Ada secarik kertas bertuliskan spidol warna-warni yang menempel di tembok kamar kost ku...
Kertas kenangan, berisi coretan kesan teman-teman sesama penghuni kelas 2A.

"Pelawak, jago main gitar, jambul..."
"Konyol abisss...!!!"
"Dewa orangnya pinter ngelucu... seneng deh selalu...."
...
hmmm....
seneng deh selalu?

Terima kasih teman sekelas, :) 
I hope so...
but I don't!

Sejak dulu, aku lebih suka menyendiri. Kalau pergi pun ku lebih suka tidak ditemani, sejak dulu.

Masa SMA sering kuhabiskan dengan memandangi musik. Ya, bagian "memandangi musik" itu bukan salah ketik, memang benar-benar memandangi. Sambil musik mengalir di speaker Simbadda, ku pandangi visualisation yang mengawang di layar Windows Media Player. Visualisation itu semacam gerakan abstrak di layar saat memutar lagu melalui WMP.

Memandangi gerakannya yang aneh!

Gerakannya abstrak, selalu berubah namun mengalir mengikuti irama musik. Itu bisa membuatku hanyut, tertarik sejenak dari realita. Tenggelam bersama musik yang terdengar oleh telinga, tenggelam pada visualisation Windows Media Player yang seperti menghipnotis.

Dan aku memang terhipnotis!

Aku pun menjadi orang murung, yang wajahnya selalu kelihatan memikirkan sesuatu yang menyedihkan. Itulah wajah asliku, wajah yang muncul saat aku menikmati kesendirian. Sayangnya wajah itu selalu hilang, berganti topeng ceria saat berhadapan dengan orang lain. Topeng, sekali lagi: itu hanya topeng!

Bukan, aku bukan orang ceria!
Bukan berarti juga kalau aku butuh dunia memperhatikannku saat aku diam dan murung...

Aku hanya orang yang suka kesendirian, untuk hanyut dalam musik dan lari dari dunia yang menjemukan ini...


dan lagu ini punya kekuatan itu... punya kekuatan visualisation Windows Media Player jaman SMA ku. Kekuatan untuk membuatku terpaku, dan kehilangan kesadaran selama memandanginya.

Musiknya mengalir, suara vokal mengiris, melody gitar menusuk, dan video klipnya menarikku ke mimpi tergelapku. Aku tau, video ini tak nyambung dengan makna lagunya. Hellyeah, bahkan ku tak paham lagunya. Ini kan bahasa Jepang!

Tapi itulah musik, universal, menembus batas bahasa dan warna kulit.

ah....

aku rindu!
aku rindu diriku yang dulu, manusia yang mencintai musik,,, sepenuh hati. Entah dimana dia sekarang!

Hmm...
Bukan hal yang luarbiasa, kan?
Everybody need time on their own sometimes... and I just need it now.

JRX, drummer Superman is Dead, aktifis kemanusiaan, sekaligus owner Twice Bar (tempat ziarah tiap anak punk bila berkunjung ke Bali) itu pernah membuat sebuah notes facebook. Apa isinya? Isinya tentang sepuluh lagu yang paling menginspirasi hidupnya.

Nah, lagu ini, When the Angels Sing termasuk di notes itu.

And here we go...

Hari itu masih pagi!

Sebagaimana pasar umumnya, di mana para pedagang baru membuka kios dan menata dagangan secantik mungkin. Seorang ibu yang kelihatannya sudah usai membuka kios kini duduk, lelah. 

Ibu ini sedang hamil tujuh bulan. "Masih dua bulan lebih sepuluh hari," begitu mungkin batinnya sehingga tetap berdagang di hari itu, lagi pula perutnya tidak terlalu menggelembung. Di sekitarnya ada ratusan pedagang pasar sederhana Kota Negara, Jembrana yang melaksanakan rutinitas pagi mereka. Yah, another day di sebuah pasar yang bisa terjadi di mana saja.

Tapi ternyata itu bukan hari biasa!

Ibu itu merasa ada yang mengalir dari rahimnya, semacam cairan. Dia sedikit penasaran dan khawatir. "Ada apa ini?!" Ia lalu bergegas pergi ke kios jual emas saudaranya satu-satunya yang masih hidup, yang letaknya sekitar 500 meter di barat dengan niat menanyakan fenomena mengalir ini.

Sampai di sana, saudara si ibu, sebut saja ia si Emak Dagang Emas (EDS) sedang melayani pembeli. Ibu itu langsung bertanya,

"Mbok, ini kok ada air mengalir ya? Dari rahim deh rasanya."
Si pembeli menoleh sebentar, "oh, itu namanya air ketuban, Bu!"
"Ooh, air ketuban ya! Saya kira air apa (air apa lagi memangnya?!). Kok bisa begini ya, Bu?"

Si pembeli menoleh lagi sekilas, "kalau air ketubannya habis, nanti bayinya bisa meninggal, loh" sahut ibu itu, sambil asik memilih perhiasan di rak kaca.

Santai sekali rupanya si pembeli. Gawat sedikit donk! Ini kan masalah hidup matinya si cambang bayi, jadi seharusnya ibu itu bertingkah sedikit heboh, misalnya menjerit atau histeris.

Singkat cerita, akhirnya ibu itu segera dilarikan ke UGD dan di operasi caesar agar si bayi tidak keburu mati tercekik dalam perut. Bayi selamat, ibunya selamat, dan ibu-ibu belanja itu hilang begitu saja… Padahal si ibu hamil yang nyaris meninggal ini ingin mengiriminya bunga sebagai ungkapan terima kasih.
*  *  *

Nah…
Cerita diatas itu nonfiksi, alias benar-benar terjadi!

Ibu pedagang hamil yang lugu itu ibuku, dagang emas itu memang saudaranya, dan bayi yang selamat last minutes sebelum mati tercekik karena kehabisan air ketuban itu AKU!

Ya, itu adalah cerita bagaimana aku dilahirkan dan ini terjadi 21 tahun yang lalu di Pasar Umum Kota Negara, hari rabu, budha umanis dukut, jam sepuluh pagi. Karena prematur, berat badanku minim, "hanya sebesar botol teh sosro dan berwarna merah,"  kata ayah (dan dia bersumpah ini bukan mengada-ada)

Hmm… makhluk prematur, berat dibawah standar tapi berwarna merah menyala, aku memperkirakan diriku kala itu seperti Hell Boy, tapi dalam versi ceking.
sebesar sosro, semerah hellboy

Dua satu…
tak terbayangkan aku sudah setua itu!

Tahukah kamu, bagi orang Australia perayaan di umur ini lebih meriah daripada perayaan 17 tahun karena di usia 21 inilah manusia memasuki fase penting dalam hidupnya: meninggalkan gemerlap dan huru-hara usia belasan. Ingat bagaimana hingar bingar masa sekolahan dan kuliahan, pasti berwarna sekali.

Bagaimana dengan 21 ke atas?
Hmm… 

Di usia ini akan ada acara wisuda, akan ada kerja. Di usia ini meja sekolah akan berubah menjadi meja kerja, teman sepermainan berubah menjadi teman sepekerjaan, dan bolehkah bekerja dengan rambut setengah mohawk (well, ini benar-benar menghantuiku).

Bagiku yang masih suka membaca komik Sinchan sambil bertelanjang dada, menonton siaran kartun tiap minggu pagi, ribut-ribut nggak jelas dengan teman se ganknya, akan berkata, "hah? Sudah waktunya kah?"

Damn right, memang sudah waktunya.

Kini, bayi merah sebotol teh sosro ini sudah besar, 21 tahun kini. Bahagiakah aku? Anehnya... aku malah merasa sedikit galau...

Mungkin hal itu pula yang Sheila on 7 rasakan saat menulis lagu “Jalan Terus”. Lirik lagu sepertinya suara hati mereka untuk melukiskan usia band yang kian bertambah, seiring dengan masalah dan tantangan yang juga bertambah.

Intro "Jalan Terus", by SO7:
Hidup memang tak semudah…
Waktu kita muda dulu…
Panas dingin tak bisa diterka…
Hmm...
Sepertinya ulang tahun yang ceria memang hanya monopoli anak SD.

Akhirnya orang yang bertambah usianya akan menyadari bahwa itu berbanding lurus dengan masalah dan tantangan hidup mereka. Mungkin ini alasan bayi yang baru lahir menangis: mereka harus jadi manusia dan menjalani hidup ini, life for struggle! Anak TK dan SD bisa saja asal berkata mereka akan jadi astronot atau presiden, tapi realita mereka akan semakin ada seiring dengan semakin banyaknya lilin di kue ulang tahunnya. 

Lebih realistis!

Dan lilin di kue ulang tahun ku sekarang 21!
Mari seperti Sheila on 7! Setelah mengeluhkan tentang betapa beratnya hidup di awal lirik lagu buatan mereka diatas, mereka melanjutkannya dengan reff bahwa mereka akan tetap semangat menghadapinya:

reff "Jalan Terus", by SO7:
Tapi apapun yang terjadi…
Akan ku jalani…
Akan ku hadapi…
Dengan segenap hati…

Walau ku terluka…
Memang ku terluka…
Tak pernah ku lari…
DARI SEMUA INI!!!

selamat ulang tahun, Dewa Made Cakrabuana Aristokra...
keep ur smile in ur face!
 :) 
Sebagian orang bilang, hidup adalah sebuah perjalanan. Ada etape-etapenya. Tentu, di setiap etape membawa ceritanya sendiri.

Sebagian ada juga yang bilang, hidup itu sepert sebuah buku. Nah ini aku suka kiasan macem ini. Kubayangkan bahwa hidup setiap orang itu layaknya buku. Lalu, bukunya tentang apa?

Tentu berbeda-beda.
Ada buku yang bab-babnya berkisah tentang travelling. Ada buku bab-babnya bercerita tentang musik, atau masak. Ada juga tentang kesedihan atau keriangan. Apapun itu, buku tiap orang pasti punya tema yang sama: perjuangan meraih kemenangan.

Nah.
Sudah sampai di akhir suatu bab. Kira-kira, titelnya "Bab XI: Cerita di 2018". Ada cerita apa saja tahun ini?



2018 diawali dengan Aji yang menjalani operasi batu ginjal. Kids, kalian setidaknya memetik dua hal menarik di sini.
Pertama, banyaklah minum air putih. Kedua, bayarlah BPJS. Gemetar tanganku saat meneken slip bayar rumah sakit puluhan juta, yang syukurlah sepenuhnya dibayar BPJS.

Oiya. Malam itu, sambil menunggu Aji, kupesan makanan favoritku sepanjang masa: beef burger McD, kentang goreng, dan cola kecil. Biasa kusebut "paket beef burger" pada mba kasir McD.

Sembari kulahap hidangan surgawi ini, Aji memperhatikan.
"Apa itu, De..." ujarnya sembari memainkan selang infus.
"Burger ji..." jawabku sekenanya.
Aji berujar, "Beliin apa Aji burger, biar pernah makan kayak itu."

Aku terkekeh.
"Esok ya Ji, kan malam ini ga boleh makan selain bubur rumah sakit pathetic tanpa rasa itu."

Esoknya apakah McD pas untuk ayahandaku? Tentu tidak. Ia harus mendapat burger yang kickass.


Dan ia bahagia.
Aku? Apalagi!

Selanjutnya? Bermusik, bernyanyi, berkenalan, berkolaborasi.


Bernyanyi bersama beberapa kantor wilayah, direktur jenderal pajak hingga staf ahli tentu menyenangkan. Tapi lebih menyenangkan menyaksikan wajah bahagia atasan-atasan langsung kami, yang tegang sepanjang acara.


Hingga bermain musik ke surabaya. Well... musik itu amat menyenangkan.


Selanjutnya bermusik dalam bentuk tradisional. Bahkan aku ikut menyanyikan pujian untuk Yesus di gereja. Menyenangkan.


Lanjut menikmati mentari terbit dengan beberapa sahabat, di gunung nan dingin. Mungkin ini salah satu hal paling indah yang pernah kusaksikan, di tahun ini.


(Bagi yang belum baca part 1, klik di sini)

Dulu, orde baru sangat anti PKI, walau hanya sekadar membicarakannya saja. Aku sempat menanyai ibuku mengenai hal itu (beliau menjadi saksi pembantaian kala itu, live!). Ia selalu berbisik, dan mukanya mendadak tegang, "Ndak boleh ngomongin itu, De! Nanti didenger orang dan nggak selamat."

Nah! Kita tahu bahwa kebebasan bicara dan berpendapat di Orde Baru memang sangat mahal. Bahkan kadang harganya adalah nyawa.

Tapi itu dulu!
Kini arus informasi tentang PKI (dengan Aidit sebagai ketuanya) bebas terbuka. Dua saudara Aidit, Sobron dan Murad, membuat buku tentang Aidit, dan beredar bebas setelah reformasi. Sobron menulis buku Aidit: Abang, Sahabat dan Guru di Masa Pergolakan (2003), sedangkan Murad menulis Aidit Sang Legenda (2005).


Dari cerita Murad, kita dapat mengetahui bahwa revolusi pertama Aidit adalah mengganti namanya sendiri, dari Achmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Disebutkan bahwa pada usia 17 tahun, Aidit meminta pada ayahnya agar diizinkan mengganti nama.

Ini kisah Murad lebih panjang:

"Di zaman pendudukan Jepang, hubungan antara kami di Jakarta dengan keluarga di Belitung putus sama sekali. Kiriman ayah untuk membayar kos pun tak dapat diharapkan lagi. Pada waktu itu Bang Amat atau Achmad Aidit sudah mengganti namanya menjadi Dipo Nusantara Aidit. Penggantian nama pada masa itu tidak dapat dilakukan sesederhana sekarang. Jika ketahuan seseorang telah mengganti namanya dianggap sebagai tindak kejahatan beresiko berat.

"Disambut Mao Zedong dalam kujungan ke Tiongkok"  

"Sebelum Jepang datang, surat menyurat antara Ayah dengan Bang Amat perihal perubahan nama ini cukup ramai. Masalahnya nama Bang Amat tercatat dalam daftar gaji Ayah sebagai Achmad. Apabila ketahuan tak ada lagi yang bernama Achmad maka ini akan ditindak sebagai kejahatan yang cukup merepotkan.

"Akhirnya diputuskan nama baru itu baru digunakan jika telah memperoleh pengesahan dari Burgerlijke Stan (catatan sipil). Bang Amat sudah merasakan bahwa lapangan politik yang dipilihnya mengandung resiko tinggi, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Itu sebab dia bersikeras mengganti namanya dari Achmad menjadi D.N. Aidit, untuk sedikit melindungi keluarganya.


Lantas mengapa Dipa dan mengapa Nusantara?

Dalam kajian "Aidit dan Partai Pada Tahun 1950", yang terlampir pada buku Sobron, Jacques Leclerc mengungkap hasil penelitiannya:

"Di Tanjung Pandan, Achmad bersekolah di Holland Indlansche School. Kemudian, atas permintaannya sendiri kepada ayahnya, dia diantar pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, ia bersekolah di Sekolah Dagang Menengah (Handles School).

Nah,
Di sinilah dia terjun ke pergerakan pemuda hingga memperoleh kesempatan berhubungan dengan Barisan Pemuda Gerindo yang dipimpin Wikana, Ismail Widjaja, A.M. Hanafi dan lain-lain, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang diketuai Chaerul Saleh. Waktu itu, dia meminta ayahnya untuk menyetujui pengubahan namanya menjadi Dipa Nusantara, dengan tetap mencantumka nama ayahnya.

"Permintaan itu dikabulkan!

Nama Dipa Nusantara itu untuk menghormati perjuangan pahlawan Diponegoro dan agar memberi inspirasi kepada Aidit dalam usahanya membebaskan Nusantara. Mengubah nama atau memilih gelar yang mengandung arti politik sudah agak biasa di kalangan pemuda nasionalis.

Misalnya ada A.M. Hanafi diberi gelar Anak Marhaen. Mah. Yamin diberi gelar Mahaputera Yamin oleh Soekarno, karena pemikiran dan jasanya. Mahaputera itu sebuah gelar, sebagaimana gelar Mahatma di India untuk Mahatma Gandhi.

Jadi, penggantian nama sudah biasa bagi para aktivis revolusioner, tetapi justru karena itu keseriusan Aidit meminta izin ayahnya sama sekali tidak biasa. Artinya luar biasa, karena menunjukkan perilaku santun, yang tidak terbayangkan jika segenap demonisasi terhadap Aidit wajib dipercaya.

Menurut anda, bagaimana pribadi seorang Aidit?

* * *
(diketik ulang dengan pengubahan seadanya seperlunya)
Ini kisah menarik! Disadur dari Majalah Intisari 😉


Pembunuhan karakter dalam dunia politik itu lumrah. Dalam hal itu, ada metode yang disebut demonisasi alias Pengiblisan. Jangan heran, siapapun orang yang terlibat di dunia politik, apalagi dengan sengaja terjun ke politik praktis, jadi partisan partai ataupun politisi non-partai, siap-siap saja lah! Disamping berpeluang dielu-elukan massa di stadion saat kampanye, siap-siap pula mengalami pengiblisan. Sayangnya, cap iblis ini melekat dari masih hidup, maupun sesudah mati!


Mengada-ada?
Tidak! Tengok saja sang sejarah.

Seperti Soekarno, Soeharto, maupun Winasa (yeah), Aidit juga sebuah nama yang dalam gelombang sejarah sempat terlambung tinggi sebelum terhempas. Setidaknya, itu sampai sejarah mengadilkannya.
* * *

Sajak tak butuh bakat?
Pada masa Orde Baru, setiap bulan September, tepatnya setiap tanggal 30, diputar film Penghianatan G30S/PKI sebagai proyek politik semacam itu. Namun setelah reformasi '98, film ini mendadak hilang, dan informasi baru tentang masa lalu kelam Indonesia itu muncul di mana-mana. Termasuk tentang sosok Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia.

"Ia sangat muda, kala itu..."
Ini cerita dari Amarzan Loebis yang pernah menjadi redaktur Harian Rakjat dan mengenal Aidit. Kata beliau, kesuksesan sebagai Ketua PKI dan menteri sejak umur 30-an, telah membentuk sikap dan kepribadian seorang Aidit.

"Aidit adalah sosok, yang pertama kali melihatnya, kita tidak ingin menjadi dekat," katanya. Tuntutan atas kewibawaan sebagai pemimpin partai komunis yang tergolong besar (bahkan dibandingkan partai komunis lain di dunia), telah membuat Aidit seperti merasa harus menjaga jarak, dengan siapa pun, "Ini tidak terjadi dengan pemimpin PKI lain seperti Nyoto." Dalam pergaulan sehari-hari, Aidit selalu memperlihatkan sikap bahwa dirinya harus didengar, dituruti, dan dipercaya.

Amarzan pertama kali menginjak Jakarta tahun 1936 dari Medan karena memenangkan lomba puisi dalam rangka peringatan Karl Marx, dan diserahi hadiah langsung oleh Aidit. Sejak itu Amarzan menjadi redaktur Harian Rakyat dan mereka saling kenal. Sehingga ia punya cerita tersendiri tentang Aidit.

"Waktu itu saya menjadi redaktur edisi Minggu dari Harian Rakjat, yang mengurusi bagian sastra. Aidit mengirimkan sekitar lima sajak, yang tidak saya muat. Pada Sabtu malam, sebelum naik cetak, Aidit menelepon saya di kantor.
'Sajak-sajak saya saya dimuat 'kan?' Aidit bertanya. 
'Tidak, Bung,' jawab saya. 
'Kenapa tidak?' Aidit bertanya lagi. 

Karena masa itu percakapan telepon belum sejernih sekarang, saya katakan kepadanya, 'Kalau kita bisa bertemu, saya akan jelaskan alasannya.' 
Setelah itu telepon dibanting."

Sebenarnya bukan masalah apa-apa, sajak itu tidak dimuat. Amarzan hanya tidak enak kalau sajak itu sampai dibaca publik. Bukan hanya akan merendahkan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), tapi juga akan merendahkan puisi itu sendiri. Namun sejak kisah itu, katanya...
"Aidit kalau melihat saya lantas buang muka."


Semangat kerakyatan dan sepeda
Aidit dan Bung Karno
Bagi Aidit yang pemimpin partai komunis, menulis sajak memang tradisi yang tampaknya berlaku bagi pemimpin-pemimpin partai komunis. Mao Zedong, Leonid Brezhnev, semua menulis sajak.

Sastra mendapat perhatian dalam sudut pandang ideologi komunis.

Dalam pidatonya, Aidit menekankan betapa sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat, dan bukan masyarakat feodal. Jelas yang diserangnya adalah seni "adiluhung" canggih, yang perlu "kapital budaya" tertentu untuk sekedar menikmatinya. Semacam seni-seni opera untuk kaum-kaum elit itu lah.

Namun, benarkah menulis sajak untuk rakyat, lantas tidak memerlukan bakat?

"Meskipun sajak-sajak Lekra adalah sajak poster (seperti yang ditulis Aidit itu), tetapi penyair seperti Agam Wispi atau Bandaharo berhasil menuliskannya secara lain," kata Amarzan. Agaknya bukan semangat kerakyatan lah masalah Aidit, melainkan bakat, karena dalam hal semangat, Amarzan punya cerita lain.

Ketika Aidit menjadi menteri dan mendapat fasilitas mobil, pengawal, dan lain-lain, datanglah putri pertamanya, Iba, dari Moskow, yang masih belasan tahun. Putri yang lebih banyak tinggal di luar negeri itu ingin jalan-jalan keliling Jakarta menggunakan mobil tersebut. Namun Aidit berkata pada putrinya, 

"Kamu mau menggunakan mobil yang dibiayai oleh negara dari uang rakyat ini untuk keliling Jakarta? Kamu boleh keliling Jakarta dan kuberi pengawal pribadi, tapi naik bus."

"Mereka pun naik bus," kenang Amarzan, "Itu saya tahu. Besoknya, ketika Iba ingin pergi ke Gedung Pemuda di Menteng Untuk bertemu teman-temannya, fasilitas yang diberikan ayahnya hanyalah sepeda."

(update bagian II klik di sini)
* * *
(diketik ulang dengan pengubahan seadanya seperlunya)

Kisah Selanjutnya:

Nama Aidit sebenarnya bukan D.N. Aidit! Siapa namanya sebenarnya?
Mengapa ia mengubahnya?
Benarkah komunis sosialis orang jahat? 
Apakah seorang Aidit mencintai Indonesia?
...

Kawan!
inilah saatnya kita menerima informasi secara berimbang dan stereo. Tidak dicekoki searah saja! Sejak SD kita diarahkan memiliki pandangan sepihak pada PKI, Aidit, dan sebagainya melalui pelajaran sekolah, larangan bicara, sampai film. Mengapa di usia dini? Agar doktrin tertanam kuat-kah?
;) who knows?

INI BUKAN MALAM BIASA!

Tepat pada detik ini,
masyarakat Pulau Bali sedang merasakan sesuatu...
Merasakan sebuah sensasi + energi.

Sensasi ambience, suasana yang super spesial.
Di mana-mana bunyi penggorengan beradu dengan sutil, anak-anak, orang tua, semua pulang kampung! Berkumpul, bersama keluarga (yang jarang ditemui), merayakan hari besar Hindu.

Ow yeah!
Hari terbesar! Nyepi-kah?
Bukan! Karena hanya di hari besok lah (selain di hari ulangtahunnya) anak kecil akan merengek, minta dibelikan baju baru. Dan belinya di Hardys, bukan pasar senggol.

Karena besok adalah: GALUNGAN.
Hari raya, betul-betul raya. Paling hari raya dibanding hari raya Bali lainnya.


dan petang ini, 7:15 PM, 7 Desember 2010 adalah malam sebelum Galungan.
Sounds like: A Night Before Christmas, ya?


Tak ada yang bisa mengalahkan sensasi malam-sebelum-Galungan bersama keluarga. Tak ada!
On this day, I should be with my famz!
***

Tapi itu mimpi yang sempurna, seperti lagu Peterpan (halo Ariel? We miss u!)
Mari kembali ke realita,
Karena besok, adalah ujian penyidikan pajak, dengan dosen Mister Sam!
(nama aslinya Pak Samingun)
Dan bagi Jakarta, tidak ada Galungan, tidak ada liburan,
malah ada ujian.

Jakarta is a mistake.

Rahajeng Galungan, Dewa Made Cakrabuana Aristokra!
Kau datang ribuan kilometer, tidak merayakan galungan, dan memakan ayam malam ini,
karena sebuah alasan!

Memang manusia suka cari-cari alasan.


weird post?
Yeah, saya sedang tidak dalam mood hidup
(menyetel lagu metal, dan membaca slide Mister Sam)

UPDATE!!! 
  • Ujian berjalan terlalu lancar (sama persis kisi-kisi. Yes, I said: PERSIS!!!)
  • Kejadian di atas ku juluki: bentuk-kompensasi-tiadanya-libur-tentatif -galungan-di-luar-bali-dan-sialnya-lagi-STAN-malah-ujian event. Fyuh...sebuah nama yang panjang?
  • Putu Gian Aryanti memanas-manasi saya melalui artikel blog barunya: Blueberry Rocky (bisa klik disini) dan artikelnya yang.... yah, sudahlah! (artikelnya bisa klik disitu). Find my name there... haha!

Galungan di tanah orang can be fun?
I think so :)