, dan bukan masyarakat feodal. Jelas yang diserangnya adalah seni "adiluhung" canggih, yang perlu "kapital budaya" tertentu untuk sekedar menikmatinya. Semacam seni-seni opera untuk kaum-kaum elit itu lah.

Namun, benarkah menulis sajak untuk rakyat, lantas tidak memerlukan bakat?

"Meskipun sajak-sajak Lekra adalah sajak poster (seperti yang ditulis Aidit itu), tetapi penyair seperti Agam Wispi atau Bandaharo berhasil menuliskannya secara lain," kata Amarzan. Agaknya bukan semangat kerakyatan lah masalah Aidit, melainkan bakat, karena dalam hal semangat, Amarzan punya cerita lain.

Ketika Aidit menjadi menteri dan mendapat fasilitas mobil, pengawal, dan lain-lain, datanglah putri pertamanya, Iba, dari Moskow, yang masih belasan tahun. Putri yang lebih banyak tinggal di luar negeri itu ingin jalan-jalan keliling Jakarta menggunakan mobil tersebut. Namun Aidit berkata pada putrinya, 

"Kamu mau menggunakan mobil yang dibiayai oleh negara dari uang rakyat ini untuk keliling Jakarta? Kamu boleh keliling Jakarta dan kuberi pengawal pribadi, tapi naik bus."

"Mereka pun naik bus," kenang Amarzan, "Itu saya tahu. Besoknya, ketika Iba ingin pergi ke Gedung Pemuda di Menteng Untuk bertemu teman-temannya, fasilitas yang diberikan ayahnya hanyalah sepeda."

(update bagian II klik di sini)
* * *
(diketik ulang dengan pengubahan seadanya seperlunya)

Kisah Selanjutnya:

Nama Aidit sebenarnya bukan D.N. Aidit! Siapa namanya sebenarnya?
Mengapa ia mengubahnya?
Benarkah komunis sosialis orang jahat? 
Apakah seorang Aidit mencintai Indonesia?
...

Kawan!
inilah saatnya kita menerima informasi secara berimbang dan stereo. Tidak dicekoki searah saja! Sejak SD kita diarahkan memiliki pandangan sepihak pada PKI, Aidit, dan sebagainya melalui pelajaran sekolah, larangan bicara, sampai film. Mengapa di usia dini? Agar doktrin tertanam kuat-kah?
;) who knows?

INI BUKAN MALAM BIASA!!!

Tepat pada detik ini,
masyarakat pulau Bali sedang merasakan sesuatu...
Merasakan sebuah sensasi + energi

Sensasi ambience, suasana yang super special.
Dimana-mana bunyi penggorengan beradu dengan sutil, anak-anak, orang tua, semua pulang kampung! Berkumpul, bersama keluarga (yang jarang ditemui), merayakan hari besar Hindu...

Malam ini adalah malam minggu. 

Aku duduk di ruang tamu kos dan menghadap lurus ke arah layar televisi, yang sedang menakut-nakuti pemirsa dengan film bertema Halloween. Tentu saja, malam ini memang malam halloween :x ! 


Remote tv di tangan kanan dan hape di tangan kiri. N70 hitam music edition-ku berbunyi sesekali, tanda ada pesan masuk. Kubaca dan kubalas sambil lalu, malas karena sudah kuterka apa isinya. Inilah yang tampak di layarnya yang kusam... 
Lagu bagus judulnya Pelangi dan Matahari, dinyanyikan oleh grup band BIP. BIP itu singatan dari Bongky, Indra, dan Pay! Ya, Pay yang itu, suami Dewiq peyanyi "eh eh kok gitu sih, loh kok marah" itu. Mereka dipecat dari SLANK oleh Bimbim, dan mengibarkan bendera (perang?) BIP. Dan seperti biasa, aku punya kenangan khusus saat perkenalan dengan lagu ini :$
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tak hanya dikenal sebagai Presiden Indonesia keempat. Dia juga dikenal sebagai kolomnis dan kiyai yang kontroversial. Cintanya pada Indonesia, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ikka luarbiasa. Itu alasan beliau dijuluki "Bapak Bangsa". Indonesia kehilanganmu, Gus! Dan sekarang saya akan menceritakan satu sisi menarik dari seorang Gus Dur...

Pernyataan-pernyataan yang beliau lontarkan selalu menuai pro dan kontra. Namun, di balik itu, ucapan Gus Dur seringkali membuat banyak orang sadar. Pernyataan-pernyataan Gus Dur memancing orang untuk ikut berpikir dan merenung. Asalkan kita tidak fanatik, dan mau terbuka pada kritik, Gus Dur selalu mengajari kita  melalui pernyataannya.

Sekalipun pandangan matanya terganggu, Gus Dur dikenal sebagai humoris. Orang yang banyak humor. Saat berbicara, dia selalu menyelipkan joke, cerita lucu, yang membuat pendengarnya tertawa. Bahkan, joke-jokenya itu disukai oleh banyak tokoh dunia.

Ini salah satunya...
* * *

Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.

Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita,“Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.”
Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram,
“Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut.

Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara.”
Castro, Gusdur, dan Che

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.
(edited from vivanews)
Sebelum pembaca sekalian membaca tulisan ini, ada baiknya agar box youtube video klip lagu dibawah ini anda pause dulu, dan di play nanti kalau sudah penuh. Lagu ini terlalu bagus, terlalu pure, terlalu orisinil, -terlalu sayang- jika anda dengarkan putus-putus tersendat gara-gara koneksi lambat.

Ada apa dengan lagu ini? Apa istimewanya?
Baik, ini pengalaman pribadi dewa cakrabuana yang sangat personal dan mistis. Nyata... dan ceritanya panjang...
Mahatma Gadhi! What a name! Sebuah nama yang menginspirasi banyak orang dengan kedamaian yang ia bawa. Sukarno, Reagen, Suharto, dan berbagai tokoh dunia seringkali mengutip kata-kata Gandhi

Bahkan kartun (favorit saya) Avatar, The Legend of Aang, juga mengutip sosoknya, entah sengaja atau tidak,.sosok kepala gundul, senyum tenang, bijak, cawat putih khas India, badan kurus bagai pertapa ini tidak mengingatkan saya pada orang lain, -selain Mahatma Gandhi-


Gandhi tidak pernah menerima Penghargaan Nobel, meski dia dinominasikan lima kali antara 1937 dan 1948 untuk Nobel perdamaian. Beberapa dekade kemudian, ini disesali  oleh pihak Komite Nobel. Pada tahun 1989, ketika Dalai Lama dianugerahi Penghargaan Nobel, ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan “sebuah bentuk mengenang Mahatma Gandhi.

Banyak yang mengira, Gandhi adalah misionaris Hindu. Itu salah besar (lagipula Hindu memang tidak mengenal istilah misionaris). Beliau seorang humanis, pecinta manusia tanpa membedakan apapun. Tidak percaya? Mungkin fakta ini akan membuat anda percaya. Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia dianggap terlalu memihak kepada Muslim. Kala itu, saat penduduk Pakistan yang masih bagian India ingin memisahkan diri, Gandhi lah yang melindungi dan begitu peduli pada mereka.
Mungkinkah orang seperti ini dibenci kaum muslim Pakistan? Tentu tidak. Masyarakat Pakistan sangat menyayangi sosok Gandhi.

Berikut ini, saya kutipkan beberapa kata-kata Mahatma Gandhi yang abadi hingga kini... mudah-mudahan bisa menginspirasi anda!
  • Manusia menjadi besar tergantung kepada seberapa besar dia bekerja demi kemakmuran sesama manusia
  • Percaya kepada sesuatu, tetapi tidak berbuat sesuai dengan kepercayaan tersebut, adalah suatu ketidakjujuran.
  • Intoleransi adalah sebuah bentuk kekerasan dan penghalang terhadap tumbuhnya semangat yang benar-benar demokratis
  • Perbedaan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang mampu kita lakukan sudah cukup untuk menyelesaikan sebagian besar masalah2 dunia.
  • Langkah pertama untuk mengendalikan diri adalah mengendalikan pikiran
  • Saya keberatan terhadap kekerasan karena ketika dia terlihat sedang berbuat untuk kebaikan, kebaikan itu hanya temporer, kerusakan yang ditimbulkannya permanen.
  • Keberanian, ketabahan, ketidaktakutan dan di atas segalanya pengorbanan diri adalah sifat-sifat yang diharapkan dari pemimpin-pemimpin kita.
  • Kekuatan tidak datang dari kemampuan fisik. Tetapi dari kemauan yang keras.
  • Mari kita berani mati sebagaimana matinya seorang syuhada, tetapi jangan ada yang bernafsu untuk menjadi syuhada.(mungkin ini akan sangat berguna bagi kaum militan dari golongan mana pun! )
  • Kebahagiaan adalah apabila apa yang anda pikirkan, apa yang anda katakana, dan apa yang anda lakukan berjalan selaras
  • Agama seseorang adalah urusan antara dia dengan penciptanya, dan bukan dengan orang lain.(sangat setuju! Saat ini, banyak kelompok yang merasa menjadi "Polisi Tuhan", berhak menghakimi orang lain, seolah dirinya perpanjangan tangan Tuhan sendiri)
  • Saya ingin kebudayaan semua negeri berhembus sebebas mungkin di rumah saya. Tetapi saya tidak mau dihembus dari tempat berpijak saya oleh siapa pun.
  • Kemenangan yang diperoleh dengan kekerasan cenderung akan mengalami kekalahan, karena sifatnya sementara.

Bagaimana menurut anda, sosok maupun pemikiran beliau?
Semoga bermanfaat. 😊
Sekilas, judul diatas menyiratkan seolah ada benda keramat bersejarah berwujud "Gitar Merah Darah", tapi -sayangnya- itu persepsi salah yang ngaco, dikibuli judul beraroma mistis...


Saat itu, tahun 2004 di sudut barat Bali, Kabupaten Jembrana. Sore yang berangin itu sangat pas untuk latihan Pramuka. Terdengar tidak nyambung, memang, tapi benar. Sore itu, SMP 1 Negara, Sekolah Standar Nasional, sekaligus Pemenang Lomba Wawasan Wiyata Mandala se-Bali (sombong sekali..) ini baru saja usai melakukan latihan Pramuka. Murid-murid pun berhamburan keluar gerbang sekolah yang sudah lama tidak di cat ulang itu.

Dua anak tengah berjalan pulang, beriringan di atas trotoar. Tak sengaja mereka melewati sebuah toko musik yang sepi. Ini toko baru, lokasinya tepat di samping sekolah kedua anak itu. Dimer Music nama tokonya -kalau tidak salah...- dan, tiba-tiba saja, mereka berdua histeris!!!!


penyebab histeria itu

"Mimih, gagah gati gitar to, Wo!!!!" seru anak yang lebih besar, Gus Anggara namanya, tapi kala itu ia lebih suka dipanggil Agoes (dan kini ia lebih memilih dipanggil "Jebret").
(kalimat diatas dalam bahasa bali, yang artinya, wow keren sekali gitar itu, Wo!!!). Matanya berbinar-binar, seolah inilah benda pertama yang membuatnya terpesona.

Dan, mereka pun memberanikan diri masuk ke dalam sana. Masuk ke toko musik! Bukan main elitnya! Bayangkan, mereka cuma anak SMP di tengah kota kecil sederhana, yang uang saku hariannya dijatah, sehingga hanya cukup untuk membeli semangkuk soto di kantin Bu Sudi yang banting harga. Dan sekarang, mereka masuk ke toko musik. How elite was that? Membanggakan!

"Permisi, Bli....",

"Iya ada apa???", sahut si penjaga. Malas-malasan saja. Mungkin pikirannya berkata: dua anak dekil ini tidak mungkin mampu membeli alat musik. Tipe anak yang membeli baju distro saja hanya di saat menjelang hari raya Galungan, (dan itu sedikit benar!)

"errr.... tokonya baru ya, Bli?", tanya anak yang lebih kecil. Sedikit gagap.
Si penjaga melirik malas, "ho.. oh.."

slash & Les Paul
Si kecil yang ternyata bernama Dewo itu bertanya lagi, "Gitar ini, yang kayak punyanya Slash Gun n Roses ini dijual?" Hmm... Sebuah pertanyaan bodoh, sebenarnya. Tentu saja dijual, idiot! Ini jelas-jelas toko musik!!! Bukan museum patung lilin!

"Itu... gitar bekas...", sahut si penjaga. Mulai nyambung rupanya. "Wah tahu Slash ya! Bener. Itu dah mirip gitar Slash, Les Paul! Bagus barangnya tuh".

"Oh...", kata Agoes, "berapaan harganya, Bli?"

Si penjaga memandangi mereka, satu-satu. "Hmm... satu juta duaratus... dapat kabel orisinil..."

Fyuh... Satu juta dua ratus ribu rupiah di tahun 2004?
* * *


Masalahnya adalah: tidak ada masalah. Dewo, si anak yang lebih kecil itu, baru saja memperoleh uang hadiah suatu perlombaan 800 ribu. Ditambah lagi dana-dana lain, seperti hasil memalak ibu-ibu pedagang yang lewat (just kidding, Dewo anak yang baik). Uang ada, pas malah! Gitar merah cantik itu bisa langsung saja disambarnya pulang dalam satu kedipan mata!

Uang sudah ada...
Namun mengapa dia masih bingung?

Hmm.... selidik punya selidik, mungkin ini yang namanya syndrome orang miskin!


Pernah dengar?
Penyakit ini muncul saat kita akan mengeluarkan uang dalam jumlah besar, jadi merasa sayang sendiri. Kasihan sekali. Untungnya ada teman yang memanas-manasi. Agoes, si anak yang lebih besar, dengan sarkastis mereview kembali kebodohan Dewo dalam mengurusi uang. Seperti:
  1. Membeli sepatu roda (yang disembunyikan di ruang OSIS karena takut dibawa pulang) padahal sama sekali tidak bisa memakainya, hanya terpengaruh tokoh Milo di majalah Bobo untuk gaya-gayaan; 
  2. Hampir membeli nokia 3310, hape sejuta ummat, karena gengsi punya gebetan namun tak punya hape (sementara gebetannya ber-hape kamera), Bahkan mereka sudah berjalan kaki keliling kota negara meliha-lihat konter hape.
  3. dan selusin kebodohan lain.
"Beli tu gitar sekarang, atau uang itu akan lenyap, tak berbekas..." kata Agoes terakhir kali, speechless melihat sang teman kena syndrome orang miskin.


"Baiklah", kata Dewo. Kali ini suaranya BULAT!!!
"Persetan dengan sindrom miskin celaka!"
* * *

Singkat kata, singkat cerita, gitar itu pun dimiliki Dewo, setelah pergi dibeli bersama ayahnya. Bagaimana respon sang ayah melihat sang anak, dengan begitu mudahnya mengucurkan uang 1,2 juta?

Sumringah!
Ayah Dewo malah ikut mencoba beberapa gitar di toko itu.
Untuk ukuran ayah yang mengukir tembok rumah dengan logo lidah mewe Rolling Stones, yang membelikan anaknya poster Gun N Roses diusia kelas 5 SD padahal membaca Bobo saja dilarang, kini melihat anaknya membeli gitar listrik dengan uang sendiri, bagaimana ia bisa tidak senang? Ia adalah ayah paling rock n roll, sedunia!

on stage with the red

Begitulah.
Sejarah kelahiran gitar merah, yang kelak menyandang nama Angelica, Angie, dan lain sebagainya. Tapi itu tidak penting. Apalah arti sebuah nama... Yang penting, gitar merah darah yang beratnya bukan main itu, menemani Dewo dalam saat paling senang, sampai saat paling buruk.

Oya, kawan! Banyak gitaris mengatakan, gitar mereka lebih baik daripada pacar atau istri sekalipun!

Percayalah
...saat itu mereka sedang berkata jujur.



(this is true story of my damn life)
"Tahukah kalian anak-anak, dimana letak Bali itu?" 
"Tauuuu Buuuu....!!!" begitu jawabannya pasti, seperti koor anak sekolah dasar! Tahukah teman-taman bahwa ada tempat bernama Jembrana di dalamnya? Nah para anak SD kini terdiam. Seorang nyletuk, "kabupaten di Jawa Timur ya Bu?". Bukan, geblek! Itu Jember, bukan Jemberana! Aku (merasa) paham betul akan Jembrana ini, karena dari sekian miliar lokasi di planet ibu pertiwi bumi ini, Jembranalah yang aku sebut rumah... :$.
Apa teman-teman tahu, koran Balipost kini tersedia gratis di internet? Kalau belum tahu, syukurlah kamu membuka halaman ini. Kini, jauh dari Bali tetap bisa baca Balipost. Gratis lagi....


Nah, dimana saya bisa melihatnya?
Klik saja epaper.balipost.com, kawan! Langsung menuju halamannya!

Isinya sama nggak dengan Balipost di Bali?
Sama persis! BaliPost digital yang saya akses selama ini selalu
up to date dan sesuai kalender.

Apa saja yang dibutuhkan?
Browser saja, mau Mozilla, Chrome, Safari, semua mau. Tapi saya 
rekomendasikan Mozzila (apalagi versi terbaru). Bali Post Digital ini loading-nya lebih cepat di Mozzila dibanding Chrome sekalipun.



tampilan Balipost digital, bisa dibalik-balik

Apa pdf itu di-download? Malas saya download. Berat, internet saya lelet.
Tidak perlu seperti buka file pdf dengan adobe reader! Kamu akan disuguhi tampilan menawan seperti koran yang berlembar-lembar. Benar-benar menyenangkan!


Nah, selamat membaca dan semoga bermanfaat!
(saya selalu update berita bali, dari balipost digital ini :)
Ada kalanya orang ingin menulis. Menulis apa saja! Bahkan kalau aku ingat, salah satu hal favoritku di bangku SD adalah: MENGARANG! Bukan karena aku pandai dalam hal ini, bukan juga karena bakat yang jelas-jelas nihil :D. Saat menulis karangan anak SD itu, pikiranku bisa bebas melayang-layang! Semacam layangan putus lah, terserah angin meniup-niup si layangan kemana.
Thanks karena sudah berkunjung ke blog sederhana ini. DewaCakrabuana.blogspot.com tentu masih sangat buruk rupa, karena bukan dimiliki oleh seorang webmaster handal yang jago design web.

Jadi, kawan sekalian, kuharapkan ada pandangan dari kawan sekalian untuk semakin memperbaiki blog ini. Ukuran dan jenis font jelek, warna jelek, berat, design kampungan, konten yang tidak jelas, semuanya!!!
"bamboo is so peacefull... "

Silakan tulis sebagai komentar dibawah ini. Keluarga yang baik adalah keluarga yang tidak segan menampar adiknya, kalau adiknya perlu disadarkan... dan sekarang, saya jadi adik yang perlu ditampar....

........ cheers!!!