Hari ini masih pagi. 

Tapi esok hari Nyepi.


Istri dan iparku tengah bercakap. Berdiskusi. Tepatnya berusaha memahami sebuah surat. Seru banget! Tiap menjelang Nyepi, selalu muncul panduan ritual tahunan. Bentuknya edaran file .pdf, berisi instruksi perihal tata cara ritual, jenis banten, hingga mantranya. Lengkap! Ber-kop resmi desa atau otoritas adat lain, tentu dengan predikat di chat Whatsapp yang membuatnya makin kredibel: forwarded many times!


"Banten byekawon dulu, Mbok... baru mecaru..." ujar iparku, sembari komat-kamit membaca file ,pdf di layar iPhone-nya.


Istriku manggut-manggut, "oh iya, memang diawali bersih-bersih dulu gitu nggak sih? Kan byekawon itu pembersihan."


"Iya sih kayaknya... ikutin panduan di surat tadi aja deh Mbok..."


Begitu kira-kira cuplikan percakapan mereka. 


Berhubung ritual bukalah my field of experties, aku memilih melipir, menonton Gustu (adik istriku) yang kewalahan mencetak stiker pesanan. Sembari melihat asap dupa yang membumbung harum, untaian janur yang semarak, ahh... sehari sebelum Nyepi memang selalu berbeda. Magis. 


Tak hanya di dunia nyata, medsos juga sejak beberapa tahun terakhir diwarnai dengan "apa kisah kali ini di ogoh-ogoh Banjar Tainsiat?" Seru. Nyepi banget!


Nyepi ya... 

Hari raya unik di Bali. Saat seluruh dunia merayakan tahun baru dengan ingar-bingar, Bali malah sebaliknya: melarang ada api, kesenangan party, bepergian, dan bekerja. Ngapain donk? Yha ndak ada. Merenung aja.


Sisi lainnya, Nyepi bak kado kecil untuk bumi. Di dunia kapitalistik yang menuhankan pertumbuhan, kado ini amat langka: istirahatkan segala mesin peradaban. Sehari penuh, demi bumi. 


Indah memang. Tapi buatku, Nyepi selalu mengingatkanku pada Niang. Itu adalah panggilan untuk nenek kesayanganku, berhubung aku memang tak punya kesempatan mengenal kakek-nenek kandung lain, selain Beliau. Darinya, aku mendapat sepenggal kecil kisah perihal Nyepi. Kisah saat Niang masih remaja. Tujuh puluh tahunan lalu...

*  *  *


Ada satu fragmen ingatan Niang yang selalu membuatku tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Di medio 1950-an, ketika republik ini masih bau kencur dan identitas keagamaan sedang giat-giatnya dipermak oleh birokrasi, umat Hindu di Bali dikenalkan hal baru: ritual tidak melakukan apa-apa! Ritual dengan tidak melakukan ritual.


Bagaimana tidak?

Berhubung Republik Indonesia baru saja mengikrarkan diri sebagai negara dengan "Ketuhanan Yang Maha Esa", Bali perlu merumuskan (atau memutuskan) dirinya tergolong penghayat kepercayaan, atau agama, atau apa. Kan beda banget dengan Hindu India. Dengan mengategorikan diri sebagai Agama Hindu, muncul konsekuensi untuk memenuhi check-list ciri-ciri agama agar diakui di Indonesia yakni: punya kitab suci, pembawa pesan, doa harian (halooo Tri Sandya), dan tentu hari besar keagamaan.


Kata Niang, awal-awal kemerdekaan silam, Nyepi di Bali ternyata punya wajah yang jauh dari kata "hening".


"Dulu apa pengarahan, katanya ndak boleh nyakan (menanak nasi) di rumah. Ya jadinya warga desa masaknya di gang depan rumah," kisah Niang sambil terkekeh. 


Niang dengan Jungwah: cicitnya


Logika Niang dan handai taulan desa kala itu amat sederhana: Amati Geni, kan pantang menyalakan api di rumah. Tapi manusia Bali punya sejuta akal untuk bernegosiasi dengan semesta. Apalagi sekadar dengan ritus. Kalau di dapur dilarang, ya sudah, tungkunya kita gotong ke gang depan rumah! Maka terjadilah paradoks itu: rumah-rumah mencoba sunyi, namun di jalanan desa, asap mengepul. Terselip gelak tawa warga di depan arang kayu bakar yang masih berpendar.


Nakal? Mungkin. 

Lugu? Pastinya!


Tapi di sana aku melihat satu hal yang kian samar (kalau ndak mau dibilang memudar) dari pergaulan adat di Bali hari ini: fleksibilitas, sejak dalam pikiran.


Kita perlu jujur pada sejarah. 


Nyepi yang seragam dan dikondisikan sunyi total ini sebenarnya barang baru. Secara formal, ia digalakkan secara masif baru di awal republik berdiri. Para intelektual Hindu saat itu harus berjibaku meyakinkan Jakarta, bahwa Hindu Bali itu agama sah, bukan "kepercayaan" yang tak punya hari raya dan ciri-ciri agama resmi agar diakui di Indonesia. Sebuah perjuangan yang berat, mengingat Hindu di India begitu berbeda dengan Bali. Standardisasi pun dilakukan, protokol disusun, dan tiba-tiba ritual yang tadinya sangat local genius di tiap desa, harus dipampang dalam satu aturan main yang pakem.


Semua itu buah karya cipta, rasa, dan karsa manusia, berdasar sari pengetahuan agama, dipadu kearifan lokal yang telah mengakar.


Tak jauh beda dengan ogoh-ogoh, sebenarnya. 


Ogoh-ogoh jauh lebih muda dari Nyepi. Dia baru muncul nan populer di era 80-an sebagai bentuk ekspresi kreatif. Namun serunya, tradisi yang "lahir muda" itu kini terkesan jadi pilarnya hari Nyepi. Pokoknya Nyepi harus ada ogoh-ogoh, baru kerasa! Lihat saja, hiruk-pikuk saling sindir perkara kehadiran pemuda di balai banjar untuk gotong royong membuat ogoh-ogoh, tak pernah sepi mewarnai lini masa tiap menjelang Nyepi.


Kerennya mekanika robotik, tarian fragmen pementasan ogoh-ogoh, paparan media sosial hingga hadiah bergelimang, sering membuat kita seolah lupa bahwa tujuan asli ogoh-ogoh adalah simbol dimusnahkannya Bhuta Kala, perlambang sifat negatif yang bersemayam di hati kita. Sebaliknya, tak jarang adu gengsi, sindir-menyindir intra dan inter banjar dalam ritus Nyepi menjadi bahan bakar yang justru memantik sifat-sifat negatif. Sifat-sifat Bhuta Kala itu sendiri.


Paradox. Hmm...

*  *  *


Buatku, Hindu Bali itu, tak ubahnya organisme yang hidup. Ia tumbuh dan bernapas. Jika ia kaku seperti beton, sudah pasti ia patah, diterjang gelombang pariwisata sejak era 70-an. Tapi Bali bertahan justru karena sifatnya yang seperti bambu: melengkung mengikuti angin, dengan begitu ia tak mudah tumbang.


Bukankah tradisi adalah buah karya pikiran manusia melalui masyarakat? Seperti halnya selebaran ritual hingga ogoh-ogoh. 

Karya manusia, dengan cipta, rasa, dan karsa. 


Tradisi itu bukan barang museum yang dipajang di balik kaca dan tidak boleh disentuh. Saklek nan kaku. Tradisi itu seperti masakan Niang: bumbunya bisa berubah mengikuti musim, tapi rasa persaudaraannya tetap harus jadi bahan utama. Demi cinta kita pada tradisi Hindu Bali yang kaya, demi tetap hidupnya ia di generasi-generasi berikutnya.


Kenalkan esensinya, di balik ritusnya.

Wariskan apinya, bukan sekadar abunya.

*  *  *


Neil deGrasse Tyson, ilmuwan masyur nyentrik di dunia itu pernah berujar, 

"The day we stop exploring is the day we commit ourselves to live in a stagnant world, devoid of curiosity, empty of dreams. And that is the day a civilization begins to die."


Ia juga sering mengisahkan, bahwa ribuan peradaban telah hilang tergerus zaman. Megahnya masyarakat piramida Mesir, indahnya Yunani, bahkan gagahnya Majapahit dan Sriwijaya pun kalah oleh mantra sakti peradaban: perubahan.


"Peradaban Bali apa kabar?" gumamku dalam hati.


Masih banyak pertanyaan yang berputar, namun, ah... sudah pukul dua subuh.

Saatnya mematikan lampu-lampu rumah. Esok kan Nyepi.


Anyway... Nyepi tahun ini membuatku ingin memajang foto Niang. Agar abadi di blog ini, lah. Bila alam afterlife beneran layaknya film Coco, maka Niang takkan pernah sedih karena potret wajahnya abadi di dunia maya.


Selain itu, Nyepi tahun ini kok  mengingatkanku jua: agar merayakan Nyepi dengan kesadaran bahwa "diam" itu penting, tapi "luwes" itu jauh lebih menyelamatkan. 


Jangan sampai demi menjaga kesucian hari raya, kita malah kehilangan kemanusiaan kita yang paling mendasar: ruang untuk berdialog, mempertanyakan, berdialektik dengan zaman. Tentu dengan tanpa harus saling memicingkan mata curiga, apalagi meninggikan nada bicara.